
Kenapa kau tidak menjawab teleponku hah? sedang apa kau, Jessi?
Theo membanting ponselnya. Pikirannya kalut karena Jessi.
Apa aku ke rumah Jessi saja, ya? Mengecek langsung keadaannya.
Theo beranjak dari kasur empuknya, lalu mengambil kunci mobil. Dia bergegas pergi ke rumah Jessi agar pikirannya tidak kalut lagi.
Saat Theo memasuki mobil tiba-tiba ponselnya berdering. Melani lagi-lagi menghubunginya. Theo malas meladeni Melani saat ini. Mobil Theo melaju kencang membela malam yang sepi.
Tak butuh waktu lama, mobil Theo menepi di depan rumah Jessi. Ia ingin masuk tapi sudah larut malam. Sekali lagi Theo menghubungi ponsel Jessi.
"Halo, Theo."
"Kenapa kau tidak mengangkat teleponku tadi? Aku mengkhawatirkan mu, bodoh!" umpat Theo tanpa basa-basi.
"Ponselku ada dikamar tadi. Maaf ya," Jessi ingin bilang kalau tadi ada Garaa tapi ia ragu sendiri.
"Kenapa ponselmu tidak kau bawa? Aku di depan rumahmu sekarang."
"Kau di depan rumahku? sungguh!?" Jessi mengintip dari balik jendela kamarnya. Benar ada mobil Theo disana. Jessi mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Ia berlari keluar menemui Theo.
Jessi mengetuk kaca mobil Theo. Theo keluar dari mobil dan langsung memeluk Jessi erat.
"Apa yang kau lakukan, Theo?"
"Diamlah sebentar," Theo semakin mengeratkan pelukan.
"Apa terjadi sesuatu hari ini?" tanya Theo sambil mengendurkan pelukan tangannya pada Jessi.
" Ada orang asing yang memberiku amplop tadi sore. Ada foto kita saat di bukit, Theo. Dia mengancamku."
"Kau simpan fotonya?"
"Hmm, sebentar aku ambil dulu," Jessi mengambil foto dari dalam rumah dan segera memberikannya pada Theo.
"Lihatlah," ucap Jessi sambil menyodorkan foto-foto mereka.
Theo melihat dengan seksama dan pikirannya langsung menuju ke Melani. Pasti Melani pelakunya.
"Kau tenang saja. Aku akan membereskan masalah ini," Theo membelai lembut rambut Jessi.
"Theo, aku minta maaf kalau aku menyakitimu," Jessi menangis memeluk Theo.
"Ada apa?"
Hanya suara tangis sesenggukan Jessi yang terdengar. Theo membelai punggung Jessi berusaha menenangkan.
"Aku berpacaran dengan Garaa."
"Sejak kapan?" Theo melepaskan pelukan Jessi dengan paksa. Ternyata ini yang membuat perasaanya tak enak.
"Sejak malam ini. Tadi Garaa menyatakan perasaannya padaku," Jessi menunduk takut melihat amarah Theo.
"Kau menerimanya?"
"Hmm, maafkan aku."
Theo pergi meninggalkan Jessi dengan amarah yang tidak bisa ia tahan. Mobilnya melaju dengan kecepatan diatas rata-rata. Tangannya memukul kemudi, mulutnya mengumpat tanpa henti.
"Brengsek!!!"
Jessi sudah lima kali menghubungi ponsel Theo. Tapi tidak ada satupun yang diangkat. Theo marah padanya. Ia mengecewakan Theo yang meminta kesempatan padanya.
***
"Hai, Rin," Jessi menggandeng tangan Rin dengan senyum mengembang di bibirnya. Meninggalkan Garaa dibelakangnya.
"Aku merasakan ada bunga-bunga merekah di sekitarku. Ada yang sedang berbahagia rupanya."
"Hehe, apa yang kau bicarakan, Rin? Aku tidak mengerti maksud mu," elak Jessi.
"Traktir aku makan siang, Garaa," ucap Rin menoleh kebelakang. Garaa hanya mengacungkan jempolnya sambil tersenyum samar.
Rin dan Jessi mengobrol dengan sesekali tertawa terbahak. Tawa mereka terhenti seketika saat berpapasan dengan Theo. Mereka mengangguk bersama. Theo hanya menatap datar Rin dan Jessi tetapi menajam saat melihat Garaa.
"Nanti makan siang denganku. Kau juga, Rin. Aku ke ruanganku dulu," Garaa mencium pipi Jessi sekilas dan melanjutkan perjalanan ke dalam ruangannya.
Tangan Theo mengepal melihat Garaa yang dengan sengaja menunjukan kemesraannya pada Jessi. Jessi hanya mematung mengangguk singkat. Rin segera menggeret tangannya pergi.
***
"Apa Theo tahu kau dan Garaa berpacaran?" Rin mulai mengintrogasi Jessi.
"Hmm."
"Kau gila? Kau mematahkan hatinya tahu. Kau serius dengan perasaanmu terhadap Garaa? Kenapa kau menjadi murung saat bertemu Theo tadi? Kau suka Garaa atau Theo sih?" Rin jadi gemas sendiri sambil mengacak-acak rambutnya.
"Apa ada yang aku lewatkan?" Elia bergabung kedalam pembicaraan Jessi dan Rin.
"Jessi sedang dilema cinta. Sudah, ayo mulai bekerja!" perintah Rin.
Elia hanya diam membatin, tidak tahu siapa sebenarnya yang sedang memperebutkan Jessi sampai dia dilema begini.
***
Saat jam makan siang, Rin, Jessi, dan Elia berjalan bersama ke kantin. Elia melihat Garaa dari kejauhan segera dia berlari mendekat ke arah Garaa. Meninggalkan Rin dan Jessi dibelakang.
"Kak Garaa, kenapa tidak membalas pesanku semalam?" Elia bergelayut manja di tangan Garaa. Garaa berusaha melepaskan tangannya saat melihat Jessi menatap kearahnya.
"Lepaskan tanganmu, El!" ucap Garaa sambil berusaha melepaskan tangan Elia.
"Jawab dulu pertanyaan ku, Kak. Apa kau sudah tidur semalam sampai tidak membalas pesanku?"
"Iya, aku sudah tidur," Elia akhirnya melepaskan tangannya juga.
"Hai," Garaa mendekati Jessi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Jessi melengos enggan menjawab sapaan Garaa. Rin hanya mengangkat bahu. Mereka mengantri berbaris untuk mengambil makan siang.
Rin duduk bersebelahan dengan Jessi. Garaa dan Elia duduk dihadapan mereka. Garaa menaruh ayam gorengnya kedalam piring Jessi.
"Makanlah!" Garaa tahu Jessi sedang cemburu melihat sikap Elia padanya tadi. Ia benar-benar menikmati wajah kekasihnya yang sangat menggemaskan saat sedang cemburu begini.
"Mari makan teman-teman," Rin berusaha mencairkan suasana. Jessi masih saja cemberut ditempat duduknya. Dia melahap ayam gorengnya dengan penuh penekanan.
"Kak, kau ingat tidak saat dulu kau bilang kalau kau akan menjadi pengantin priaku dimasa depan?" tanya Elia.
Garaa, Jessi, dan Rin seketika menghentikan suapan mereka. Jessi ingin memakan Elia hidup-hidup.
"Apa Garaa bilang begitu padamu, El?" tanya Jessi.
"Ya. Dulu Kak Garaa membelaku saat beberapa teman kami membullyku, Jess. Kak Garaa dengan lantangnya berkata dia akan menjadi pengantin priaku," ucap Elia berapi-api.
Rin memegang tangan Jessi dibawah meja. Sementara Jessi menatap tajam mata Garaa.
"Kenapa kau diam saja, bodoh", umpat Jessi dalam hati.