
Jessi ingin menolak. Tapi permintaan Ibu Theo tidak bisa ditolak. Dia pun pasrah dan memilih menaiki anak tangga mencari kamar Theo.
Satu per satu tangga ditapaki Jessi. Matanya memandang berkeliling memperhatikan betapa mewahnya rumah ini. Perlengkapan rumahnya pastilah sangat mahal.
Mungkin gajiku bekerja selama sebulan tidak cukup untuk membayar tagihan listrik rumah ini. Orang kaya mah bebas.
"Kamar Theo yang sebelah mana, ya? Aduh, kenapa tadi aku tidak bertanya dulu," gumam Jessi perlahan.
Satu per satu kamar diketuk Jessi serta dia memanggil-manggil nama Theo, tapi nihil tidak ada jawaban. Dikamar paling ujung ia meyakini bahwa disitulah kamar Theo berada. Karena tinggal itu satu-satunya kamar yang belum ia ketuk.
"Theo, kau di dalam? Apa aku boleh masuk?"
Jessi menempelkan telinganya di daun pintu kamar. Hening, tidak ada suara sama sekali yang terdengar. Jessi membuka kamar secara perlahan, kepalanya melongok ke dalam dan melihat Theo sedang berbaring disana.
Theo yang mendengar suara pintu kamar terbuka pura-pura memejamkan matanya. Hatinya masih kesal karena Jessi tidak peka kalau dia sebenarnya cemburu kemarin. Yang terjadi sekarang malah Theo yang disalahkan.
"Theo, kau tidur?"
Jessi menusuk-nusuk punggung Theo. Tidak ada jawaban atas pertanyaan Jessi, yang ada malah Theo menggeliat menarik dirinya dan memeluknya.
"Theo, apa yang kau lakukan? Jangan seperti ini, berat!"
Jessi sekuat tenaga berusaha menyingkirkan tangan Theo yang memeluknya. Tapi tenaga perempuan jelas kalah jauh dibandingkan dengan tenaga laki-laki.
"Kau sengaja, ya? Cari-cari kesempatan, yah! Theo, lepaskan tanganmu nanti kalau Ibumu melihat kita, bagaimana?"
Theo semakin mengeratkan pelukannya. Hembusan nafas Theo terdengar teratur, dadanya kembang-kempis seiring ia bernafas.
Jessi akhirnya mengalah dan membiarkan Theo memeluknya. Mungkin Theo lelah bekerja dan ingin memeluknya sebagai penghilang lelahnya. Tanpa disadari karena bosan tidak bisa bergerak akibat pelukan Theo, Jessi menjadi mengantuk sekarang. Lama-kelamaan matanya memberat dan dia tertidur di samping Theo.
***
Dilain tempat, Garaa sedang bersama dengan Anna. Raganya memang bersama Anna, tapi jiwanya sedang berkelana ke tempat lain. Mereka menghabiskan kencan di sebuah restoran mahal kepunyaan keluarga Anna.
Cahaya lampu yang temaram semakin menambah keromantisan tempat itu. Anna memakai sebuah dres selutut berkerah renda dan berbelahan tinggi. Santapan mata yang empuk bagi para lelaki hidung belang disana.
Garaa yang melihat Anna mengenakan pakaian seperti itu hanya melirik lewat ekor matanya dan mengabaikan begitu saja.
"Garaa, aku ingin pernikahan kita dipercepat. Aku sudah tidak sabar menantikannya."
Binar-binar kebahagiaan terlihat jelas di mata Anna saat mengatakannya. Anna sangat mencintai Garaa, meskipun ia tahu Garaa belum mencintainya. Tapi, ia tahu suatu saat Garaa pasti akan mencintainya sepenuh hati.
"Pakailah pakaian yang lebih sopan. Mataku sakit melihatnya," ucap Garaa kemudian.
"Kau cemburu banyak pria yang menatapku?" tanya Anna saat selesai menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
"Tidak!" pungkas Garaa.
Garaa memandang berkeliling dan benar saja dia melihat banyak lelaki disana melihat terus kearah Anna. Kurang ajar sekali mereka, padahal di depan mereka juga sudah ada pasangan masing-masing.
Garaa menghampiri salah satu lelaki yang terlihat jelas melirik terus kearah Anna. Dia menegur lelaki tersebut.
"Hey, Brother! Perhatikan matamu! Jangan sampai matamu copot malam ini karena memandang ke perempuan lain sedari tadi. Di depanmu jelas sudah ada pasangan mu, tapi kau masih mata keranjang begitu. Apa kau gila? Aku mengawasi mu, ingat itu!" ancam Garaa panjang lebar.
"Dan kau! Awasi mata kekasihmu! Perhatikan kemana arah matanya memandang," tunjuk Garaa pada pasangannya.
Dan tak dapat dihindarkan pertengkaran antara lelaki dan pasangannya tersebut terjadi setelah Garaa meninggalkan mereka.
Anna yang melihat kejadian itu seketika semakin mencintai Garaa. Dia suka tindakan Garaa yang menegur orang lain yang bertindak kurang ajar padanya. Menelanjangi badannya dengan mata kotornya itu.
"Terimakasih, Garaa. Kau memang hebat! Tidak salah aku memilihmu," senyum mengembang bertengger di bibir Anna.
Garaa meresponnya dengan senyum samar. Lalu, melanjutkan makannya yang tertunda.
***
Ibu Theo berniat menyusul ke lantai atas dimana kamar Theo berada. Karena sudah setengah jam ia menunggu, tapi Jessi dan Theo tidak kelihatan batang hidungnya.
Satu per satu anak tangga dilalui Ibu Theo dengan anggun. Orang kaya selalu menjaga attitude dimanapun ia berada.
Satu kali ia mengetuk pintu tapi tidak ada respon. Dua kali diulangi lagi mengetuk pintu yang sama dan tidak membuahkan hasil juga. Dibukanya perlahan pintu tersebut. Betapa kagetnya Ibu Theo saat melihat anaknya dan Jessi sedang tidur berpelukan.
"Dasar anak muda! Tadi bertengkar sekarang tidur berpelukan. Yah, walaupun hanya Theo yang memeluk Jessi, tapi namanya kan tetap berpelukan," gumam Ibu Theo pelan sambil tertawa kecil.