
"Bukan begitu maksudku, Jess. Dengarkan aku dulu."
"Kau malu dekat denganku? Apa begitu maksudmu?"
"Tentu saja bukan. Maafkan aku, sudah jangan dibahas lagi," Theo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalau kau malu cukup bersikap kita tidak pernah dekat, hanya sebatas bawahan dan atasan saja ditempat kerja," Jessi mencoba menghubungi ponsel Rin tapi tidak diangkat juga.
"Dasar keras kepala, berhenti berpikiran macam-macam. Aku tidak mau bertengkar denganmu," Theo mengulurkan tangan untuk mengelus rambut Jessi, namun sayangnya Jessi menghindar.
"Aku turun disini saja. Rin akan menjemputku."
"Kita akan ke rumah sakit, diamlah!" Theo menyadari satu hal sepertinya Jessi adalah orang yang sangat mudah tersinggung dan ngambekan.
Sepanjang perjalanan Jessi benar-benar menjadi diam. Ia tidak mengucap sepatah katapun. Theo menjadi serba salah sendiri. Dasar perempuan!
***
Sesampainya di rumah sakit, Jessi segera diperiksa oleh dokter. Semua luka sudah dipasangi plester kecil. Dalam jangka waktu 3 hari lukanya akan sembuh, begitu penjelasan dokter.
Jessi berjalan mendahului Theo dengan langkah tertatih-tatih. Theo ingin membantunya berjalan, tapi Jessi enggan.
"Ayo, kubantu berjalan. Tenaga mu belum pulih benar, Jess," Theo melangkah mendekati Jessi.
"Tidak perlu! Aku bisa sendiri."
"Kau masih kesal padaku? Ayolah, Jess, aku kan sudah minta maaf tadi," Theo menjadi gemas sendiri menghadapi Jessi yang masih ngambek padanya.
"Ku antar kau pulang. Masuklah," Theo membukakan pintu mobil untuk Jessi.
"Aku akan pulang sendiri, tidak usah mengantarku," Jessi berdiri di seberang jalan raya berusaha menemukan taksi yang akan membawanya pulang ke rumah.
"Kau ini kenapa? Aku bantu jalan tidak mau, aku antar pulang tidak mau juga. Aku kan sudah minta maaf!" Theo tidak paham jalan pikiran Jessi sekarang.
"Kau tidak perlu melakukan ini itu untukku. Perhatikan posisimu!" Jessi pergi menaiki taksi tanpa menoleh sedikitpun kepada Theo.
"Hah, lagi-lagi posisi. Dasar tukang ngambek, aku akan minta maaf lagi padanya besok," gumam Theo. Sebuah senyum samar terukir di bibir Theo.
***
"Ya Tuhan, apa yang terjadi? Kenapa tubuhmu penuh dengan luka?" tanya Ibu sambil memeriksa setiap jengkal tubuh Jessi.
"Aku tidak apa-apa, Bu. Aku akan istirahat dulu," Jessi buru-buru memasuki kamarnya. Ia butuh tidur, tubuhnya serasa hancur remuk redam. Persendiannya sakit semua.
"Garaa akan bertunangan dengan perempuan lain, berkelahi dengan pegawai perempuan di kantor, dan bertengkar dengan Theo. Hari yang rumit," batin Jessi.
Getar ponsel membangunkan Jessi dari tidurnya. Dilihatnya notifikasi dilayar ponsel terdapat satu panggilan tak terjawab dari Theo, satu pesan dari Rin dan satu kiriman foto dari Garaa. Sedikit penasaran Garaa mengiriminya foto apa, tapi tetap diabaikannya isi pesan tersebut.
Keesokan paginya, Jessi menaiki angkutan umum saat berangkat ke kantor. Tangannya sibuk bermain ponsel, ah dia teringat pesan yang semalam belum dibuka. Dibacanya semua satu persatu.
"Jess, kau baik-baik saja? Aku baru mendengar kabar kalau kau berkelahi dengan pegawai dikantor. Aku mengkhawatirkan mu."
Jessi tersenyum kecil membaca pesan dari Rin. Rin memang teman terbaiknya.
Garaa mengirim sebuah foto Jessi yang sedang fokus dengan ponselnya yang diambil secara diam-diam oleh Garaa. Ada pesan dibawah foto tersebut.
"Aku merindukanmu."
Jessi menatap datar layar ponselnya. Jessi langsung menghapus pesan dari Garaa tanpa berniat membalasnya terlebih dahulu. Ia tidak mau dianggap menjadi perusak hubungan orang.
***
"Aku tidak apa-apa, Rin. Tenanglah, aku sudah tidur semalam."
"Seharusnya aku ikut membantumu kemarin. Ingin rasanya aku merobek mulut mereka yang tidak punya sopan santun itu!" Rin mengepalkan kedua tangannya geram.
"Hahaha, kau memang terbaik," Jessi memberikan jempol untuk Rin.
"Nona Jessi, Tuan Theo memanggilmu ke ruangannya sekarang," ucap salah seorang pegawai diambang pintu ruangan Jessi.
"Baiklah. Aku akan segera kesana."
"Ada apa, Jess? Apa Theo tahu soal perkelahian kemarin?" tanya Rin dengan nada cemas.
"Theo kemarin memergoki kami dan dia bilang kalau sekarang kami semua harus menghadap ke ruangannya," Jessi berpamitan pada Rin sambil bersiap ke ruangan Theo.
"Apa kau bilang? Kau serius?"
"Tentu, Rin. Aku pergi dulu," ucap Jessi melangkah pergi.
***
Jessi sampai di depan pintu ruangan Theo bersamaan dengan beberapa perempuan yang kemarin berkelahi dengannya. Tatapan sinis tertuju pada Jessi.
"Kita pasti di hukum, beda dengan dia. Dia pasti dibiarkan lolos begitu saja, secara dia sudah pernah tidur dengan CEO kita," tunjuk seorang perempuan kepada Jessi.
"Jaga mulut kotormu! Aku tidak segan-segan berkelahi dengan mu lagi," Jessi menahan amarah kepada perempuan di depannya tersebut.
Tok tok
Mereka memasuki ruangan bersama-sama. Mereka berjejer berdiri di hadapan Theo.
"Jelaskan padaku siapa yang memulai perkelahian kemarin," Theo melihat satu persatu wajah pegawainya dan melihat agak lama kearah Jessi.
"Maaf, Tuan," salah seorang pegawai berucap meminta maaf.
"Aku tidak menyuruhmu meminta maaf. Katakan padaku siapa yang memulainya kemarin dan apa yang memicu kalian berkelahi?" bentak Theo.
Hening. Tidak ada satupun yang berani menjawab pertanyaan Theo. Jessi hanya menundukkan kepala, sama sekali tidak berniat menjawab.
"Jess, jawab pertanyaan ku."
"Mereka berkata saya perempuan murahan. Mendekati lelaki kaya hanya untuk menghabiskan uang mereka. Lalu, mereka juga berkata saya sudah menghabiskan malam dengan lelaki tersebut," Jessi mengulang kembali penjelasannya pada Theo persis seperti kemarin.
"Apa benar yang dikatakan Jessi?"
Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Theo. Mereka semakin menunduk dalam-dalam.
"Jawab pertanyaan ku. Jangan diam semuanya. Sebenarnya aku tidak mempermasalahkan kalian berkelahi soal apa. Tapi kalian berkelahi masih diarea kantor jadi saya akan menindak tegas semua yang terlibat, tanpa terkecuali," semua pegawai menatap Theo dengan pandangan tidak percaya.
"Kami minta maaf, Tuan Theo. Jangan pecat kami," salah seorang pegawai menyampaikan ketakutannya.
"Kalian tidak saya pecat. Tapi kalian akan mendapat SP-1, skorsing selama seminggu. Jessi kau di skorsing selama 3 hari," ucap Theo menunjuk para pegawainya. Jessi menatap Theo tidak percaya.
"Kalian semua boleh kembali ke ruangan masing-masing, kecuali Jessi."