
Happy Reading 💜
Sore hari yang indah ditandai dengan tenggelamnya matahari diujung barat. Burung-burung berterbangan kesana-kemari kembali menuju sarangnya. Sama halnya dengan para pekerja kantoran, ataupun buruh di pabrik yang sebagian besar selesai bekerja pada sore hari.
Jessi sedang menata barang-barangnya saat matanya yang jernih menangkap sesuatu yang janggal dari dalam tas kerjanya. "Apa ini?" Sebuah kotak berukuran persegi panjang berkilauan emas dia temukan disana.
Tangannya bergerak membuka kotak tersebut dengan waspada. Bak tertimpa durian runtuh, kotak tersebut berisikan sebuah cincin bertahtakan ruby yang berwarna silver berkilauan dengan indahnya.
"Apa mungkin Theo yang memberikanku ini?" gumamnya heran.
"Nanti aku akan bertanya padanya." Imbuhnya sambil memasukkan cincin dan kotak tersebut kedalam tas.
Tanpa banyak berfikir panjang, dia segera berlalu bersamaan dengan para pegawai yang berlalu-lalang di sepanjang koridor. Dia sengaja ingin memberi kejutan dengan menemui Theo di ruangannya.
"Maaf, apa Theo masih berada di ruangannya?" tanyanya pada sekretaris calon suaminya tersebut.
Sekretarisnya menggeleng pelan, "Tuan Theo baru saja pergi meninggalkan ruangannya, sekitar lima menit yang lalu."
"Baiklah, kalau begitu terimakasih, ya." Jessi melangkah pergi meninggalkan ruangan calon suaminya dengan berbagai pertanyaan yang memenuhi otaknya.
***
Drrt Drrrtt
Ponselnya bergetar pertanda ada sebuah pesan, atau panggilan masuk untuknya. Tangannya merogoh ponsel yang bersarang di dalam tas bersama dengan barang-barangnya yang lain. Nomor tidak dikenal yang menghubunginya
Keningnya mengkerut sesaat, lalu kembali seperti semula. Diabaikannya panggilan dari nomor asing tersebut.
Dalam sekelebat dia melihat lelaki yang dicarinya berada dalam radius yang sangat dekat dengannya. Dia berjalan dengan langkah sedikit berlari-lari kecil.
Jessi berjalan dan mempercepat gerak kakinya menuju Theo. Tangan mungilnya menyentuh pundak kekar tersebut dengan pelan, "Hey, apa ada masalah?"
Theo amat sangat terkejut saat mendapati Jessi di sampingnya. Raut kelegaan terpancar jelas dari wajahnya yang sedikit berkeringat.
"Kau kemana saja? Aku mencarimu. Kenapa ponselmu sibuk sedari tadi?" tanya Theo setelah menarik Jessi menuju salah satu lorong koridor yang sepi.
"Aku mencarimu ke ruanganmu, tapi sekretarismu bilang kau sudah keluar lima menit sebelum aku tiba disana." Jessi menjelaskan dengan tenang.
Wajah tampan itu tersenyum dengan begitu manisnya. Deretan giginya yang putih bersih berkilau membuatnya semakin terlihat mempesona.
"Kau merindukanku?"
Jessi memutar bola matanya malas, lalu tersenyum juga pada kekasihnya. "Theo, apa ini darimu?" Tangannya merogoh tas untuk mengambil kotak cincin tanpa pemilik tersebut.
"Tidak, siapa yang memberimu ini?" Theo menautkan alisnya bertanya-tanya.
Jessi mengangkat bahunya sambil menggeleng pelan. "Aku tidak tahu, kotak itu aku temukan tadi sore di dalam tasku." Jelasnya tanpa mengurangi dan menambahi sedikitpun.
Theo menatap perempuan yang selangkah lagi akan menjadi pendamping hidupnya dengan tatapan penuh curiga. "Aku saja yang menyimpan benda ini." Dimasukannya kotak cincin tersebut dalam saku jasnya.
***
Mereka berjalan bersama menuju mobil yang terparkir berjejer dengan mobil para orang penting di kantor. Tak butuh waktu lama mobil yang mereka tumpangi membelah kepadatan lalu lintas sore itu.
Lelaki tegap yang sedang mengemudi itu terlihat sedang berfikir keras. Keningnya mengkerut dengan tangan menopang dagu. Sedari tadi fokusnya diambil alih oleh cincin yang ditemukan Jessi. Cincin yang sangat mahal bagaimana bisa berada di dalam tas kekasihnya.
Selang setengah jam, mobil mereka berhenti di parkiran apartemen Theo. Desah frustasi terdengar dari bibir Theo. Perempuan itu meliriknya dengan heran. Lalu secepat kilat keduanya bergandengan tangan dengan raut wajah yang berseri-seri.
Theo mengirim pesan pada orang yang kepercayaannya untuk menyelidiki pemilik cincin ruby yang berhasil menyita fokusnya sore ini. Secepatnya dia ingin mengetahui tentang kebenarannya.
Jessi sedang mencoba berbagai gaun yang disiapkan Theo untuknya. Malam ini mereka akan datang ke pesta pernikahan megah Garaa dan Anna.
"Apa ini cocok untukku?" tanyanya saat mencoba gaun yang memiliki belahan tinggi di sisi pinggirnya.
"Tidak. Pahamu kelihatan. Kau ingin pamer?" protes Theo dengan sebal.
Tangannya meraih satu gaun yang memiliki belahan dada yang teramat rendah. "Bagaimana dengan yang ini?"
Theo menggeleng berkali-kali. "Mau kau tunjukkan pada siapa dadamu itu? Ambil yang sopan dan pakailah. Tidak perlu memakai yang mencolok dengan belahan-belahan seperti itu." Omelnya sambil memeriksa ponselnya berkali-kali.
Sebal karena terus-menerus di protes kekasihnya, Jessi mengambil sebuah gaun tidur yang tembus pandang.
"Aku memakai yang ini. Bagaimana?" Tubuhnya berputar-putar dengan gaun yang menempel disana.
Theo menyeringai senang, "Pakai itu saat berdua bersamaku saja. Aku menyukainya." Bibirnya terkekeh senang.
Mereka terkekeh bersama dan tidak jadi meneruskan memilih gaun yang akan dikenakan Jessi. Dia menghambur memeluk calon suaminya.
"Sedang apa? Kenapa fokus sekali dengan ponsel?" ucapnya dengan sedikit mengintip layar ponsel kekasihnya.
Theo menyingkirkan ponselnya dari pandangan Jessi. Dia tidak ingin Jessi tahu kalau sebenarnya dia sedang sedikit menaruh curiga padanya.
"Tidak ada apa-apa. Hanya sedang memeriksa pergerakan saham saja, Jess."
"Kenapa disembunyikan dariku? Aku ingin melihatnya sebentar saja, Theo." Tangannya merebut paksa ponsel tersebut.
"Kalau aku bilang tidak ada apa-apa, berarti tidak ada apa-apa. Jangan memicu sesuatu yang membuat kita bertengkar." Protes Theo dengan suara sedikit meninggi.
Perempuan yang dasarnya tidak mau kalah dan selalu ingin tahu itu semakin dibuat penasaran dengan larangan Theo. "Kalau tidak ada apa-apa, kenapa takut menunjukkannya padaku? Atau ada yang sedang kau sembunyikan dariku?"
Theo diam saja tidak menanggapi ucapan Jessi. Diamnya itu semakin membuat Jessi yakin kalau ada yang sedang disembunyikan lelaki tersebut dalam ponselnya.
Tubuhnya menjauh secara perlahan. Memberi jarak diantara mereka, sama seperti Theo yang sedang membuat jarak soal urusan ponsel padanya. Matanya memanas tanpa sadar, setetes air mata mengalir pelan membasahi pipinya.
"Apa kau mulai membuat jarak denganku?"