Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Undangan Garaa



Selepas dari ruangan Theo, Jessi kembali ke ruangannya dengan mood yang begitu buruk. Sudah melihat Theo bersama perempuan lain dan bertemu Garaa juga. Hancur sudah mood Jessi hari ini.


Ponsel yang disimpannya berdering, tertulis nama Theo yang menghubunginya. Jessi enggan berbicara dengan Theo, di tolaknya panggilan dari Theo tersebut.


"Jessi, kau sudah dengar beritanya?" nafas Rin terengah-engah seperti orang habis berlari maraton.


"Kau berlari dari kantin kesini? Atur dulu nafasmu," ucap Jessi.


"Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu. Jangan kaget, ya!" ucap Rin sangat berhati-hati seraya mengatur nafasnya.


"Ada apa, Rin?" Jessi mulai penasaran sekarang.


"Aku mendengar kalau Garaa akan melangsungkan pesta pertunangan lusa, Jess," gumam Rin.


"Kau serius?" raut wajah Jessi sangat datar saat mengatakannya.


"Hmm, beberapa pegawai sudah mendapat undangan pestanya."


"Ya sudah, Rin. Mungkin dia tidak mengundang kita," jawab Jessi.


"Kenapa responmu seperti itu, Jess? Kau tidak sedih?" alis Rin terangkat saat mengatakannya.


"Tentu saja tidak. Aku ikut berbahagia atas pesta pertunangan Garaa. Oiya, dimana Elia sekarang?" Jessi celingukan mencari keberadaan Elia.


"Dia pingsan saat mengetahui kabar itu. Sekarang masih di klinik."


"Oh, kasian sekali," suara lirih Jessi masih terdengar di telinga Rin.


"Kau mengasihani siapa? Elia, atau dirimu sendiri?" gusar Rin.


"Sudahlah, aku tidak mau membahasnya lagi."


Rin akhirnya mengalah. Menyudahi pembicaraan mereka soal Garaa.


Jessi mematung di tempat duduknya.


Apa benar aku tidak bersedih?


Apa benar aku berbahagia atas pertunangan Garaa?


***


"Datanglah ke pesta ku," Garaa menyodorkan sebuah undangan mewah. Terukir nama Garaa dan Anna di sampulnya.


"Wah, ternyata perasaan mu pada Jessi hanya sekecil ini, ya. Kukira kau akan mempertahankan Jessi mati-matian," ejek Theo.


"Diamlah, Theo! Kau tidak tahu apa-apa."


"Hahaha, selamat atas pertunangan mu, Garaa. Semoga kau berbahagia bersama Anna dan aku akan berbahagia bersama Jessi," Theo sepertinya senang sekali memancing amarah Garaa.


"Bermimpilah saja dalam tidurmu," Garaa membanting pintu ruangan Theo dengan keras. Theo sukses membuatnya diliputi amarah.


***


Garaa berhenti di depan ruangan Jessi. Tangannya tarik ulur saat akan membuka pintu tersebut. Buka tidak ya?


Tok tok


"Hai, Garaa, ada yang bisa ku bantu?" tanya Rin mendekati Garaa diambang pintu.


"Aku ingin berbicara dengan Jessi sebentar. Dimana dia sekarang?" Garaa melihat kursi Jessi kosong.


"Dia sedang ke kamar mandi, kau mau menunggunya?"


"Baiklah," ucap Garaa berlalu dari hadapan Rin dan menyamankan dirinya di sebuah sofa. Dibacanya majalah dikolong meja. Tidak ada yang menarik, begitu pikirnya.


Tak lama kemudian terdengar suara cekikikan beberapa perempuan, salah satunya suara Jessi. Saat melihat Garaa, kaki Jessi seolah enggan diajak berjalan. Ia diam ditempat.


"Wah, Jessi kedatangan tamu spesial," goda salah seorang rekan Jessi.


"Em, Garaa, apa aku tidak diundang di pestamu?" tanya rekan Jessi yang lain.


"Aku ingin berbicara dengan Jessi sebentar. Semua boleh datang ke pestaku", jawab Garaa.


"Bisa kita bicara diluar sebentar, Jess?" tanya Garaa.


"Tidak. Bicaralah disini," Jessi menatap Garaa.


"Aku hanya ingin memberimu ini, maafkan aku," Garaa menyodorkan undangannya kearah Jessi.


"Ah, undangan pertunanganmu rupanya. Terimakasih sudah mengundangku, Garaa. Aku pergi dulu ke mejaku, pekerjaanku masih banyak."


Garaa menatap Jessi yang meresponnya biasa saja. Padahal jauh di lubuk hati Garaa, ia masih sangat mencintai Jessi dan enggan untuk berhubungan dengan perempuan lain. Apa mungkin Jessi secepat itu melupakanku?


***


"Jess, apa kau sudah punya gaun untuk digunakan di pesta Garaa?"


"Belum, Rin. Tapi aku tidak tahu akan datang, atau tidak, Rin," Jessi menghela nafas panjang.


"Kalau kau belum siap sebaiknya tidak usah datang. Tapi kalau kau tidak datang, keluarga Garaa pasti mengira kau sedang bersedih menangisi pertunangan Garaa. Pikirkan kembali perkataan ku!"


"Benar juga apa kata Rin. Mereka akan semakin merendahkan ku kalau aku tidak datang. Tapi apa aku siap? Aku ingin menangis saja rasanya" gumam Jessi.


***


Jessi berjalan sendirian saat jam pulang kerja. Rin dan Elia sedang ada acara, begitu katanya.


"Apa dia mantan pacar Garaa? Kasihan sekali dia."


"Sok cantik, sih. Biar tahu rasa dicampakkan Garaa."


"Apa kau tidak tahu? Dia juga dekat dengan CEO kita."


"Dasar perempuan murahan!"


Telinga Jessi panas mendengar beberapa perempuan membicarakannya secara terang-terangan. Ingin sekali dia merobek bibir mereka semua.


"Tarik kembali ucapanmu, aku bukan perempuan murahan seperti yang kau katakan!" Jessi menghampiri gerombolan perempuan tersebut dengan amarah yang tidak bisa ditahannya.


"Memangnya kami membicarakanmu? Pede sekali kau," bantah salah seorang perempuan.


"Kau jelas membicarakanku. Berhentilah membicarakan orang lain. Apa kau pikir dirimu sudah benar?" Jessi semakin berapi-api.


"Tentu saja aku sudah benar. Aku bukan perempuan yang sengaja mendekati lelaki kaya hanya untuk menghabiskan uang mereka. Kau pasti sudah tidur dengan salah satunya. Apa mungkin dengan keduanya?" senyum mengejek terulas di bibirnya.


Plaaak


"Tarik kembali ucapanmu. Aku tidak terima kau mengatai ku seperti itu. Sakit? Itu bahkan belum seberapa. Kau mau lagi?"


"Beraninya kau menamparku perempuan jalangg!" ditariknya rambut Jessi dengan keras. Jessi meringis menahan sakitnya.


Perkelahian mereka berlangsung tidak adil. Jessi sendirian sedangkan mereka keroyokan ramai-ramai. Jessi kalah telak, badannya penuh dengan luka cakar. Lawan Jessi hanya sedikit terluka, hanya rambut mereka saja yang terlihat acak-acakan.


Tiiin tinn


Suara klakson mobil membuyarkan perkelahian mereka. Theo turun dari mobil dan melihat beberapa perempuan yang ia kenali sebagai pegawai di perusahaannya. Ia belum tahu kalau Jessi terlibat didalamnya.


"Apa yang kalian lakukan? Tidak malu sama umur?" bentak Theo. Matanya berkeliling memperhatikan satu-satu wajah pegawainya. Sampai dia mendengar suara kesakitan seseorang yang sepertinya ia kenali suaranya.


"Jessi? Astaga, apa yang terjadi denganmu?" Theo menghampiri Jessi yang terduduk lemas di tanah.


"Aku harus memberi mereka pelajaran, Theo," Jessi berusaha bangkit untuk melampiaskan amarahnya, tapi tenaganya sudah habis. Theo menahan tubuh Jessi disisinya.


"Besok kalian semua harus datang ke ruanganku, tanpa terkecuali!" Theo membawa Jessi masuk kedalam mobilnya. Mobil Theo melaju dengan kecepatan tinggi ke rumah sakit di pusat kota.


"Apa yang terjadi? Kenapa kau berkelahi dengan mereka?" tanya Theo.


"Mereka bilang aku perempuan murahan. Aku mendekatimu dan Garaa hanya untuk mendapatkan uang. Mereka juga bilang apa aku sudah tidur denganmu dan Garaa," jawab Jessi dengan nafas yang kembang-kempis.


"Kau harusnya tidak meladeni mereka. Perhatikan posisimu," jawab Theo.


"Posisiku? Apa yang kau maksud posisimu, Theo? Kau bahkan bukan siapa-siapa ku, lantas kenapa aku harus memperhatikan posisiku?" Jessi tidak habis pikir, bisa-bisanya Theo membicarakan soal posisi disaat seperti ini.


"Bukan begitu maksudku, Jess. Dengarkan aku dulu."