Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Pernikahan Rin



Happy Reading ❤️


Aku akan semakin berusaha memisahkanmu dan Jessi, Theo! Kau akan menjadi milikku!


Matahari diatas sana malu-malu menampakkan wajahnya yang mampu menyilaukan mata setiap orang yang melihat. Cahayanya yang redup membuat beberapa orang malas mengawali hari dan ingin bermalas-malasan saja ditempat tidur. Masih terlalu pagi, begitu yang mereka pikirkan. Begitu pula dengan Jessi dan Theo yang mengawali harinya pada jam menuju siang.


Jessi dan Theo bergegas meninggalkan rumah singgah, langkah kaki mereka menuju ke rest area di dekat danau kecil. Mereka berjalan beriringan sambil bergandengan tangan. Sesekali mereka saling tersenyum satu sama lain. Theo mengambil roti dengan selai kacang dan segelas kopi, sedangkan Jessi mengambil kentang goreng, ayam goreng, sosis, dan segelas susu hangat. Theo mengernyit melihat menu sarapan kekasihnya yang begitu banyak, tapi tetap di abaikannya. Asal Jessi sehat, tak masalah bila dia menjadi gemuk dengan pola makan yang seperti itu.


Jessi menyelesaikan sarapan dengan cepat. Semua makanan tandas dalam perutnya. Sendawa kecil-kecilan terdengar merdu dari mulut manisnya. Theo semakin mengernyit dengan apa yang dilakukan kekasihnya. Selepas sarapan pagi di jam menuju siang, Theo dan Jessi berlalu meninggalkan tempat tersebut dan memilih pulang ke rumah Jessi.


Sesampainya di rumah, Jessi memasuki kamarnya dan mengambil gaun terbaik yang dimilikinya untuk dipakai ke resepsi pernikahan Rin. Dia membiarkan Theo mengobrol dengan Ibunya. Menjelaskan soal ketidakpulangan Jessi kemarin. Ibu yang mendengar penjelasan Theo hanya mengangguk-angguk paham dan memakluminya.


Jessi membawa gaun yang dipilihnya ke ruang tamu. Membiarkan Theo melihat dan mengomentari tentang gaunnya. Ibu juga ikut berkomentar rupanya.


"Kau tidak punya gaun lagi? Punggungnya terlalu terbuka dan aku tidak suka kau menarik perhatian orang lain. Gantilah yang lain!" Theo berdecak sebal saat mengatakannya.


"Ibu juga setuju dengan Theo, Nak. Gaunnya terlalu terbuka. Nanti kau masuk angin." Ibu satu paket dengan Theo, menentang gaya berpakaiannya.


Jessi memasuki kamar kembali dan memilih gaun yang sopan menurutnya. Sebuah gaun dengan punggung yang tertutup, tetapi belahan di kaki bagian samping mencapai paha orang dewasa. Awas saja kalau Theo dan Ibu masih tidak setuju juga.


"Bagaimana kalau yang ini?" Jessi berputar-putar memamerkan bentuk gaunnya. Sekali lagi Theo dan Ibu tidak menyetujuinya. Jessi kesal sendiri saat gaun yang dipilihnya tidak sesuai dengan keinginan Ibu dan kekasihnya. Mulutnya mengomel ingin rasanya protes pada mereka.


"Itu tidak boleh! Ini tidak boleh! Aku tidak usah memakai baju sekalian," ucap Jessi menyalurkan rasa kesalnya.


***


Mereka memasuki butik dan melihat beberapa gaun yang menurut penjaga tokonya adalah gaun terbaik mereka. Jessi mencoba beberapa gaun dan jawaban Theo tetap tidak setuju dengan pilihan gaun tersebut. Jessi bosan sendiri kalau seperti ini terus-menerus. Netranya memandang berkeliling butik dan berhenti disebuah gaun yang menurutnya elegan dan simpel. Dia jatuh cinta pada gaun cantik tersebut. Sebuah gaun berwarna maroon dengan potongan lubang dipundak yang dihiasi dengan brokat-brokat kecil yang nampak manis.


Saat Theo akan protes, Jessi menempelkan telunjuknya pada bibir Theo dengan tergesa-gesa. Melarangnya berbicara agar tidak protes dan membuat penjaga butik kesal padanya. Selesai sudah masalah membeli gaun, mereka bergegas pulang ke apartemen Theo dan bersiap-siap untuk datang ke resepsi pernikahan Rin dan Brian.


***


Malam yang gelap dan dingin berganti menjadi indah dan hangat di dalam sana. Kemerlap warna-warni hiasan yang menggantung di dinding seakan menambah keramaian suasana pesta. Ruangan yang penuh dengan dekorasi bunga mawar putih itu terlihat lengang dengan tamu yang tidak seberapa banyak. Beberapa diantara mereka sedang menikmati jamuan makanan berat, beberapa lainnya sedang bersenda gurau, saling bercengkrama dengan hangatnya.


Sepasang pengantin baru seakan menjadi raja dan ratu seharian ini. Keduanya duduk manis diatas kursi yang sudah dihiasi dengan berbagai bunga-bunga indah nan merekah. Rin menyuapi suaminya dengan makanan ringan yang di sediakan di dekat singgasananya. Ahh, mereka terlihat manis sekali.


Jessi dan Theo sudah sampai di depan pintu masuk tempat resepsi pernikahan Rin dan Brian. Jessi terlihat cantik sekali dengan gaun maroon yang dipilihnya tadi. Gaun tersebut menempel ketat di tubuh Jessi, sangat pas dengan ukuran tubuhnya seperti memang gaun itu tercipta untuk tubuh mungil Jessi. Theo tampak menawan seperti sehari-hari. Tubuh atletisnya memakai setelan jas yang nampak sekali kalau itu bukan jas murahan. Maklum orang kaya!


Di dalam ruangan, Jessi dan Theo bertemu dengan rekan-rekan di tempat kerja. Mereka mengangguk sekilas saat berpapasan dengan Theo. Elia tergopoh-gopoh mendatangi Jessi yang sedang melambai padanya.


"Aku merindukanmu, Jess. Kau cantik sekali. Theo beruntung mendapatkanmu." Elia tersenyum tulus pada Jessi. Theo yang mendengar pujian Elia tersenyum dengan bangganya dan semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang ramping Jessi.


"Terimakasih, ya, El. Kau juga sangat cantik hari ini. Aku juga sangat merindukanmu dan Rin. Ayo kita menemuinya, El."


Mereka serentak berbaris hendak mengucapkan selamat pada Rin dan Brian. Setelah mengucapkan selamat, Elia berpamitan pada Jessi karena dia akan menemui rekannya di sebelah sana. Rekan kerja yang tidak lama lagi akan menjadi kekasih, begitu saat dia berbisik menjelaskan pada Jessi.


Jessi merasa kehausan karena sedari tadi dia belum meminum apapun. Theo berinisiatif mengambilkannya minuman, sedangkan Jessi menunggunya di dekat jendela yang menampakkan lalu-lalang kepadatan lalu lintas di jalanan pusat kota.


"Jessi ...."