
"Kalian semua boleh kembali ke ruangan masing-masing, kecuali Jessi."
Pegawai-pegawai tersebut menganggukan kepala dan bergegas pergi meninggalkan ruangan Theo. Tinggal Jessi dan Theo berdua di dalam ruangan.
"Duduklah, Jess."
"Kenapa aku juga di skorsing? Aku hanya membela diriku, kenapa juga aku ikut di skorsing?" tanya Jessi yang sedari tadi menahan geram pada Theo.
Jessi tidak habis pikir pada Theo. Dia berkelahi karena membela dirinya, tetapi ikut kena hukuman juga. Sepertinya Jessi sedang bernasib sial.
"Kau berkelahi di area kantor, aku tidak bisa membelamu. Maafkan aku," Theo mendekati Jessi yang duduk melipat tangannya di dada. Hening, hanya hembusan nafas Jessi yang terdengar.
"Kau marah padaku?" Theo mendekatkan wajahnya kearah Jessi.
"Menjauh dariku, Theo! Kau memang menyebalkan!" Jessi mendorong tubuh Theo dan melangkah pergi dari ruangan Theo.
Theo memandang punggung Jessi yang semakin menjauh. Sudah pasti Jessi akan marah dan kesal padanya setelah ini. Padahal sebenarnya Theo ingin mengajaknya berangkat bersama ke pesta Garaa. Jelas ditolak kalau sudah begini.
***
"Jess, kenapa menangis? Hey, ada apa?" Rin mendekati Jessi berusaha menuntut jawaban atas tangisan Jessi.
"Jess, kau kenapa? Ayo jawab, jangan membuat kami penasaran?" Elia menimpali pertanyaan pada Jessi.
Jessi mendudukkan dirinya dan merenungkan kembali apa yang sudah terjadi padanya. Setetes air mata mengalir di pipi Jessi. Tangisnya semakin keras, Jessi tidak menyangka akan di skorsing seperti ini. Theo sangat tidak adil padanya.
"Aku di skorsing tiga hari. Theo sangat menyebalkan," tangis Jessi semakin keras.
"Hah? Apa Theo tidak salah? Kau kan korban, masa di skorsing juga?" Rin dan Elia beradu pandang tidak setuju dengan keputusan Theo.
"Entahlah, dia sangat menyebalkan, aku membencinya!"
"Sudahlah, kau harus menerimanya. Tenangkan dulu dirimu, Jess. Kau harus kuat, ya," Rin dan Elia memeluk Jessi bersamaan. Mereka terlihat seperti Teletubbies berpelukan.
***
Seluruh pegawai di kantor sudah mendengar berita perkelahian kemarin, termasuk Garaa. Ingin rasanya Garaa menemui Jessi dan mengecek langsung keadaannya. Tapi Garaa mengurungkan niatnya karena ia yakin Jessi tidak akan mau menemuinya.
Ponsel Garaa berdering, sebuah telepon masuk datang dari Anna. Dengan malas Garaa mengangkatnya.
"Hmm ada apa?"
"Aku sedang sibuk, nanti ku hubungi lagi."
"Iya. Semua urusan pertunangan sudah siap."
"Baiklah. Bye."
Garaa termenung mengingat sebentar lagi ia akan bertunangan dengan Anna. Gadis yang sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya untuk dijadikan pasangan hidupnya. Sekuat apapun ia menolak keinginan orang tuanya, akhirnya ia pun luluh juga. Ia tidak mau menjadi anak pembangkang. Anak yang tidak berbakti. Di hempaskannya jauh-jauh pikiran tentang perasaannya terhadap Jessi.
"Garaa, kau tidak melihat keadaan Jessi?" goda Brian pada Garaa.
"Mungkin nanti waktu jam makan siang. Aku kasihan padanya. Ku dengar dia dikeroyok beberapa pegawai perempuan," ucap Brian dengan mimik wajah khawatir.
"Apa kau tahu alasan mereka berkelahi?" tanya Garaa
"Sebaiknya kau tanyakan sendiri padanya. Sudah, jangan mengajakku berbicara terus, pekerjaan ku masih banyak."
"Dasar aneh! Kau sendiri yang mengajakku berbicara duluan. Sekarang malah menyalahkan ku," dilemparkan sebuah buku ke arah Brian.
***
Jam makan siang Jessi, Rin, dan Elia bersama-sama pergi ke kantin untuk makan siang. Elia sudah tidak kesal lagi pada Jessi, mengingat Garaa berakhir bukan dengan Jessi.
"Nanti malam kita berangkat bersama?" tanya Elia.
"Kemana?" Jessi dengan polosnya bertanya. Pasti dia lupa kalau nanti malam mereka diundang ke pesta pertunangan Garaa.
"Ke pesta Kak Garaa. Masa kau lupa, Jess?" Elia kesal sendiri jadinya. Mulutnya mengembung kesal.
"Aku tidak tahu harus datang atau tidak. Aku belum memikirkannya," Jessi mengedikan bahunya.
"Kau tidak ingat apa kataku kemarin, hm?" Rin melipat tangannya di dada, alisnya menyatu.
"Ingat kok, hehehe," Jessi merangkul Rin yang masih terlihat kesal padanya.
Jessi, Rin, dan Elia memutuskan akan berangkat bersama nanti malam. Mereka tertawa lebar saat terbersit sebuah ide cara berpakaian mereka agar berbeda dari yang lain. Dilihatnya Garaa dan Brian sedang menikmati makanan di sebuah meja.
"Kak Garaa-Kak Garaa," teriak Elia sambil berlari menghampiri Garaa dan Brian di meja kantin. Seperti bahagia sekali bisa bertemu dengan Garaa.
"Huk ... huk," Garaa tersedak saking kagetnya mendengar teriakan Elia. Di teguknya segelas es di dalam gelas.
"Eh, Kak Garaa maaf. Aku tidak sengaja, apa kami boleh bergabung?" Elia sudah duduk duluan bahkan sebelum Garaa dan Brian menjawab. Giliran Jessi dan Rin mengikuti duduk saat mereka mengangguk memberikan ijin.
Garaa dan Jessi saling berpandangan. Lalu, Jessi membuang pandangannya ke arah lain. Sungguh tidak nyaman satu meja dengan mantan kekasihmu, apalagi yang mau bertunangan dengan perempuan lain. Sebisa mungkin Jessi mencoba tersenyum, ia harus bisa bersikap biasa saja.
"Apa kabar, Garaa?" Jessi berinisiatif menyapa Garaa duluan. Sapaannya membuat Rin, Elia, dan Brian menghentikan sejenak kegiatan mereka.
"Baik. Jangan membahayakan dirimu sendiri, Jess. Lihatlah, kau terluka," Garaa menatap Jessi dalam. Sedangkan yang ditatap menundukkan kepalanya, tidak nyaman.
"Hmmm, baiklah."
"Khaliaan semuaah dhatang kann ke phestha Garraa? Appaah mauuu kuh jemphuuut?" Brian berkata dengan mulut mengembung alhasil suaranya terdengar tidak jelas.
"Telan dulu makananmu," Rin menepuk punggung Brian dengan kencang.
"Shakiiit Yiin," Brian bersusah payah menelan makannya.
"Boleh juga, kau bisa menjemput kami jam tujuh malam, Brian!" Jessi memilih menjawab agar adegan menggelikan di depannya tidak berlanjut.
"Kau datang?" tanya Garaa pada Jessi sambil menatapnya tepat di dalam mata.