Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Berbaikan



Happy Reading 💜


"I-Iya, Sayangku. Aku dan Anin hanya berteman biasa. Aku bisa menjamin itu, Sayang."


Sekali lagi Theo berbohong pada Jessi. Sebisa mungkin dia akan menutupi hal sekecil apapun soal Anin. Setelah bayi Anin lahir, dia akan melepas tanggung jawabnya pada Anin. Dia akan berhenti membiayai kebutuhan Anin dan bayinya. Kebohongan yang berlarut membuatnya tidak nyaman dan semakin merasa bersalah.


Setelah merasa puas mendengar jawaban Theo, hati Jessi menjadi tenang. Dia akan menyakini satu hal sekarang, hanya dia satu-satunya perempuan di hati sang kekasih. Bibir Jessi tersenyum senang, tangannya segera bergerak menarik Theo.


"Ayo pulang, Theo."


"Tidak ingin menginap saja disini? Aku ingin menginap, Jess. Suasananya tenang dan sunyi, cocok sekali untuk melakukan sesuatu, bukan?" alis Theo bergerak naik turun menggoda Jessi.


Jessi yang mendengar ajakan kekasihnya seketika itu juga wajahnya memerah padam. Dia malu sendiri jadinya. Ajakan itu seolah tersirat makna di dalamnya. Jessi menepis pikirannya yang tidak-tidak. Dia memilih duduk kembali di samping Theo. Kepalanya bersandar di pundak ternyaman saat ini.


Theo menyambut dengan senang hati Jessi yang ingin bermanja-manja dengannya. Jarang sekali mereka bermesraan berdua. Tentu kesempatan ini tidak akan dia lewatkan begitu saja. Tangannya mengelus lembut rambut Jessi. Sengaja dia berbisik menggoda. Dia bertanya jika sudah menikah nanti, mereka akan bulan madu kemana dan melakukan kegiatan apa saja.


Jessi tidak paham juga maksud Theo. Dia sibuk berpikir mencari tempat yang ingin dia kunjungi. Bibirnya mengerucut dan semakin membuat Theo menjadi gemas seakan ingin memakannya.


"Bagaimana kalau kita pergi ke tempat yang hijau-hijau. Aku suka sekali melihat tempat yang asri begitu. Apa kau setuju, Sayang?" Jessi menunduk malu saat mengatakannya.


"Apa tadi? Coba diulang lagi? Aku mau dengar, Sayangku," pinta Theo dengan manjanya.


Jessi nyengir memperlihatkan deretan giginya, lalu berlari pergi meninggalkan Theo yang sedang menggodanya. Dia malu, tapi hatinya menghangat saat menyebut Theo dengan sebutan Sayang. Theo yang melihat kekasihnya malu-malu kucing, semakin gemas saja ingin menerkam Jessi saat itu juga.


***


Sementara dilain tempat, diam-diam Ibu Theo berkunjung ke rumah Jessi. Dia ingin bersilaturahmi dengan keluarga calon menantunya kelak. Ibu Jessi dan Ibu Theo duduk saling berhadapan di ruang tamu. Senyum mengembang terukir di bibir keduanya. Sesekali mereka tertawa renyah dan tak jarang juga bibir mereka mengerucut gemas.


"San, saya sudah tidak sabar menjadikan Jessi menantu saya. Saya itu suka sekali dengan Jessi. Dari awal saya lihat, saya sudah merasa cocok, San," mata Ibu Theo terlihat menerawang jauh saat pertama kali dia dan Jessi berpapasan di apartemen Theo.


Ibu Jessi tersenyum kikuk saat perempuan di depannya ini memanggil dirinya dengan sebutan Besan. Tentu saja apapun keputusan Jessi, dia akan mendukungnya. Apalagi melihat keluarga Theo yang sangat terbuka dan menerima Jessi dengan senang hati. Ahh, semoga kebahagiaan selalu berjalan berdampingan dengan mereka semua.


Keduanya tersenyum kecil saat mengakhiri pembicaraan ringan hari ini. Meskipun belum resmi menjadi menantu di keluarga Theo, tapi rasa sayang Ibu Theo terhadap Jessi sudah sangat terlihat. Mereka saling memeluk dan berpisah dengan kebahagiaan di hati masing-masing.


***


Malam semakin larut, suara jangkrik bernyanyian terdengar jelas di tengah kesunyian tempat yang letaknya lumayan jauh dari pusat kota. Beberapa bintang sibuk bermain-main dengan bulan yang bersinar dengan terangnya. Malam yang indah untuk dinikmati bersama dengan orang terkasih.


Jessi mengalah dan memilih menginap bersama Theo disini. Dia berbaring di tempat tidur sembari mengecek grup WhatsApp kantornya. Dia terkekeh geli melihat beberapa rekannya yang sedang melucu di grup. Sampai matanya melihat satu pesan teman kantor yang memberitahu kalau dia baru saja mendapat undangan pernikahan dari Garaa.


Semoga Garaa berbahagia dengan Anna. Aku ikut berbahagia untuknya, Tuhan.


Fokusnya beralih pada ponselnya yang berdering merdu. Suara nada deringnya cukup menarik perhatian Theo.


I'm a bad liar, bad liar...


Now you know, you're free to go


Jessi menerima panggilan dari Rin dengan semangat menggebu. Dia sangat merindukan temannya yang satu ini. Mereka berceloteh panjang lebar khas perempuan kalau sudah bertemu. Setengah jam sudah Jessi berbincang, lebih tepatnya bergosip dengan Rin. Jessi mengakhiri panggilan tepat saat Theo menaiki tempat tidur.


"Rin?" tunjuk Theo pada ponsel Jessi.


Jessi menganggukkan kepala dan ikut berbaring di samping Theo. Matanya tetap fokus pada grup yang sedari tadi sudah menarik perhatiannya. Mereka berdua berbaring di ranjang yang sama, tetapi masih sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Setelah bosan dengan ponsel, mereka menaruhnya di antara kedua bantal yang mereka pakai. Tubuh mereka bergerak secara alami saling mendekatkan diri dan berpelukan menuju alam mimpi.


Jessi merasa ada yang bergetar di atas tempat tidur. Matanya terbuka sedikit, lalu dia mengambil ponsel yang bergetar sedari tadi. Ponsel Theo rupanya. Nama Anin bertengger di layar ponsel pintar tersebut. Jessi mengernyitkan dahinya bingung, untuk apa Anin menghubungi kekasihnya malam-malam. Panggilan dari Anin berakhir begitu saja karena dia sama sekali tidak ingin mengangkatnya. Satu pesan singkat datang dari Anin setelahnya.


Theo, aku ingin periksa ke dokter kandungan esok hari. Kau bisa menemaniku? Aku mohon, please! (Anin)


Mata Jessi berkaca-kaca saat membaca pesan sialan dari Anin. Sengaja ponsel Theo dibiarkan terbuka dengan pesan Anin terpampang jelas disana. Dia berbalik memunggungi Theo dan sibuk menerka-nerka dalam diam.


Aku sabar, Tuhan! Terimakasih ujiannya!