Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Keputusanku



Happy Reading ❤️


Jessi memeluk erat Theo dan membiarkan perasaan kecewanya menguap begitu saja. Mereka mengakhiri pelukan dengan terkekeh bersama dan senyum mengembang di bibir keduanya. Hari yang indah segera dimulai.


Jessi berdiri di dekat jendela memperhatikan lalu lalang orang dibawah sana. Beberapa orang sedang berjalan-jalan santai, ada juga yang sedang bermain bersama anak-anak mereka. Atensinya terpaku pada beberapa balita yang sedang berjalan tertatih-tatih. Ahh bukankah mereka terlihat lucu? Kecil, imut, dan menggemaskan sekali. Wajah cantiknya semakin terlihat cantik saat senyumnya mengembang. Sesekali ia tersenyum kecil dan tak jarang juga ia tertawa terbahak-bahak.


Theo baru saja menyelesaikan kegiatan mandinya. Dia keluar dengan hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya. Otot-otot atletis di tubuhnya terlihat sangat menyegarkan mata. Dia memandang berkeliling mencari keberadaan kekasihnya. Theo menemukan Jessi yang sedang fokus memandangi kegiatan diluar jendela. Sungguh manis sekali jika kekasihnya sedang tersenyum dan tertawa lepas seperti itu.


Theo membiarkan Jessi bersenang-senang dengan dunianya. Dia bergegas berganti pakaian sebelum menemui Jessi. Bibirnya bersenandung mengikuti irama lagu yang berasal dari otaknya. Lagu karangan dia sendiri. Theo mengambil sebuah celana pendek dan kaos putih untuk dipakainya saat ini. Rambutnya dirapikan dengan jari tangan. Pas! Dia sudah tampan, begitu katanya.


"Memperhatikan apa, Jess?"


Theo menghampiri Jessi, lalu memeluknya dari belakang dengan mesra. Posenya yang menurut mereka mesra ini bisa membuat iri para jomblowan dan jomblowati diluar sana. Dagunya ia letakkan di pundak Jessi.


"Lihatlah, Theo. Manis sekali anak-anak itu. aku menyukainya."


Jessi menunjukkan beberapa balita yang menurutnya lucu kepada Theo. Andaikan dia mempunyai sepasang anak yang lucu-lucu juga. Pasti dunianya akan semakin berwarna dan sangat menyenangkan. Jessi mengernyit memikirkan kembali kenapa dia menginginkan anak bersama Theo. Apa iya Theo juga menginginkan mempunyai anak bersamanya. Kekasihnya tersenyum kecil dan kembali memusatkan perhatiannya pada Jessi.


"Cepat mandi, Jess! Kita harus pergi ke suatu tempat," bisik Theo.


Jessi memandangi wajah Theo sejenak. Wajah yang teduh dengan sorot mata yang tajam. Wajah yang beberapa hari lalu sangat dirindukannya. Bibirnya melengkung indah, lalu dengan cepat berganti menjadi datar.


"Aku tidak mau kemana-mana, Theo. Aku ingin disini saja, memandangi mereka," tunjuk Jessi pada balita-balita di luar sana.


Theo berdecak kesal pada Jessi. Bagaimana bisa sekarang fokusnya hanya pada bocah-bocah itu. Bisa-bisa dia juga diabaikan. Theo mendekati tempat dimana Jessi berfokus. Menggendong tubuhnya dari belakang, lalu melemparkannya ke tempat tidur.


"Kalau kau masih tetap fokus pada mereka dan mengabaikan aku, ku habisi kau!" ancam Theo.


***


"Aku tidak takut! Apa mau mu?" cicit Jessi perlahan tapi menampakkan wajah garang. Sangat berbanding terbalik karena raut wajah dan ucapan tidak selaras.


"Ohh, kau menantang ku! Jangan menghindar! Jangan juga berlari dariku!"


Theo mendekatkan wajahnya pada Jessi. Jantung Jessi semakin tidak karuan. Wajahnya sengaja ia tutupi dengan kedua tangan, takut Theo akan bertindak macam-macam. Tapi Jessi sedikit mengintip dari cela tangannya. Katanya takut, tapi mengintip!


Theo menciumi tangan Jessi dengan lembut. Tangan Jessi terbuka dan membiarkan Theo menciumi wajahnya. Theo beralih menciumi kening, mata, pipi, dagu, dan berlama-lama menciumi di area bibir. Nafasnya memburu sama seperti matanya yang sudah berubah menjadi sayu. Ciuman yang awalnya lembut berubah menjadi ciuman yang menuntut. Dua kali mereka berciuman ganas seperti ini.


Tanpa sadar tangan Theo bergerilya di badan Jessi. Dia ingin menyentuh dada kekasihnya. Tapi nyalinya tidak sebesar keinginannya. Sekuat tenaga Theo menahan keinginannya tersebut. Karena kalau sampai dia lancang menyentuhnya, takut-takut Jessi akan marah padanya. Beda cerita kalau Jessi yang meminta, sudah pasti dan sudah jelas Theo akan senang hari melakukannya.


Jessi menginginkan ciuman Theo, tapi tidak untuk yang lebih dari itu. Meskipun tubuhnya ingin tapi dia masih sadar untuk tidak melakukan itu sebelum dia dan Theo dalam ikatan yang sah. Bukannya sok suci tapi dia ingin menjaga kehormatannya hanya untuk suaminya kelak. Tangannya bersiaga menutupi dada agar tidak sampai disentuh Theo. Jessi mengakhiri ciuman panas mereka saat dia kehabisan nafas. Raut wajah Theo seakan tak rela ciuman mereka berakhir begitu saja.


"Theo, kau menginginkannya? Melakukan itu?" tanya Jessi di sela-sela ia mengumpulkan kembali nafasnya.


Theo menatap Jessi tidak percaya. Jelas dia menginginkan itu tapi dia akan melakukannya dengan persetujuan Jessi. Belum sempat mulut Theo berucap, Jessi sudah berkata lagi seakan itu adalah jawaban untuk Theo.


"Aku tidak mau dan tidak ingin melakukannya sebelum aku dalam ikatan yang sah dengan suamiku kelak, Theo. Ku harap kau menghormati keputusan ku! Jadi tunggulah, tunggu sampai saat itu tiba."


Ucapan Jessi sudah cukup jelas dan menampar Theo. Dia harus bisa menghormati keputusan kekasihnya. Bagus juga bila cara berpacaran mereka tidak seperti kebanyakan orang diluar sana.


"Aku akan menunggu sampai saat itu tiba," ucap Theo sambil mencium kening gadisnya. Calon istrinya kelak.