Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Tawaran Garaa



Happy Reading 💜


Hari berlalu dengan begitu cepat. Tapi, tidak dengan hati yang sedang gundah. Perasaan cemas dan gelisah yang bersemayam di hati seolah tidak mau pergi. Seperti yang dirasakan Jessi saat ini, sedari tadi dia bergerak-gerak diatas ranjangnya. Berbaring ke kanan, lalu berbaring ke kiri. Begitu terus-menerus.


Ponsel yang sedari tadi tidak terlepas dari tangannya menjadi saksi betapa cemasnya dia saat ini. Theo pergi entah kemana dan tidak mengabari sekalipun.


"Apa aku sudah kelewatan tadi? Aku kan hanya bercanda. Bagaimana kalau dia marah, menjauh dariku, dan akhirnya meninggalkanku?" bibirnya mengucap berbagai kemungkinan terburuk yang akan dia dapat dari kemurkaan Theo kali ini.


Decit suara pintu terbuka mengalihkan perhatiannya. Bibirnya tersenyum senang, mungkin kekasihnya sudah datang, "Theo? Kau datang?"


"Memangnya Theo kemana? Kau sendirian?" tanya Ayahnya.


Ayah dan Ibu Jessi yang datang dan bukannya Theo. Senyumnya luntur seketika. Jessi mengangguk dengan senyum getir di bibirnya.


"Kalian bertengkar lagi? Tidak usah menikah kalau bertengkar terus-menerus seperti ini. Ayah tidak mau kau sedih." Ucapan Ayahnya semakin membuat Jessi merasa bersalah pada Theo.


Jessi menggeleng sekuat tenaga, "Ayah jangan seperti itu. Aku ingin menikah dengan Theo. Dia tidak bersalah! Aku yang salah! Aku tidak bisa menjaga sikapku dan lisanku. Aku membuatnya marah. Aku mengecewakan Theo." Imbuhnya dengan tangis terisak.


Ibu bergerak memeluk anak semata wayangnya yang sedang dilanda perasaan kalut. Mengusap-usap punggungnya dengan lembut. Mengalirkan perasaan kasih sayangnya dengan tulus.


***


Sementara di dalam apartemen, Theo sedang membersihkan darah yang masih mengalir dari tangannya yang terluka. Lantai putih bersih yang dipijaknya berubah menjadi penuh tetesan darah.


Perihnya luka di tangan, jauh lebih perih perasaannya kali ini. Sikap Jessi sudah sangat kelewatan. Bagaimana bisa dia saling menggoda dengan lelaki lain, padahal kekasihnya jelas berada di depannya saat itu. Theo tidak habis pikir kali ini.


Setelah selesai membalut lukanya dengan susah payah, Theo merebahkan dirinya di sofa. Tangannya dia jadikan alas bantal. Sementara tangannya yang terluka dia biarkan menjuntai dengan bebas.


Ponselnya yang bergetar sengaja dia abaikan. Mungkin Jessi yang mencarinya. Tidak mungkin juga sekretaris pribadinya yang menghubungi, karena di hari minggu semua terbebas dari pekerjaan.


"Apa aku terlalu keras membentaknya tadi? Dia sudah minta maaf, harusnya aku tidak semarah itu. Ahh, sudahlah! Semua karena Dokter sialan itu." Umpatnya dengan hati yang masih dipenuhi amarah.


Brengsek!!


***


Rin dan Brian memutuskan menjenguk Jessi di rumah sakit. Setelah mendapat kabar dari Jessi, Rin ingin menemui teman terbaiknya saat itu juga. Dia terlihat begitu mengkhawatirkan Jessi.


"Brian, cepatlah! Aku takut Jessi kenapa-kenapa." Teriaknya sambil mencari pakaian ganti. Brian sedang bertelepon dengan Garaa. Membicarakan masalah pernikahan Garaa yang sudah didepan mata.


"Brian ... Ayo! Kemarikan ponselmu." Rin mengambil paksa ponsel yang masih tertempel di telinga suaminya. "Garaa, aku matikan, ya, teleponnya. Jessi sedang sakit. Kami akan menjenguknya." Pungkas Rin cepat. Tangannya memencet tombol merah setelahnya.


Brian terkekeh memandangi istrinya yang sedang panik. Mulutnya bergerak dengan cepat seperti orang yang sedang mengomel. Sungguh menggemaskan sekali.


Rin mengernyitkan keningnya heran, lalu menarik paksa tangan Brian mengikutinya. "Kenapa memandangiku seperti itu? Ayo, kita berangkat sekarang."


Rin dan Brian sedang berada ditengah perjalanan menuju rumah sakit saat ponsel Brian berdering dengan merdu. Lagi-lagi Garaa yang menghubunginya.


"Ada apa lagi, sih? Aku saja yang berbicara dengannya." Gusar Rin dengan jelas. Garaa sangat menganggu hari ini.


"Ada apa, Garaa?"


"Apa? Kau mau ikut menjenguk Jessi?"


"Kau akan bertemu Theo disana. Kau harus menjaga sikapmu kalau ingin ikut!"


***


Tak butuh waktu lama sampailah mereka di rumah sakit X. Bersamaan dengan Garaa yang ternyata sudah sampai duluan. "Kau harus menjaga sikap. Ingat itu!" Rin memperingati Garaa sekali lagi. Garaa mengangguk singkat. Raut cemas begitu kentara sekali dalam wajahnya.


Mereka menuju kamar Jessi setelah bertanya pada petugas resepsionis. Begitu sampai di depan pintu kamar Jessi, Rin berbalik menatap Garaa sekali lagi. Belum sempat mulutnya berucap, Brian sudah menyelanya duluan.


"Rin, sudahlah. Garaa akan menjaga sikapnya. Kau tidak perlu khawatir." Ujarnya sambil mengelus pundak perempuan yang belum lama ini menjadi istrinya tersebut. Rin mengalah dan berjalan duluan membuka pintu kamar Jessi dirawat.


***


Kehadiran teman-teman Jessi membuat suasana kamar berubah menjadi ceria. Yang tadinya hanya diisi tiga orang sekarang menjadi ramai. Setelah saling menyapa dengan kedua orang tua Jessi, Rin berjalan menuju ranjang Jessi. Kedua mata Jessi terlihat sembab.


"Ada apa? Kenapa kau bisa masuk rumah sakit? Kau sakit apa? Dan dimana Theo?" Rin celingukan kesana-kemari.


"Ceritanya panjang, aku tidak ingin bercerita sekarang, Rin. Aku sedang menunggu hasil tes darah keluar. Mungkin aku sakit parah ...." Tatapan matanya kosong, seperti tidak berdaya sama sekali.


"Sudah, jangan berpikiran macam-macam. Aku akan menunggumu disini, tidurlah." Rin membenarkan posisi bantal Jessi agar dia lebih nyaman dalam tidurnya.


Brian bercengkrama dengan Ayah Jessi diluar ruangan. Sesekali mereka terkekeh dan tak jarang juga tertawa bersama.


Garaa duduk berdampingan dengan Ibu Jessi. Keduanya saling terdiam, tidak tahu harus memulai darimana. "Maaf, Bu." Sebuah kata permintaan maaf meluncur dari bibir Garaa.


Ibu Jessi menoleh menatap Garaa. Garis tangannya yang keriput ia usap berkali-kali. "Tidak perlu meminta maaf, Garaa. Semua sudah terjadi. Sudah, tidak apa-apa, Nak." Ucapnya dengan senyum mengembang.


Garaa memeluk mantan calon Ibu Mertuanya dengan erat. Kalau saja tidak ada perjodohan itu, pasti dia dan Jessi sudah berbahagia bersama. Bersama anak-anak mereka yang lucu dan menggemaskan. Semua tinggal angan-angan sekarang.


***


Malam harinya, penantian panjang mereka berbuah manis. Hasil tes darah yang dilakukan menunjukkan semuanya dalam kategori normal dan baik-baik saja. Malam itu juga Jessi diperbolehkan pulang.


Selesai berkemas, Jessi di bantu Ayahnya untuk duduk di kursi roda. Garaa ingin sekali membantu, tapi Jessi pasti keberatan menerima bantuannya. Alhasil Garaa membantu membawa berbagai perlengkapan seperti tas, termos kecil, dan alas tidur.


"Sudah memesan mobil, Bu?" tanya Garaa tiba-tiba. Ibu menggeleng pelan.


"Biar Garaa yang mengantar, ya, Bu. Garaa hanya ingin membantu saja, tidak lebih." Ucapnya lagi.


Kedua orang tua Jessi saling berpandangan, bahkan Rin dan Brian juga berpandangan dalam diam. Mereka mengangguk menerima bantuan dari Garaa.


Garaa bersama dengan Jessi dan kedua orang tuanya berada di mobil Garaa. Sedangkan Rin dan Brian memutuskan untuk pulang duluan.


***


Dalam perjalanan pulang tidak ada sedikitpun kata terucap dari bibir Jessi. Kepalanya dipenuhi bayangan Theo yang membentaknya. Theo yang pergi meninggalkannya. Bahkan sampai saat ini semua pesan yang dikirim Jessi tidak ada satupun yang dibaca.


Selang sepuluh menit sampailah mereka di depan rumah Jessi. Garaa mengambil beberapa barang dari dalam bagasi, lalu menaruhnya di teras. Dia melihat Ayah Jessi kesulitan membantu Jessi berjalan karena usianya yang sudah tidak muda lagi. Dia berinisiatif menawarkan bantuan.


"Ayah, biar Garaa yang membantu membawa Jessi ke kamarnya. Itupun kalau Ayah dan Ibu mengijinkan." Ucapnya sopan.


Setelah Ayah Jessi mengangguk, Garaa menggendong Jessi yang memandanginya dalam diam. Keduanya saling bertatapan mata sebelum sama-sama mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Aku akan menikah. Katakan padaku kalau kau masih mencintaiku dan aku akan membatalkan semuanya." Bisiknya penuh harap.