Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Terbakar Api Cemburu



Happy Reading 💜


Sore hari yang cerah setelah hujan turun ditandai dengan pelangi yang bersinar. Bermacam-macam warnanya membuat takjub setiap orang yang melihat. Sama halnya dengan dua keluarga yang sedari tadi tertawa dan bercanda bersama. Tidak ada lagi kecanggungan diantara mereka. Semuanya berbaur saling melengkapi satu sama lain.


"Hey, kita ke rumah sakit, ya." Bisik Theo pada kekasihnya yang demamnya belum menurun juga.


Jessi menggeleng dan kembali menikmati kebersamaan keluarga mereka. Jam di dinding menunjukkan pukul tiga sore. Ibu Theo pamit pulang terlebih dahulu. Meninggalkan Theo yang belum mau pulang dan masih ingin singgah sebentar lagi.


"Apa kita tidak sebaiknya pergi ke rumah sakit? Panas badanmu belum juga turun." Theo panik sendiri dengan demam kekasihnya yang enggan turun sedari tadi.


Ayah dan Ibu Jessi setuju dengan ide calon menantunya tersebut. Mereka sepakat membawa Jessi ke rumah sakit. Jessi mengalah lagi dan menuruti kemauan mereka.


***


Mobil melaju dengan kecepatan sedang membela jalanan yang tidak terlalu padat hari ini. Tak butuh waktu lama mereka sampai di rumah sakit X. Theo sengaja tidak melajukan mobil ke rumah sakit langganannya. Karena apa? Karena dia takut kalau Jessi akan bernostalgia jika bertemu dengan Dokter Adam disana.


Jessi sudah berbaring di ruangan yang ditempatinya sendiri. Theo sengaja memilih kamar nomor satu karena dia tidak suka berbagi dengan orang lain.


Dokter dan Perawat memasuki ruangan Jessi dan betapa terkejutnya mereka saat tahu kalau Dokter yang menangani Jessi lagi-lagi Dokter Adam. Theo menatap Dokter Adam dengan tatapan yang sulit diartikan. Seperti ingin marah dan sedikit perasaan cemburu juga.


Ibu Jessi tersenyum senang. Mereka berbasa-basi layaknya orang yang sudah akrab. Jessi mengembangkan senyumnya begitu melihat Dokter yang untuk kesekian kalinya akan menolongnya.


"Mas, lama tidak berjumpa. Aku tidak menyangka akan bertemu disini," ucapnya girang kontras sekali dengan kebanyakan orang sakit pada umumnya.


"Kenapa setiap kali kita bertemu keadaanmu selalu tidak baik-baik saja? Kau membuatku khawatir, Dek Jessi." Satu tangan Dokter Adam berniat menyentuh dahi Jessi untuk mengecek panas tubuhnya.


Theo yang melihat gerak-gerik Dokter yang sudah masuk kategori 'orang yang wajib di cemburui' segera memukul tangan tersebut sebelum sampai ke dahi Jessi. Dahinya berkerut, bibirnya berucap dengan kencang, "Apa yang kau lakukan? Jauhkan tanganmu dari calon istriku!"


Semua terkaget akan ucapan Theo. Bahkan Dokter Adam sempat meliriknya tidak percaya. Bibirnya membentuk sebuah garis tipis, "Aku akan memeriksa calon istrimu, dengan apa aku memeriksanya kalau bukan melalui tanganku? Kau tidak perlu cemburu, Theo."


Jessi menatap tidak percaya pada sikap kekanakan kekasihnya. Kedua orang tua Jessi saling menatap dan tersenyum tipis. Romansa cinta anak muda, begitu pikir mereka.


"Maafkan sikapnya, ya, Mas," ucap Jessi dengan sumringah.


Theo kesal sekali saat Jessi tersenyum dengan begitu sempurna pada Dokter Adam dan bukan pada dirinya. Kakinya bergerak mundur dan memilih menatap jendela kamar rumah sakit daripada berdiam diri disitu melihat interaksi Jessi dan Dokter sialan itu.


***


Pemeriksaan sudah dilakukan, termasuk pengambilan darah untuk di tes di laboratorium. Jessi diharuskan untuk menginap di rumah sakit sampai hasil tesnya keluar.


"Kami akan memastikannya terlebih dahulu, Tuan. Mohon bersabar, ya." Tubuhnya berbalik dan kembali menatap Jessi dengan perasaan yang hanya sendiri yang dia tahu seperti apa menjabarkannya.


"Cepat sembuh, ya! Jangan merindukanku," ucapnya disertai tawa ringan yang memekakkan telinga Theo.


Jessi menganggap Dokter Adam hanya sekedar bercanda, dia membalas candaan tersebut. "Aku tidak yakin ...."


Meskipun Theo tidak melihat interaksi mereka, tapi telinganya masih berfungsi dengan baik dan mendengar dengan jelas apapun yang mereka ucapkan. Telinganya panas begitu mendengar kekasihnya dan Dokter yang tidak tahu malu itu saling menggoda. Dadanya naik turun menahan geramnya perasaannya saat ini.


"Tutup mulutmu! Beraninya kau menggoda milikku?" tunjuknya langsung pada Dokter Adam. Tangannya mencengkeram jas yang dikenakan Dokter Adam dengan kencang.


Ayah Jessi memisahkan Theo yang hampir saja hilang kendali. Tangannya mengepal kuat seakan ingin memberi pelajaran kepada orang yang bersikap kurang ajar itu.


"Aku hanya bercanda. Aku tidak bermaksud seperti itu. Maaf, saya permisi." Raut wajahnya tegas. Kepalanya mengangguk, lalu secepat kilat berlalu pergi.


Theo menatap Jessi dengan sorot mata yang tajam. Bibirnya menutup rapat, tetapi tangannya mengepal dengan kuat. Ayah dan Ibu Jessi paham mungkin mereka ingin menyelesaikan kesalahpahaman ini, mereka berpamitan untuk pulang mengambil perlengkapan menginap.


***


"Aku hanya bercanda. Maaf, sudah membuatmu marah." Jessi meminta maaf karena ulahnya juga kekasihnya marah seperti saat ini.


Diam. Theo tidak berucap apapun. Tatapan matanya mengarah lurus pada Jessi. Bahkan tubuhnya tidak bergeming sedikitpun.


"Apa aku pernah menggoda perempuan lain? Apa aku pernah menanggapi perempuan yang mendekatiku? Jawab!!" bentak Theo dengan keras. Dadanya naik turun dengan cepat.


Untuk kesekian kalinya mereka bertengkar karena rasa cemburu. Bagi Theo, wajar saja kalau cemburu karena kita sayang. Kalau tidak sayang, tentu dia akan bersikap biasa saja. Bahkan terkesan tidak perduli.


Air matanya menetes saat mendengar luapan kemarahan kekasihnya. Sudah lama Theo tidak pernah semarah ini padanya. "Maaf ... Maafkan aku, Theo. Aku hanya bercanda. Aku tidak berbohong. Maafkan aku!" Tangannya berusaha meraih tangan Theo yang masih mengepal.


Ditariknya tangan yang berada dalam genggaman Jessi. Dihantamnya tembok ruangan kamar Jessi dengan sekuat tenaga. Rasa sakitnya bahkan tidak sebanding dengan rasa cemburunya saat ini. Emosinya belum mereda juga. Tangis air mata dan permintaan maaf belum mampu melunakkan hatinya yang terbakar api cemburu.


Theo pergi meninggalkan Jessi dengan tangan yang berlumuran darah. Teriakan Jessi sengaja dia abaikan. Ditutupnya pintu dengan keras. Blaaamm!


Jessi begitu menyesali mulutnya yang tidak bisa diajak kompromi. Yang menurutnya bercanda, ternyata tidak bagi Theo. Berkali-kali dia mencoba menghubungi ponsel Theo. Tapi tidak juga diangkat. Sudah pasti Theo masih marah padanya.


"Maafkan aku, Theo" gumamnya begitu menyesal.