
"Ya. Aku datang, Garaa. Aku akan membawa kado untukmu dan Anna."
"Hmm. Terimakasih, Jess."
Jessi memutuskan untuk datang saja ke pesta Garaa. Ia tidak mau berlarut-larut patah hati, ia harus move on. Di depannya, Garaa memandangi Jessi yang masih sibuk mengaduk-aduk makanannya. Sebenarnya Garaa belum ikhlas kalau harus bertunangan dengan perempuan lain, dan bukannya dengan Jessi, pilihannya.
Teengg
Jam istirahat pegawai sudah habis. Serentak semua pegawai meninggalkan kantin dan kembali ke ruangan masing-masing, bersikutat kembali dengan pekerjaan yang menumpuk.
***
Di ruangan CEO, Theo menyelesaikan makan siangnya sendirian. Dia memilih menghabiskan makanannya di kulkas, daripada turun untuk makan siang di kantin. Diambilnya ponsel yang tergeletak di meja. Ingin sekali rasanya dia menghubungi Jessi, mengingat Jessi masih marah padanya soal skorsing.
to Jessi :"Hey, masih marah?"
Dua centang tanda terkirim belum berubah warna menjadi biru. Lima menit, sepuluh menit Theo menunggu balasan dari Jessi, tapi tidak ada balasan. Dihembuskannya nafas dengan kasar. Theo bergegas menuju ruang kerja Jessi daripada menahan kegusarannya sendiri. Ia harus meluruskan kesalahpahaman ini.
***
Tok tok
Theo menyelonong memasuki ruangan tanpa menunggu di bukakan pintu terlebih dahulu. Rin yang melihat kedatangan CEO secara tiba-tiba, sontak menghampiri Theo.
"Tuan Theo, ada yang bisa saya bantu?" tanya Rin.
"Aku mencari Jessi," Theo berjalan ke tempat duduk Jessi.
Semua pegawai melongo melihat adegan spesial di depan mereka. CEO perusahaan mengunjungi ruangan mereka. Jessi mematung di tempatnya, pasti semua pegawai akan menggodanya setelah ini.
"Kenapa pesanku tidak kau balas?" Theo bertanya langsung tanpa basa-basi.
"Tuan, saya sedang bekerja dan tidak membawa ponsel," Jessi menjawabnya dengan singkat. Terlalu malas meladeni kegusaran Theo.
"Kau masih marah padaku? Jawab yang jujur!" Theo sedikit menaikkan nada bicaranya.
"Tuan Theo, apa saya diijinkan marah pada atasan saya? Apalagi pada CEO perusahaan tempat saya bekerja. Terlalu lancang kalau sampai saya berani marah kepada Tuan. Saya tahu posisi saya disini," Jessi berkata formal pada Theo. Ingin rasanya Jessi meneriaki Theo tepat di telinganya.
Semua pandangan pegawai masih terfokus melihat adegan Theo dan Jessi. Sungguh memalukan apa yang dilakukan Theo sekarang. Theo melihat berkeliling ruangan dan baru tersadar kalau ia menjadi pusat perhatian.
"Apa yang kalian lihat hah? Ini bukan tontonan. Kembali bekerja sana!" bentak Theo.
"Lepaskan aku! Lepaskan!" teriak Jessi.
Theo berhenti di persimpangan koridor. Napasnya memburu, guratan otot di wajahnya terlihat. Dihempaskan tangan Jessi dengan perlahan. Beberapa pegawai yang berlalu lalang di koridor melihat Theo dan Jessi bersamaan. Mereka mengangguk pada Theo sambil sesekali mencoba melirik adegan di depannya.
"Kau marah aku datang ke ruangan mu?" tanya Theo.
"Tidak! Untuk apa aku marah. Aku harus kembali, pekerjaan ku masih banyak."
"Nanti pulang kerja ikut aku. Temani aku berbelanja," ajak Theo pada Jessi.
"Tidak bisa, Theo. Aku harus bersiap-siap untuk datang ke pesta Garaa nanti malam," Jessi menolak halus permintaan Theo.
"Kau datang bersama siapa kesana? Laki-laki?" Theo bertanya menyelidik. Matanya menajam saat mengucap kata "Laki-laki".
"Bersama teman-teman ku. Sudah, aku mau kembali sekarang!"
Theo menghalangi Jessi yang mau kembali ke ruangannya. Di himpitnya Jessi ke koridor. Punggungnya menyentuh dinding. Theo mendekatkan wajahnya kepada Jessi. Hidung mereka hampir bersentuhan dengan jarak yang sedekat ini. Jessi melengos, membuang pandangannya kearah lain. Theo mengumpat dalam hati, Jessi menolaknya. Nafasnya semakin memburu. Jelas Jessi menghindar darinya, sudah tidak mau berdekatan dengannya lagi.
"Awas kalau sampai aku melihatmu berdekatan dengan laki-laki lain!" ancam Theo dengan mata yang seakan ingin menerkam Jessi.
"Theo, kau ini kenapa? Kau membuatku takut," Jessi menutup matanya melihat Theo seakan menjadi orang yang berbeda sekarang. Jessi seperti tidak mengenali Theo.
"Maaf, Jess. Aku tidak bermaksud menakutimu," Theo memeluk erat Jessi, menyesali perbuatannya yang membuat Jessi sekarang ketakutan.
Theo melepaskan Jessi kembali ke ruangannya saat dirasa Jessi sudah baik-baik saja dan tidak ketakutan lagi. Theo menyesal kenapa juga dia tidak bisa menahan amarahnya. Ditariknya nafas dalam-dalam dan menghembuskanya dengan kasar.
***
Saat matahari mulai tenggelam, Jessi, Rin, dan Elia pulang bersama-sama ke rumah Rin. Mereka akan bersiap-siap untuk datang ke pesta Garaa. Jessi mengenakan sebuah gaun simpel selutut berwarna merah marun. Rambutnya dicepol kecil dan dibiarkan terurai sedikit dibagian depan. Jessi terlihat sangat cantik dan anggun, gaun itu rupanya sangat pas di badan Jessi. Rin dan Elia memujinya bersamaan.
"Kau sangat cantik, Jess."
"Benar kata Rin, kau sangat cantik. Sampai-sampai aku iri padamu," Jessi terkekeh geli mendengar pujian Elia.
"Kalian juga sangat cantik. Rin kau sangat menawan dengan gaun hijaumu itu. El, gaunmu sangat elegan," Jessi memberikan acungan jempol untuk gaun Rin dan Elia yang sangat bagus dan elegan itu.
"Kau bisa saja, Jess. Aku akan membuat Kak Garaa tidak berkedip saat melihatku," Elia tersenyum licik dihadapan Jessi dan Rin. Sementara Jessi dan Rin saling berpandangan dalam diam.
"Brian akan sampai dalam jangka waktu lima menit, ayo cepat bersiap-siap."