Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Maafkan Aku!



Happy Reading 💜


"Ada yang ingin ku bicarakan," ucap Jessi tiba-tiba.


Theo tidak menanggapi Jessi sama sekali. Dia fokus memakan masakan buatan calon istrinya itu. Jessi menatap Theo sekilas, lalu kembali melanjutkan acara makannya. Tak terasa semua masakan yang di hidangkan Jessi habis tak tersisa sama sekali. Mereka berdua sampai kekenyangan.


Keheningan di dalam apartemen sangat terasa malam ini. Ada dua penghuni yang hanya fokus mengerjakan sesuatu tanpa saling berbicara. Jessi membereskan meja makan dan berbagai peralatannya. Sedangkan Theo membantunya mencuci piring dan gelas.


Jessi mendudukkan diri di sebelah Theo yang sedang menggonta-ganti channel siaran televisi. Mereka duduk berdekatan, hanya bantal sofa kecil yang memisahkan jarak mereka. Theo menaruh kembali remote televisi pada meja di depannya. Tidak ada satupun tayangan yang menarik baginya, tetapi ia juga enggan untuk mematikan televisi tersebut. Takut keheningan semakin terasa menyergap mereka berdua.


"Aku minta maaf untuk semua yang terjadi hari ini, Jess! Aku sama sekali tidak bermaksud mencelakai mu. Tidak juga bermaksud mengecewakanmu. Aku sungguh menyesali atas semua yang terjadi hari ini. Maaf! Maafkan aku!" ucap Theo panjang lebar.


Jessi mendengarkan semua penjelasan Theo, tapi tidak ada satu katapun yang membuatnya berhenti berpikiran buruk. Semua terasa seperti angin lalu. Masuk melalui telinga kanan dan keluar lewat telinga kiri.


"Siapa sebenarnya Anin? Hanya teman atau lebih dari itu? Kenapa dia memandangmu dengan tatapan yang sulit diartikan? Dan aku merasa terlalu cepat kalau aku memutuskan untuk mau menikah denganmu. Aku bahkan belum mengenalmu jauh lebih dalam. Aku tidak tahu makanan kesukaanmu, minuman kesukaanmu, warna kesukaanmu, bahkan semua tentangmu aku masih belum tahu seperti apa. Tidakkah kau merasa kita terlalu cepat memutuskan untuk menikah?"


Jessi mengakhiri unek-unek yang mengganjal di hatinya. Matanya memandang dalam kearah Theo, menuntut suatu jawaban yang pasti. Theo kehilangan kata-kata saat ini. Memang benar semua yang dikatakan Jessi. Mereka belum mengenal lebih dalam satu sama lain.


"Memang benar kita belum saling mengenal lebih dalam. Tapi seiring dengan berjalannya waktu kita pasti akan saling mengenal, Jess. Kita akan saling memahami. Jangan seperti ini, aku mohon!"


Theo memeluk Jessi. Dia ingin membuat Jessi yakin kembali untuk menikah dengannya. Tubuh Jessi menegang, tidak merespon pelukan yang diberikan oleh Theo padanya.


"Aku tidak ingin kehilanganmu! Aku tidak mau kita berpisah! Aku sangat menyayangimu, Jess!" ucap Theo parau.


Tubuh Jessi melemas, tidak kaku seperti tadi. Tangannya bergerak memeluk tubuh Theo. Tangisnya pecah malam itu.


Theo membaringkan tubuh Jessi secara perlahan di tempat tidur. Setelah tangisnya usai, dia terlelap dalam pelukan Theo. Mungkin terlalu lelah menangis membuatnya mengantuk, apalagi hari sudah larut malam. Theo sendiri ikut berbaring di sebelah Jessi. Tubuhnya berbaring menghadap tubuh Jessi.


Maaf aku sudah membohongimu soal Anin sejauh ini, Jess. Tapi semua kulakukan karena aku tidak mau kehilangan dirimu. Semua karena kebodohanku! Aku sungguh menyesal!


"Maafkan aku, Jess! Maaf!" ucap Theo sambil membelai lembut rambut Jessi. Mulutnya tak berhenti meminta maaf sampai kedua matanya terlelap dengan sempurna.


Mentari bersinar dengan cerah di langit. Cuaca yang bagus untuk sekedar berjalan-jalan di akhir pekan. Ada yang memilih berlari pagi, bermain layang-layang, bahkan ada yang pergi alih-alih mengikuti acara Car Free Day, tapi yang ada malah mencari jajanan di luar sana.


Berbeda dengan dua anak manusia yang masih terhanyut dalam tidur yang nyenyak. Jessi tidur meringkuk memeluk guling. Sedangkan Theo menatap Jessi yang masih tidur dengan nyaman. Ahh rupanya Theo sudah bangun.


Kegiatan Theo menatap Jessi terganggu saat ponselnya bergetar. Dengan cepat tangannya meraih benda persegi tersebut. Diusapnya layar setelah beberapa saat. Nama Anin terpampang jelas sebagai orang yang menghubungi Theo pagi ini.


Theo menggeser tubuhnya dan memilih berdiri di dekat jendela kamarnya. Mengamati keadaan sekitar yang lumayan ramai berlalu-lalang orang-orang yang sedang berolahraga. Mulutnya hanya menanggapi apa yang perlu dijawab dan enggan bertanya lebih jauh. Tanpa sepengetahuannya, Jessi sudah terbangun dan sekarang memperhatikan dirinya yang sedang menerima telepon dari Anin.


Jessi menggerakkan badannya pelan. Selimutnya sudah jatuh di samping tempat tidur. Telinga Jessi mendengar suara Theo yang sedang bertelepon dengan seseorang sepagi ini. Meskipun hanya kata iya dan tidak yang didengar Jessi, tapi itu sudah cukup membuatnya penasaran. Tentu dia tidak akan bertanya pada Theo. Jessi lebih memilih agar Theo sendiri yang bercerita padanya.


Theo mengakhiri pembicaraan tidak pentingnya dengan Anin yang sangat menyita waktu sebenarnya. Theo berbalik dan alangkah terkejutnya saat mendapati Jessi sudah bangun dan sedang menatapnya saat ini.


Apa Jessi mendengar pembicaraan ku dengan Anin? Lagi-lagi aku lalai di depan Jessi!


"Hai, sudah bangun."


Theo mendekat pada Jessi yang masih berbaring diatas tempat tidur. Bibirnya melengkung tersenyum agar bisa menutupi kegugupannya saat ini. Satu ciuman Theo mendarat dengan indahnya dibibir Jessi. Ciuman selamat pagi katanya.


Jessi menarik kepala Theo mendekat, lalu bibirnya membalas ciuman Theo dengan lebih panas. Mereka terengah-engah saat melepaskan ciuman. Tangan Jessi membelai lembut pipi Theo dengan tangan mungilnya. Lalu, dengan tangan mungilnya juga dia menampar pipi tersebut.


Mata Jessi berkilat penuh amarah. Lalu, setelah itu mereda dan tersenyum tulus pada Theo. Theo ingin marah saat Jessi menamparnya. Tapi tetap ia tahan juga. Dan sekarang Theo dibuat bingung oleh sikap Jessi padanya.


"Jangan pernah berbohong padaku, Theo. Jangan pernah menduakan aku bahkan mentigakan aku. Aku tidak mau kecewa lagi padamu! Cukup yang kemarin kau sudah mengecewakanku! Maaf, aku sudah menamparmu. Apa rasanya sakit?" ucap Jessi dengan senyum samar di bibirnya.


Theo tersenyum senang menyambut Jessi yang sudah tidak marah padanya. Mungkin tamparan tadi adalah bentuk kemarahan Jessi padanya. Dia akan memaklumi itu semua. Yang penting sekarang hubungannya dan Jessi sudah membaik.


"Aku tidak akan berbohong padamu. Tidak akan menduakan mu atau mentigakan mu! Tidak akan pernah membuatmu kecewa lagi, Cintaku! Kau ingin menamparku lagi? Tidak apa-apa, aku akan menahan rasa sakitnya."


Jessi memeluk erat Theo dan membiarkan perasaan kecewanya menguap begitu saja. Mereka mengakhiri pelukan dengan terkekeh bersama dan senyum mengembang di bibir keduanya. Hari yang indah segera dimulai.