
"Brian akan sampai dalam jangka waktu lima menit, ayo cepat bersiap-siap."
Setelah lima menit menunggu, akhirnya mobil Brian sampai juga di kompleks perumahan Rin. Mobilnya di parkirkan di depan rumah Rin yang bernomor 12A. Brian keluar dari mobil dan menunggu di teras rumah Rin setelah mengabari kedatangannya. Sebuah setelan jas mahal dan necis berwarna hitam yang dipakainya, membuatnya terlihat sangat tampan dan menawan.
Jessi, Rin, dan Elia berjalan menghampiri Brian. Langkah kaki mereka menggema dan membuat Brian menolehkan wajah ke sumber suara. Brian yang tersadar akan kedatangan para perempuan cantik itu membelalakkan matanya terkesiap melihat betapa cantiknya mereka semua, terutama Jessi.
"Jess, kau sangatlah cantik hari ini. Rin, wow kau membuatku ingin menerkam mu sekarang juga. Dan El, kau sangat mempesona sekali," Brian menampakkan deretan giginya yang rapi setelah memuji mereka semua.
"Kau berlebihan, Brian."
Setelah basa-basi singkat mereka, berangkatlah mereka ke pesta Garaa. Rin duduk di bangku depan di samping Brian. Jessi dan Elia duduk di bangku belakang. Untungnya jalan yang mereka lewati tergolong lenggang, tidak macet. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi.
Setelah menghabiskan hampir setengah jam perjalanan, sampailah mereka ke lokasi pesta. Brian dan Rin bergandengan mesra memasuki ruangan, Jessi dan Elia mengikuti dari belakang. Kedatangan mereka cukup menarik perhatian, terbukti dari banyaknya tamu yang menatap mereka dan saling berbisik-bisik. Di dalam ruangan banyak tamu yang sudah datang dan berlalu-lalang sekedar mengobrol, atau mencicipi makanan dan minuman. Keempatnya mencari keberadaan sang empunya acara dahulu untuk mengucapkan selamat.
"Garaa, selamat bro. Semoga bahagia selalu," Brian memeluk Garaa sebentar dan menyalami Anna yang berada tepat di samping Garaa.
"Selamat, ya, Garaa dan Anna, semoga langgeng," ucap Rin memberikan selamat.
"Kak Garaa, apa aku cantik hari ini? Apa aku terlihat seperti perempuan di mata mu, bukan sebagai adik lagi? Selamat atas pertunanganmu, tapi sesungguhnya aku belum rela kakak bertunangan dengan perempuan lain," Elia tersenyum percaya diri membanggakan dirinya lalu sekejap cemberut saat mengucapkan selamat.
Kali ini giliran Jessi yang maju ke depan Garaa dan Anna untuk memberikan ucapan selamat. Jessi memasang senyum terbaiknya, tidak mau terlihat bersedih di hari bahagia mantan kekasihnya ini.
Garaa yang melihat Jessi melangkah di depannya dibuat terpesona akan kecantikannya malam ini. Matanya tak henti menatap Jessi, seakan semua dunianya berpusat pada Jessi. Sungguh sangat cantik Jessi yang berada di hadapannya sekarang.
"Selamat atas pertunanganmu, Garaa. Semoga kau bahagia," Jessi mengulurkan sebuah kotak kecil kado untuk Garaa dan Anna.
"Hmmm, terimakasih. Kau datang bersama Brian?" tanya Garaa.
Di kejauhan terlihat sepasang mata mengawasi kemanapun Jessi pergi. Sepasang mata tersebut adalah milik Theo. Theo begitu terkesima melihat penampilan Jessi yang teramat sempurna malam ini. Ia tidak ingin melepaskan pandangannya sedikitpun dari Jessi.
***
Suara pemandu acara mengalihkan perhatian para tamu. Diumumkannya kalau sekarang tibalah saatnya pertukaran cincin kedua belah pihak. Sepasang cincin emas putih yang dibawa panitia pesta terlihat simpel dan elegan. Jessi menundukkan kepalanya saat Garaa memakaikan sebuah cincin emas putih ke jari Anna.
Harusnya aku yang disana, yang sedang bertukar cincin dengan Garaa.
Suara gemuruh para tamu undangan yang memberikan tepuk tangan menyadarkan Jessi dari lamunannya. Terlihat Rin mengelus lembut lengannya, tanda ia tahu kalau Jessi sedikit tidak nyaman dengan acara pertukaran cincin tadi.
"Tidak apa-apa, kau harus kuat, Jess," elus Rin pada lengan Jessi berusaha menenangkan.
Sementara Jessi, hanya diam saja tanpa menyahut sedikitpun ucapan Rin. Hanya suara desah nafasnya yang terdengar dalam dan panjang. Yang dipikirkannya saat ini adalah ia ingin pulang dan sedikit menangis, menenangkan pikiran dan hatinya.
"Rin, aku agak tidak enak badan. Aku akan pulang duluan. Sampaikan salamku untuk yang lain, ya," Jessi bergegas pergi meninggalkan pesta Garaa tanpa menunggu Rin menyahuti perkataannya.
Rin yang merasa khawatir dengan keadaan Jessi, ikut pergi menyusul Jessi yang sudah tidak terlihat lagi batang hidungnya.
"Kemana perginya Jessi? Cepat sekali larinya. Kalau sampai dia kenapa-kenapa, bagaimana, ya? Aku khawatir sekali dengannya. Aku harus menghubungi Theo," Rin merogoh ponsel yang disimpannya di tas kecil. Dia mencari nama Theo di kontak ponselnya.
Suara sambungan telepon akhirnya tersambung juga. Begitu Theo mengangkat teleponnya, Rin langsung saja bercerita kalau Jessi pergi meninggalkan pesta Garaa sendirian. Tidak tahu pergi kemana dan menaiki apa, karena tadi mereka datang bersama-sama dengan mobil Brian.
Theo segera mematikan sambungan telepon dan bergegas meninggalkan pesta Garaa juga. Dilajukanya mobil yang terparkir di halaman parkiran gedung acara dengan kecepatan tinggi.
"Jess, kemana perginya dirimu?"