Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Superhero



"Kenapa kau diam saja, bodoh!" umpat Jessi dalam hati.


Jessi menatap tajam Garaa di depannya. Yang di tatap hanya cengar-cengir tanpa menjelaskan apapun. Ditendangnya kaki Garaa di bawah meja karena saking kesalnya.


"Duuh!" Garaa mengaduh memegangi kakinya. Jessi benar-benar kesal padanya.


"Kenapa, Kak?" tanya Elia dengan mimik wajah yang khawatir.


"Tidak apa-apa. Ada semut menggigit kakiku."


"Kak, kalau ada waktu mampirlah ke rumah. Mama pasti merindukanmu."


"Baiklah."


"Apa Garaa dekat dengan Mama mu, El?" tanya Rin. Rin mulai kepo dengan masa lalu Garaa dan Elia.


"Kak Garaa dulu sering berkunjung ke rumahku, Rin. Mama sangat menyukainya. Bagi Mama, Kak Garaa seperti superhero yang dengan berani melindungi anaknya dari para pembully," jawab Elia jujur.


"Kalau bagimu Garaa seperti apa?" pancing Rin.


"Kak Garaa seperti ... Ah sudahlah. Aku tidak mau membahasnya," rona merah menghiasi pipi Elia.


"Aku selesai! Duluan, ya," Jessi bangkit meninggalkan Rin, Elia, dan Garaa.


"Jess, makananmu belum habis!" teriak Rin.


"Aku juga duluan," Garaa mengikuti Jessi dengan langkah sedikit berlari.


***


"Hei. Berhentilah berlari, Jessi!" Garaa memegang tangan Jessi dengan kencang.


"Apa? Mau apa hah?" jawab Jessi dengan galak. Tangannya terlipat di dada.


"Aku suka kau cemburu. Kau sangat menggemaskan," Garaa tersenyum hangat membelai rambut Jessi.


"Siapa juga yang cemburu. Sudah sana pergilah. Urus sana Elia mu!!!" teriak Jessi.


"Aku tidak ada hubungan apapun dengan Elia. Aku memang mengenal keluarga Elia tapi tidak ada kedekatan berarti diantara kami. Aku hanya menganggap dia seperti adik kecilku saja. Percayalah padaku, aku tidak ada hubungan apapun dengannya. Hanya kau satu-satunya," ucap Garaa panjang lebar berusaha menyakinkan Jessi.


"Kenapa kau tidak memberi jarak? Kau suka berdekatan dengan Elia?" tanya Jessi tidak mau kalah. Cemburu masih menguasainya.


"Aku mengaku salah. Aku akan membatasi jarak diantara kami."


"Kau harusnya tahu apa yang harus kau lakukan tanpa aku memberitahumu dahulu. Sudah punya kekasih, tapi masih berdekatan dengan perempuan lain. Kalau aku berdeketan dengan Theo apa kau tidak akan marah?" Jessi melampiaskan amarahnya.


"Aku tidak akan marah. Tapi aku akan sangat marah padamu. Aku mengaku salah, aku minta maaf, sayang. Jangan marah-marah lagi, nanti cantiknya hilang."


"Kenapa memangnya kalau aku tidak cantik lagi? Kau mau memutuskanku kemudian berpacaran dengan Elia?"


"Ya Tuhan ... Aku menyukaimu dalam keadaan cantik, atau tidak cantik. Aku menyukaimu apa adanya. Kenapa kau masih saja marah?" Garaa gemas sendiri menjawab kecemburuan Jessi.


"Salah sendiri kenapa kau menyebalkan. Sudahlah, aku pergi dulu. Jangan mengikuti ku!" ancam Jessi. Jessi melangkah pergi meninggalkan Garaa tapi Garaa mengikutinya.


"Kenapa mengikuti ku?" Jessi berbalik dan langsung menyemprot Garaa.


"Aku tidak mengikutimu. Aku mau kembali ke ruanganku."


"Jangan berjalan dibelakangku. Jangan berdekatan denganku!" perintah Jessi.


"Baiklah-baiklah. Tapi jangan marah lagi."


Jessi menghentak-hentakkan kakinya saat melangkah pergi. Mulutnya menggerutu menirukan ucapan Garaa. Theo berjalan kearahnya. Jessi menundukkan kepala pura-pura tidak melihat Theo.


"Perhatikan langkahmu!" ucap Theo tiba-tiba.


"Baik," Jessi masih saja menunduk sampai Theo berjalan pergi menjauhinya. Garaa yang melihat dari jauh menjadi sedikit penasaran.


"Theo."


"Jangan mendekati Jessi! Dia kekasihku sekarang."


"Saat kau membuatnya kecewa dan menangis, aku akan mengambilnya darimu."


"Jangan bermimpi!" Garaa menatap tajam Theo lalu pergi ke ruangannya. Pikirannya terusik, takut Jessi akan berpaling darinya.


***


Jessi masih kesal dengan Elia. Dia berbicara seperlunya saja, ingin mendiamkan Elia tapi tidak enak juga diam-diaman.


"Jess, pulang nanti kau ada acara?" tanya Rin.


"Tidak. Memangnya kenapa?"


"Temani aku berbelanja sebentar, ya. Aku sedang belajar memasak," pinta Rin.


"Oke, aku temani. Traktir aku makan, ya," ucap Jessi.


"El, kau mau bergabung dengan kami? Kami akan pergi berbelanja kebutuhan memasak setelah pulang kerja," tawar Rin pada Elia.


"Boleh juga. Persediaan makananku juga sudah habis."


Jessi hanya membatin kenapa Elia diajak juga. Entah kenapa Jessi menjadi sensitif soal Elia. Ponselnya berdering ada telepon masuk. Garaa rupanya.


"Halo," ucapnya malas.


"Pulang kerja denganku, ya," ajak Garaa.


"Aku akan pergi berbelanja dengan Rin dan Elia. Pulangnya duluan!" jawab Jessi.


"Ahh baiklah. Apa yang diucapkan Theo padamu tadi?"


"Kenapa kau ingin tahu?"


"Cepat jawab!"


"Theo hanya menyuruhku memperhatikan langkahku."


"Hanya itu?" Garaa masih penasaran rupanya.


"Hmmm. Aku sibuk, aku tutup teleponnya."


"Kau masih marah? Kau mau kuantar berbelanja?"


"Tidak perlu. Kami bisa naik taksi. Aku tutup teleponnya, aku sedang sibuk!" Jessi mematikan sambungan telepon. Sengaja dia menekan tombol power lama agar ponselnya juga mati. Dia masih marah pada Garaa.


***


Rin, Jessi, dan Elia berjalan bersama mencari taksi. Tiinnn tinn suara klakson mobil membuyarkan langkah mereka. Garaa turun dari mobil dan menawarkan tumpangan.


Jessi enggan naik mobil diantar Garaa. Tapi Rin bilang itu akan menghemat uang mereka untuk membayar ongkos taksi. Akhirnya Jessi mengalah dan mau diantar Garaa. Garaa menggandeng Jessi agar dia duduk di sebelahnya. Elia hanya memandang interaksi mereka dalam diam.


"Kenapa ponselmu mati?" Garaa memulai pembicaraan.


"Sedang ku charger tadi," Jessi menjawab tanpa menoleh pada Garaa. Dia masih fokus bermain ponsel.


"Jangan sibuk dengan ponselmu saat kau bersamaku!" perintah Garaa.


Jessi menatap malas Garaa dan tidak menggubris perkataan Garaa. Ia masih saja sibuk dengan ponselnya. Garaa merebut ponselnya dengan paksa.


"Garaa, kembalikan ponselku. Rin, bantu aku!" Jessi berusaha menggapai tangan Garaa yang sedang memegang ponselnya.


"Kau mau ponselmu ku buang? Diam ditempatmu, atau ponsel mu ku buang. Rin, kau juga diam ditempatmu!" ancam Garaa.


"Kau menyebalkan sekali!" Jessi memukul lengan Garaa pelan, tapi akhirnya menuruti Garaa juga dan diam ditempatnya.


"Apa kau dan Jessi sedang terlibat suatu hubungan, Kak?" tanya Elia.