Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Hari Bahagia



Happy Reading 💜


Pengantin perempuan itu kini sedang duduk diatas ranjang dengan senyum yang begitu merekah di bibir manisnya. Rona merah menjalar pada kedua kulit pipinya.


"Boleh apa, Suami?" tanyanya dengan nada menggoda.


"Aku ingin ini ... Ingin ini ingin itu, banyak sekali." Kekehnya sambil bercanda.


"Kau mirip seperti Nobita. Kau ingin apa sebenarnya?" tanyanya meminta jawaban yang pasti.


Theo beringsut mendekat, lalu memeluk tubuh mungil yang membuatnya begitu mendamba sejak kemarin malam. Pertengkaran yang terjadi membuat keduanya belum bertemu hingga pagi ini.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Jessi balik memeluk suaminya dengan begitu erat. Keduanya saling memeluk sampai sesuatu menyadarkan Theo.


"Sebentar, Jess." Tangannya merogoh saku dan mengambil sebuah kotak cincin disana. "Hadiah pernikahan dari Kevin, coba kau pakai sekarang." Tuturnya lagi.


Jessi mengamati cincin yang seingatnya sama dengan cincin yang dia temukan didalam tasnya tempo hari. "Bukankah ini cincin yang berada didalam tasku? Wah ... Kevin baik sekali," ucapnya girang.


Lelaki itu berdecak seakan tidak mau kalah. "Aku juga punya hadiah pernikahan untukmu. Jauh lebih baik daripada hadiah yang diberikan Kevin." Ungkapnya tidak mau kalah.


"Aku menantikan hadiahmu ...." Balasnya menanggapi.


Jessi merebahkan dirinya pada ranjangnya yang empuk. Tapi lain hal dengan Theo, lelaki itu terlihat ragu untuk merebahkan tubuhnya. Perempuan itu menyadari kejanggalan dari sikap suaminya.


"Kenapa? Tidak mau tidur disini?" tanyanya dengan ketus.


Lelaki itu tidak menjawab. Hanya tersenyum dan ikut merebahkan tubuhnya dengan perlahan. Bunyi krieet suara khas ranjang berderit memenuhi telinga keduanya. Dia menegakkan kembali badannya.


"Apa ranjangmu tidak akan rusak, Jess? Kau dengar suaranya kan? Bangunlah ... Ranjangmu akan rubuh." Ditariknya tubuh Jessi dengan panik yang terlihat jelas pada wajahnya.


Jessi tertawa dengan begitu kencang. Kepolosan suaminya benar-benar membuatnya bahagia. "Tidak akan rubuh, Theo. Bahkan jika dipakai untuk kita bergulat juga tidak akan rubuh. Ranjang ini kuat, tahu!" Sangkalnya dengan senyum menyeringai.


Lelaki yang baru saja resmi menjadi seorang suami itu seperti mendapat pancingan dalam kata bergulat yang terlontar dari bibir istrinya. "Mari kita buktikan seberapa kuat ranjangmu. Ayo, kita bergulat!"


Theo mendorong perlahan tubuh mungil istrinya seakan itu merupakan benda rapuh yang bisa pecah jika dia melakukannya dengan kasar. Dia mulai menjamah seluruh wajah istrinya dengan kecupan pelan.


Hasrat yang mulai menggelora membakar akal sehat keduanya, seakan nafsu menjadi raja yang mengambil alih semuanya. Kecupan pelan lama-kelamaan berubah menjadi ciuman yang menuntut. Bahkan tangan keduanya mulai bergerak tak tentu arah.


Satu lenguhan keluar dengan sendirinya dari bibir Jessi dan semakin membuat Theo berada diatas angin. Dia ingin mendengar lenguhan-lenguhan yang lain.


Saat keduanya sedang menikmati gerbang surga dunia, sebuah ketukan pada pintu membuyarkan kegiatan panas mereka. Jessi bangkit dan membenarkan pakaiannya yang sedikit acak-acakan. Sementara Theo melengos mengumpati seseorang yang mengganggu kesenangannya.


Shit!!


***


Sepasang pengantin baru dan seorang supir sedang berada dalam perjalanan menuju hotel tempat resepsi diadakan. Rombongan yang lain berada di belakang mobil mereka.


Mereka akan menginap di beberapa kamar yang sudah di siapkan oleh pihak hotel. Termasuk kamar pengantin yang sudah di desain seromantis mungkin.


Sesampainya disana mereka semua bergerak menuju kamar yang sudah ditentukan untuk beristirahat sebentar sebelum akhirnya mereka akan di rias sekali lagi.


Jessi menguap dengan lebar, rasa kantuk tiba-tiba datang menyerangnya. Ingin rasanya melewatkan prosesi resepsi dan segera tidur saja. Apalagi jika tidur ditemani suami. Membayangkan saja sudah membuatnya tersenyum sumringah.


***


Malam yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Ruangan yang sudah di dekor dengan apiknya membuat Jessi begitu kagum. Pernikahan impian bagi sebagian besar perempuan seperti dirinya. Yang tadinya hanya sekedar khayalan, kini terwujud dengan begitu sempurnanya.


Beberapa rekan kerjanya berbondong-bondong menyalaminya satu-persatu. Terlihat Sara dan beberapa perempuan yang sempat berkelahi dengannya sedang berjalan kearahnya.


"Selamat!" Ucapnya ketus.


"Tentu, terimakasih. Kau tahu pasti akulah pemenangnya!" Balasnya mengejek Sara.


Sara berjalan melewatinya dengan alis yang menekuk tajam. Namun, dia menunjukkan wajah terbaiknya dengan sebuah senyum yang merekah saat mengucapkan selamat pada Theo.


Dia menjabat tangan Theo, "Selamat, ya, Tuan Theo. Semoga anda selalu berbahagia." Kemudian dia bergerak mendekat seolah ingin mencium pipi lelaki itu. Namun penolakan yang dia dapat saat itu.


"Cukup! Terimakasih, atas doanya." Ucap Theo sambil bergerak mundur selangkah.


Rasain lu!


Rin, Brian, Elia, Garaa, dan Anna berjalan mendekati mereka. Pengantin perempuan itu tersenyum sambil melambaikan tangannya.


Suaminya mendekat, lalu berbisik tepat di belakang telinganya. "Jaga sikapmu! Jangan membuatku cemburu, jika kau tidak mau berakhir dengan tidak bisa berjalan besok pagi." Ucapnya memberi peringatan, tidak lupa dia sedikit mencuri kesempatan dengan mengecup leher mulus milik istrinya.


Jessi mengerucutkan bibirnya sebal. Bagaimana jika aksi mesum suaminya dilihat banyak orang, bisa jadi malu sekali dia.


Rin tersenyum dengan begitu tulus. Keduanya berpelukan agak lama, sehingga membuat antrean memanjang.


"Selamat, Jess. Aku bahagia sekali. Kau jangan bertengkar terus dengan Theo. Bertengkar diatas ranjang saja, ya!" Doanya yang segera di aminkan oleh Jessi.


Kini tiba giliran sang mantan kekasih yang sudah terlebih dahulu menikah. Sorot ketidakrelaan terpancar jelas dari matanya.


"Semoga kau selalu berbahagia, Jess. Jangan bersedih lagi, jangan menangis lagi, kau tahu pasti aku selalu ada untukmu. Kau jangan sungkan-sungkan meminta bantuan padaku."


Ditariknya tangan Jessi yang sedang bersalaman dengannya dengan kencang. Reflek membuat tubuh mungil itu bergerak jatuh ke dalam pelukan lelaki yang sudah beristri tersebut. Jessi bergerak ingin melepaskan diri. Sementara Theo melengos memandang kearah lain. Begitu juga dengan Anna, istri Garaa.


Garaa melepaskan pelukan dan berganti bersalaman dengan Theo. Tidak ada sepatah katapun yang diucapkannya. Hanya saling menatap tajam satu sama lain.


***


Selesai bersalaman dengan para tamu undangan, keduanya memilih berbaur dengan rekan-rekannya. Jessi berkumpul bersama Rin dan Elia. Mereka tertawa dan saling berbisik-bisik khas perempuan kalau sudah berkumpul.


Theo sedang berkumpul bersama beberapa lelaki yang dia tidak kenal seorangpun. Mungkin teman sekolah, atau teman kuliah suaminya. Matanya yang sudah sedikit mengantuk melihat jelas lelaki yang memberinya hadiah cincin mendekat pada gerombolan Theo. Seorang perempuan berjalan mengikutinya dengan sedikit menunduk.


Jessi tidak melepaskan sedikitpun pandangannya dari suaminya. Dia tertawa bersama Kevin, lalu saling memeluk dan menepuk punggung. Perempuan itu mendongak dan langsung menghamburkan dirinya untuk memeluk suaminya. Sekarang berganti Jessi yang melengos, membuang pandangan matanya yang tiba-tiba memanas.


***


Suara seorang pembawa acara mengambil alih perhatiannya dan tamu yang lain. Dia memberitahukan kalau ada seorang yang akan menyumbangkan suaranya dalam bernyanyi malam ini.


Sandarkan lelahmu dan ceritakan


Tentang apapun aku mendengarkan.


Dua buah bait yang dinyanyikan membuat Jessi menegang seketika. Lelaki idamannya sedang menyanyi di pesta pernikahannya. Dia bergerak maju dan menjadi penonton di garis terdepan.


Senyumnya begitu mengembang, dia ikut menyanyi dan menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Sebuah sentuhan di pundak membuatnya menoleh.


"Kau suka?" tanyanya dengan berbisik.


Perempuan itu mengangguk senang. Kedatangan Mas Fiersa membuat hari bahagianya terasa begitu lengkap. "Terimakasih, ya, Sayang."


Setelah Mas Fiersa selesai bernyanyi, sosok tegap itu berjalan mendekat ke sepasang pengantin baru tersebut. Dia mengucapkan selamat dan ikut berbahagia atas pernikahan mereka. Tak lupa mereka semua berfoto bersama-sama.


Selesai pertunjukkan singkat dari Fiersa, beberapa tamu undangan berbondong-bondong pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Kini tinggallah keluarga terdekat saja yang masih bertahan disana.


"Hai, kau cantik sekali ...." Sapa Kevin pada Jessi malam itu. Dia menyentuh punggung Jessi yang sedikit terbuka.


Jessi mendelik pada sikap Kevin yang dengan lancang menyentuh punggungnya tersebut. "Terimakasih, untuk hadiah pernikahan yang kau berikan padaku. Cincinnya bagus sekali, aku suka. Kau datang dengan siapa?" Tanyanya penasaran.


"Anin. Dia sedang ke toilet. Kau bisa minta Theo membelikanmu cincin yang lebih mahal daripada yang aku beri. Kau tahu, uang suamimu banyak sekali ...." Idenya membuat Jessi ikut terkikik pelan. Sedikit dia melupakan soal Anin dan suaminya.


***


Tepat saat jam menunjukkan pukul dua belas pesta pernikahan itu bubar. Mereka bergerak masuk ke kamar masing-masing. Sama halnya dengan Jessi yang sudah tidak sabar ingin tidur nyenyak malam itu.


Mulutnya menganga dengan begitu lebar saat matanya melihat isi dari kamar pengantinnya. Ranjang yang dipenuhi dengan taburan mawar merah. Bahkan lilin-lilin kecil yang di susun menjadi bentuk hati membuat suasana menjadi tambah romantis.


"Sayang, kau yang menyiapkan semua ini?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari ranjang dan lilin tersebut.


Theo menggeleng pelan, "Tentu saja tidak, Jess. Aku menyuruh pihak WO menyiapkan ini semua untuk malam pengantin kita. Kau siap?" jawabnya dengan senyum menyeramkan yang membuat perempuan itu bergidik ngeri.


Perempuan itu berlari dan merebahkan dirinya diatas ranjang. Tangan dan kakinya membentang memenuhi seisi ranjang. Theo merangkak naik dan membalikkan tubuh istrinya.


"Sudah siap bergulat, hmm?"