Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Dekat Tapi Jauh



Happy Reading 💜


Kebersamaan yang mereka lalui terasa hampa saat salah satu diantaranya melakukan sesuatu yang dapat merusak suasana. Tubuh yang semakin menjauh, membentangkan jarak yang memisahkan mereka.


Jessi mengusap air matanya dengan lengan pakaian yang dikenakannya. Perlahan tapi pasti kaki mungilnya melangkah meninggalkan Theo. Di ambilnya tas yang tergeletak di dalam kamar calon suaminya.


Percuma juga berlama-lama disana, yang ada malah semakin membuat mereka bertengkar dan tidak nyaman. Saat dia berbalik, tubuhnya dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang sedang bersandar di pintu kamar. Ya, orang itu adalah Theo, kekasihnya, dan calon suaminya.


Secepat kilat dia mengalihkan pandangan kearah lain. Jangan sampai matanya bertemu pandang dengan mata lelaki itu. Dia berjalan menunduk dengan langkah cepat. Ditabraknya tubuh yang menghalangi jalannya keluar, tapi yang ada dia semakin terpental ke belakang.


"Minggir ... Aku ingin pulang." Dia mengulang kembali usahanya untuk melewati tubuh Theo yang menghalangi jalan.


Lelaki itu menyunggingkan senyum mengejek, "Coba saja kalau kau bisa ...." Tubuhnya dengan otomatis semakin menegang agar Jessi kesusahan melewatinya.


"Semakin besar usahamu untuk melewatiku, maka semakin besar juga usahaku untuk menahanmu tetap disini ...." Ungkapnya dengan serius.


Perempuan itu mengalah saat tubuhnya mulai melemas karena usahanya yang tidak membuahkan hasil. Kakinya melangkah menuju jendela kamar. Dibukanya lebar-lebar kaca jendela tersebut. Semilir udara yang menerpa wajahnya terasa menyejukkan. Matanya terpejam saat dia menarik nafas dalam-dalam dan dihembuskannya dengan perlahan.


***


Theo memandang lekat-lekat punggung perempuan yang sedang merajuk disana. Kakinya bergerak secara perlahan mendekati tubuh mungil tersebut. Tangannya mendekap erat tubuh mungil yang sangat pas dengan tubuhnya yang kekar.


"Maaf ...." Lirihnya dengan suara yang hampir tidak terdengar.


"Aku hanya sedang banyak pikiran hari ini. Maaf, sudah meninggikan suaraku tadi." Imbuhnya lagi.


Tubuhnya bergerak tidak nyaman dalam dekapan hangat kekasihnya. Ingin rasanya memberontak saat itu juga, "Lepaskan, aku ingin pulang ...."


"Aku mohon ... Tenanglah. Periksa saja ponselku kapanpun kau mau. Tidak ada apa-apa disana, aku tidak menyembunyikan apapun darimu, Jess." Jelasnya dengan dagu yang menempel pada pundak Jessi.


Suara detak jarum jam yang bergerak menjadi satu-satunya suara yang terdengar saat itu. Keduanya diam dengan posisi yang belum juga bergerak sedari tadi.


Theo melepas tangannya yang mendekap, lalu memutar tubuh Jessi agar menghadap padanya. Perempuan itu menunduk menyembunyikan wajahnya yang kalut.


Ponsel yang dia letakkan di sofa berdering nyaring memekakkan telinga. Theo mengusap lengan kekasihnya sebentar dan berlalu mengambil ponselnya.


"Kau tidak akan menyangka. Kau pasti akan terkejut. Orang terdekatmu tercatat sebagai pemilik cincin mahal itu." Suara di seberang memberi informasi yang dibutuhkan Theo.


"Siapa orangnya? Katakan ...." Keningnya berkerut sambil menerka-nerka siapa yang dimaksud lelaki ini sebagai orang terdekatnya.


"Kevin ... Bukankah dia sepupumu? Dia tercatat sebagai pemilik sejak setahun yang lalu." Tambahnya saat itu.


Theo mematikan sambungan ponselnya dengan kasar. Tubuhnya bergerak mendekat pada perempuan yang sedang meringkuk diatas ranjang. Mata mereka saling bertatapan. "Apa kau dan Kevin pernah mengenal sebelumnya?"


Jessi menggeleng. "Aku mengenalnya saat kau mengenalkan kami kemarin. Memangnya kenapa? Ada masalah dengan Kevin?"


***


Suasana canggung sangat terasa saat keduanya berada di dalam mobil yang melaju menuju tempat resepsi pernikahan Garaa. Hanya suara deru mesin terdengar. Keduanya sama-sama diam membisu.


Jessi mengenakan gaun panjang yang elegan. Dengan belahan di sisi pinggir yang tidak terlalu tinggi dan belahan dada yang juga tidak terlalu rendah. Sesuai dengan apa yang diinginkan Theo untuknya.


Keduanya berjalan beriringan dengan tangan yang saling bertaut. Setelah berhasil menembus kerumunan banyaknya tamu yang hadir, mereka berniat mengucapkan selamat terlebih dahulu kepada pengantin baru tersebut.


Theo mengucapkan selamat dan berjabat tangan dengan kedua mempelai. Dia berdiri di tepi menunggu sambil mengawasi gerak-gerik kekasihnya.


Jessi bersalaman dan memeluk Anna sebentar. "Selamat atas pernikahanmu dan Garaa. Semoga kalian selalu berbahagia." Ucapnya tulus yang diamini oleh Anna. Keduanya tersenyum kecil sebelum Jessi berganti menatap Garaa.


"Selamat, Garaa. Semoga kebahagiaan selalu bersama kalian. Buatkan aku keponakan yang lucu ...." Kekehnya sambil mengusap matanya yang sedikit berair. Garaa mengangguk kecil, tanpa sadar tangannya bergerak ikut menyapu mata Jessi yang berair.


Lelaki yang sedang menunggunya di tepi segera bergerak dengan langkah tergesa. Ditepisnya dengan kasar tangan pengantin pria yang dengan lancangnya menyentuh miliknya sekali lagi.


Matanya menajam menatap Garaa. Keduanya saling menatap sengit dalam sekian detik sebelum akhirnya dia menarik Jessi pergi dari sana.


Untung tidak terlalu banyak yang memperhatikan insiden memalukan tersebut. Beberapa yang menyaksikan segera berbisik-bisik dengan teman di sebelahnya. Saling mengomentari dan menggunjing tanpa tahu yang sebenarnya.


***


Theo mendiamkan Jessi sejak insiden tersebut, bahkan sampai mereka berada di apartemen. Tidak ada yang ingin menjelaskan dan tidak ada juga yang berniat meminta penjelasan.


Jessi menangis bukan karena tidak rela melihat mantan kekasihnya menikah. Hanya saja keadaanya dan Theo yang tidak baik-baik saja membuatnya bersedih.


Perempuan mungil itu bersandar pada ranjang. Matanya menerawang jauh saat dia masih menjalin kasih dengan Garaa. Garaa begitu menyayanginya. Lelaki itu tidak pernah benar-benar marah padanya. Tanpa dia sadari sebuah garis senyum tercipta di bibir merahnya.


Lain hal dengan Theo. Dia menatap jendela dengan tangan yang menyelinap kedalam saku celana. Keduanya berada di dalam kamar dengan jarak yang dekat. Tetapi pikiran dan ego masing-masing membuat mereka terlihat jauh.


Jessi membuka paksa gaun yang dipakainya, lalu menggantinya dengan pakaian kerja yang dipakainya tadi siang. Sesaat dia melihat jam yang menunjukkan pukul sebelas malam. Dia akan pulang ke rumah, daripada disini bersama dengan lelaki yang tidak menganggapnya ada.


Theo melirik melalui ekor matanya. Bibirnya mendesah pelan sebelum berucap, "Bermalam saja disini. Sudah larut juga. Tidurlah di ranjang, aku akan tidur di sofa."


Tubuhnya membeku saat mendengar kekasihnya berbicara setelah hening menyelimuti mereka untuk waktu yang lama. Tak butuh waktu lama dia sudah selesai membereskan gaun dan perlengkapannya ke pesta. "Aku akan pulang. Maaf, sudah merepotkanmu." Lirihnya malam itu.


Tubuh Theo berbalik dengan sempurna saat telinganya mendengar langkah kaki Jessi yang bergerak menjauh.


"Kita perlu bicara ...." Ungkapnya dengan keras.


"Jessi ... Aku bilang kita perlu bicara ...." Ulangnya saat Jessi tetap berjalan dan mengabaikan ucapan darinya.


"Dasar perempuan!!" Meskipun mulutnya menggerutu, tapi nyatanya dia tetap menyusul dan berusaha menahan Jessi agar tetap tinggal malam itu.