
"Pasti besok dia akan marah-marah, kalau tahu aku membawanya ke apartemen ku," Theo tertawa kecil membayangkan hari esok. Bibirnya bersenandung riang sembari sesekali tersenyum lebar.
Sesampainya di apartemen, Theo segera menggendong Jessi di punggungnya. Ia tidak mau membangunkan Jessi yang tertidur pulas seperti bayi. Ada gempa bumi saja sepertinya Jessi tidak akan terganggu tidurnya.
"Tubuh kecil mungil begini, kenapa bisa seberat ini heh?" Theo sedikit kesusahan menggendong Jessi. Kakinya melangkah sedikit demi sedikit sampai akhirnya memasuki lift. Sedikit lega karena sebentar lagi ia akan sampai di kamarnya.
Ting
Denting suara lift berhenti di lantai sembilan, lantai kamarnya. Theo segera keluar dan melangkah ke pojok kanan, tepat dimana kamarnya berada. Ditempelkannya kartu aksesnya untuk membuka pintu apartemen.
"Yang kuat ya punggung, sebentar lagi sampai!" Theo menyemangati dirinya sendiri saat dirasanya Jessi semakin berat.
Theo menurunkan tubuh Jessi secara perlahan-lahan. Dibaringkan Jessi diatas kasur empuknya. Theo menyelimuti Jessi sampai tertinggal kepalanya saja yang terlihat. Theo memperhatikan Jessi yang sedari tadi masih berkelana di alam bawah sadar dengan nyenyak sekali.
Theo mensejajarkan dirinya dengan Jessi yang berada di atas kasur. Tangannya merapikan beberapa helai rambut Jessi yang terlihat berantakan. Theo membelai rambut dengan lembut. Lalu, mengambil beberapa rambut Jessi dan menciumnya dalam-dalam. Wangi, yang dirasakan Theo saat ini.
***
Theo merasakan badannya sangat lengket dan ingin segera berendam dengan air dingin kesukaannya. Setengah jam berlalu, Theo yang setengah tertidur di dalam bathtub membelalakkan matanya saat mendengar suara seseorang mengadu kesakitan.
Jessi terjatuh ke samping kasur dan sukses mendaratkan pantatnya ke lantai kamar.
"Aduuuuh, sakit sekali. Eh, sepertinya ini bukan kamarku. Aku dikamar siapa ini?" Jessi menengok kanan kiri mencari keberadaan sang empunya kamar. Tangannya memeriksa pakaian yang menempel ditubuhnya, masih sama seperti yang ia kenakan terakhir kali. Ia bersyukur sekali, karena pikirannya sudah kemana-mana sedari tadi.
Pintu kamar mandi terbuka, terlihat seseorang berjalan keluar dengan mengenakan sebuah handuk yang di lilitkan di pinggang. Jessi tidak ingin melihat, terlebih lagi kalau yang keluar itu adalah penjahat yang menangkapnya. Pikiran macam apa ini, seperti di sinetron saja. Jessi memukul kepalanya yang sudah berpikiran macam-macam.
"Hentikan itu! Kau menyakiti kepalamu bodoh!" Theo sudah berpakaian lengkap saat melihat Jessi memukul kepalanya.
"Theo? Kenapa kau bisa berada disini?" Jessi menengadah menatap Theo dengan raut wajah kebingungan, sedikit bersyukur juga karena ia tidak berakhir dengan penjahat.
"Ini kan kamarku. Kau tidak ingat? Kau tertidur seperti bayi di dalam mobilku," Theo menyamankan dirinya di kasur empuknya, tepat disebelah tempat Jessi tertidur tadi.
Jessi mengingat kembali terakhir ia bersama Theo di dalam mobil. Pikirannya melayang dan ia tertidur.
"Ambil sendiri di dalam lemari sebelah kanan, aku mengantuk," Theo membelakangi Jessi yang merengek padanya minta diambilkan sebuah handuk.
"Tidak mau! Tidak sopan kalau aku mengambil sendiri, Theo. Ayo ambilkan dulu!" rengek Jessi menggoyang-goyangkan punggung Theo.
Theo bangun dengan terpaksa. Melangkahkan kakinya untuk mengambilkan Jessi handuk, boxer, dan baju.
"Cepat sedikit kalau mandi. Ada hantu perempuan dikamar mandi ku," Theo menyodorkan perlengkapan mandi Jessi.
"Bohong! Kau sengaja menakutiku kan?" Jessi mendekap erat perlengkapan mandinya. Rasa takut kini menyergapnya.
"Cepat mandi sana! Hantu itu tidak suka kalau ada yang mandi lebih dari sepuluh menit."
Jessi segera berlari ke kamar mandi. Ia tidak mau bertemu hantu perempuan penunggu kamar mandi Theo. Tak sampai sepuluh menit, Jessi sudah keluar kamar mandi dengan degup jantung yang masih berpacu dengan cepat mengingat hantu tersebut.
"Theooooo!" Jessi meloncat keatas kasur dan berteriak tepat di telinga Theo.
"Berisiiiik! Aku mau tiduuur! Jangan menggangguku!" Theo menutup telinganya dengan bantal.
"Aku takut," Jessi berbisik-bisik memelankan suaranya.
"Yasudah, ayo tidur. Kalau kau semakin berisik, nanti hantunya akan datang menakutimu."
"Aku akan tidur di sofa saja kalau begitu," Jessi mengambil bantal di dekat kepala Theo, lalu membawanya ke sofa.
Theo diam saja tidak merespon perkataan Jessi. Dia ingin melihat apakah perempuan ini nyaman dan bisa tidur di sofa. Dilihatnya Jessi bergerak ke kanan dan ke kiri berusaha menyamankan posisi tidurnya.
"Kemarilah, tempat tidurku masih luas untuk menampung tubuh kecilmu itu," Theo menepuk kasur kosong di sebelahnya.
Jessi diam saja tidak menyahuti. Dia bimbang antara mau atau tidak. Kalau mau, ia takut Theo akan macam-macam dengannya. Kalau tidak mau, ia tidak akan bisa tidur dengan nyaman. Sejenak ingin melangkah, tapi kakinya enggan melangkah.
"Kemarilah, cepat tidur. Aku tidak akan macam-macam, mungkin hanya satu macam saja," Theo melihat Jessi yang seperti malu-malu tapi mau.