Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Perempuan Gatal



Happy Reading 💜


"Aku akan menunggu sampai saat itu tiba," ucap Theo sambil mencium kening gadisnya. Calon istrinya kelak.


Theo memandangi wajah ayu kekasihnya dengan senyum samar di bibir. Tentu dia senang dan bangga dengan Jessi yang mempunyai prinsip seperti itu. Karena tidak semua perempuan di luar sana punya prinsip yang sama dengan kekasihnya. Dia akan bersabar dan menunggu sampai waktunya tiba.


Jessi mengelus lembut wajah Theo. Mengusap bibirnya dengan perlahan dan menciumnya sekali lagi. Ciuman yang tulus, tanpa ada hasrat menuntut sama sekali. Saat Theo akan membalas ciumannya, ia melepas ciuman tersebut dengan paksa.


Theo berdecak kesal saat itu juga. Bagaimana tidak kesal, saat ia akan membalas ciuman malah kekasihnya tersebut menyudahi ciuman mereka. Wajah Theo yang tadinya ceria berubah menjadi datar. Dia berbalik memunggungi Jessi di tempat tidur.


Jessi mengernyitkan dahinya saat Theo memunggungi dirinya. Bibirnya mengerucut mengomel tanpa suara protes akan sikap kekasihnya yang gampang sekali berubah-ubah moodnya. Terbersit ide untuk menjahili kekasih hatinya ini.


Jessi mengambil ponsel yang berada di dalam tas. Raut wajahnya licik dengan senyum menyeringai. Dia akan berpura-pura bertelepon dengan Garaa. Seperti apa reaksi Theo nantinya, dia tidak perduli lagi. Bisa dipikir nanti saja, begitu yang dipikirkannya.


"Hai, Garaa."


"Aku sedang tidak sibuk. Ada apa, Garaa?"


"Theo? Theo sedang sibuk saat ini. Dia mengabaikan ku! Kau mau menemaniku?"


"Wah, kau memang terbaik, Garaa!"


Jessi berdiri di dekat jendela dan dengan sengaja mengeraskan suaranya agar Theo bisa mendengar skenario bertelepon bohongan dengan Garaa. Dan benar saja saat Jessi mengintip kearah Theo, dia sedang menatap tajam pada dirinya. Tangannya mengepal dan dia langsung pergi meninggalkan Jessi sendirian. Entah kemana perginya dia saat ini.


"Wah, dia marah beneran. Theo pergi kemana, ya?"


***


Di sela-sela Theo mendinginkan kepalanya agar tidak kesal lagi pada Jessi, tiba-tiba telinganya mendengar suara Jessi sedang bertelepon dengan Garaa. Theo mendelik tidak percaya bisa-bisanya dia bertelepon mesra dengan Garaa. Emosinya mendadak memuncak saat mendengar Jessi bilang kalau Garaa yang terbaik. Segera dia pergi meninggalkan Jessi sendirian. Salah sendiri Jessi memancing emosinya. Wah, ngajak perang nih cewek!


"Kau marah? Theo, kau marah?" Jessi menusuk-nusuk pipi Theo dengan jarinya.


Theo sama sekali tidak bergerak merespon. Melirik saja tidak. Matanya masih menajam menatap televisi yang tidak bersalah. Jessi tidak gentar dalam menghadapi diamnya kekasih hati. Dia berganti menusukkan jarinya pada ketiak tubuh Theo.


"Mau balikan sama Garaa? Garaa yang terbaik? Aku tidak ada apa-apanya, begitu? Kau itu calon istriku! Berhenti bersikap gatal bisa tidak?"


Gerak jari tangan Jessi terhenti saat ucapan dingin Theo sampai pada indera pendengarannya. Dia hanya bercanda bertelepon dengan Garaa, tapi kenapa sekarang ucapan Theo sangat menyakitkan hatinya.


Gatal? Mulut brengsek sialan!


"Aku gatal? Coba ngomong sekali lagi kalau aku memang gatal!"


Sekali lagi Theo mengabaikannya. Jessi sudah tidak sabar untuk adu mulut dengannya.


"Theo! Jawab aku!" bentak Jessi manja.


"Iya! Dasar gatal!" ucap Theo dengan suara keras.


Jessi tidak percaya dengan apa yang terjadi sekarang. Kekasihnya sendiri mengatainya. Ingin sekali Jessi merobek mulut Theo. Darahnya mendidih, emosinya tidak bisa lagi ditahan. Niat awalnya bercanda yang terjadi sekarang malah bertengkar dengan calon suaminya. Cukup sudah Jessi menahan sabarnya.


"Cukup, Theo! Kalau memang bagimu aku cuma PEREMPUAN GATAL pergi saja sana pacaran dengan Anin! Perempuan yang kalem, yang sopan, yang anggun, yang tidak gatal dengan lelaki manapun. Jangan pacaran dengan perempuan gatal seperti aku!"


"Asal kau tahu, aku cuma bercanda soal Garaa. Aku tidak bertelepon dengan Garaa! Aku tidak gatal dengan lelaki lain! Dan asal kau tahu juga, hubunganmu dan Anin bukan sekedar berteman biasa kan? Aku merasa hubunganmu dan perempuan kalem itu lebih dari teman!"


Tangis Jessi membludak dengan derasnya. Setelah mengungkapkan apa yang ditahannya selama ini, dia bergegas pergi meninggalkan apartemen Theo. Meninggalkan Theo dengan segala perasaan bersalahnya.


"Apa Jessi sudah tahu soal aku dan Anin?" gumam Theo perlahan.