
Happy Reading 💜
Setelah berdebat dengan pikirannya sendiri, Jessi memutuskan untuk mencoba mengarungi surga dunia bersama suaminya malam ini. Dia tahu, pasti Theo begitu menginginkan melakukan ibadah tersebut. Tidak ada orang yang tidak menyukai melakukan sesuatu yang dijamin mendapat ganjaran pahala dari Yang Maha Kuasa.
Sesampainya di apartemen, mereka memutuskan untuk menghabiskan siang hari dengan bersantai. Jessi memilih untuk bermain ponselnya, sekedar mengecek grup whatsapp, atau bermain game.
Sedangkan lelaki yang sudah sah mendapat gelar 'suami' tersebut sedang bersikutat dengan laptop dan beberapa berkas yang berceceran di meja kerjanya. Dia menghabiskan waktu santainya untuk mengecek kembali pekerjaannya yang tertunda kemarin.
Sesekali dia mengawasi istrinya yang sedang berada diatas ranjang. Ahh, ingin rasanya dia menerjang istrinya saat itu juga.
Kegiatannya siang itu teralihkan karena mendengar istrinya yang sedang tertawa terkikik. Sedikit heran dan cemburu juga, karena sedari tadi Jessi berfokus pada ponsel pintarnya.
"Kau sedang apa?" tanyanya sambil menyesap secangkir kopi.
"Tidak ada. Hanya sedang membalas pesan beberapa temanku di grup. Kau sudah selesai dengan pekerjaanmu?" Jessi menaruh ponselnya, kemudian dia bergerak menuju meja kerja suaminya.
Perempuan itu duduk diatas meja kerja setelah menyingkirkan laptop agak ke pinggir. Kini dia berhadapan dengan lelaki tersebut. Dia mencondongkan tubuhnya, lalu mengecup lembut bibir yang begitu menggoda di hadapannya.
"Maaf, aku sudah mengabaikanmu dan terlalu fokus dengan ponselku sendiri," ucapnya sambil kembali menegakkan tubuhnya.
Theo mencibir dalam senyuman. "Lain kali, jika kita sedang berdua dirumah, kau jangan bermain ponsel. Bermain yang lain saja denganku." Kekehnya dengan maksud tersembunyi.
Jessi yang menangkap maksud tersembunyi dari ucapan suaminya segera mengangguk menyetujui. "Baiklah, aku tidak akan bermain ponsel. Aku akan bermain bersamamu saja."
"Istri pintar ...." Pujinya dengan senyum merekah.
***
Tepat saat jam dinding menunjukkan pukul tujuh, mereka menyelesaikan makan malam. Mereka memesan makanan dalam aplikasi yang menyediakan berbagai promo menarik setiap harinya.
Perempuan itu sangat gugup saat ini. Hari sudah malam dan mereka akan melakukannya malam ini. Dia tidak tahu harus memulai dari mana. Dia sangat gugup dan cemas karena ini akan menjadi pengalaman pertamanya.
"Aku akan membereskan ini dahulu," cicitnya pelan sambil membereskan bungkus makanan mereka.
"Aku ke kamar dulu kalau begitu. Jangan lama-lama!" Canda suaminya kemudian.
Theo merebahkan dirinya diatas ranjang. Perut yang kekenyangan membuatnya menguap beberapa kali. Matanya terpejam saat tangannya memeluk guling dengan erat.
Perempuan itu berjalan dengan mengendap-endap dan menutup pintu kamar dengan pelan. Dia bernafas lega saat melihat suaminya yang sudah tertidur.
Dia berjalan dengan begitu senang. Gugup yang sedari tadi dia rasakan menguap begitu saja. Dia merangkak naik keatas ranjang dengan perlahan, agar tidak menimbulkan suara yang dapat membangunkan suaminya.
Tanpa dia sadari, Theo sedang tersenyum melihat semua yang dilakukan istri mungilnya. Dia hanya memejamkan mata dan tidak tertidur sebenarnya.
Tanpa banyak basa-basi, Theo menarik istrinya dalam dekapan lembutnya. Bibirnya menyeringai senang.
"Kau tidak tidur? Kau ini menyebalkan sekali!" Protes Jessi dengan bibir yang cemberut.
***
Cahaya yang temaram dari lampu tidur yang dinyalakan membuat keadaan semakin mendukung keduanya. Theo melepas pakaiannya dan menyisakan celana kolor berserta celana dalamnya saja.
Sementara Jessi masih mengenakan kaos yang ukurannya dua kali lipat dari ukuran biasanya. Dia tidak mengenakan lingerie, atau pakaian tidur yang tembus pandang untuk malam panasnya.
Keduanya berhadapan dengan jarak yang begitu dekat. Kaki Theo sudah menelusup diantara kaki istrinya saat itu. Theo menciumi wajah istrinya dengan pelan. Dia mencium setiap jengkal wajah istrinya tanpa melewatkan satu pun.
Ciuman yang lembut membuat keduanya serasa dimabuk cinta. Dia mengecup bibir kenyal yang sedikit terbuka disana. Satu kali kecupan dan mereka saling menatap dalam diam setelahnya.
Dia mengecup lagi dan lagi. Kali ini bukan lagi ciuman lembut, melainkan ciuman yang begitu menuntut. Tangan Jessi bergerak dengan sendirinya menelusuri dada suaminya yang dipenuhi bulu-bulu halus.
Lidah mereka saling membelit menari-nari dengan liarnya. Mengabsen setiap gigi dalam rongga mulut pasangannya. Beberapa saliva menetes dari ujung bibir keduanya.
Kebutuhan oksigen yang mendesak membuat keduanya melepaskan ciuman mereka. Mata yang sayu dan celana yang mengembung menjadi bukti nyata jika nafsu sudah mengambil alih.
***
Theo melepaskan satu persatu pakaian yang digunakan istrinya. Dia begitu terpukau saat dua daging yang menggunung itu terpampang nyata dihadapannya. Apalagi saat dia melihat bagian sensitif yang berada dibawah sana. Dengan susah payah dia menahan hasrat yang semakin membara.
Jessi menutupi bagian tubuhnya dengan kedua tangannya. Dia merasa malu saat tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun.
Theo menyingkirkan tangan Jessi dari sesuatu yang menyegarkan matanya. "Tidak usah ditutupi, Jess. Kau semakin cantik saat tidak memakai pakaian," kekehnya untuk mengurangi gugup.
"Kau ini ...." Rona merah menghiasi kedua pipinya. Meskipun hanya candaan, tapi pipinya bersemu merah juga. Antara malu dan senang.
Theo berada diatas tubuh polos istrinya. Dia menciumi lagi wajah istrinya, bahkan bibirnya bergerak menuju leher dan dada yang membusung dibawah sana.
Lenguhan yang keluar dari bibir istrinya semakin membuat hasratnya tidak terkendali. Tubuh yang bergerak secara otomatis tanpa perlu dikomando terlebih dahulu. Mereka saling bergerak menjamah setiap jengkal bagian tubuh.
Theo melakukannya dengan pelan. Dia menghentikan aksinya saat melihat Jessi meringis kesakitan. Dia mencium bibir dan mengecap leher jenjang yang sudah dipenuhi dengan tanda kepemilikan darinya.
Setelah dirasa Jessi sudah tenang, lelaki itu kembali melanjutkan aksinya. Dia melakukannya dengan pelan, kemudian berubah menjadi cepat dan semakin cepat.
Desahan dan lenguhan dari bibir keduanya memenuhi ruangan kamar malam itu. Peluh keringat yang menetes dan membasahi tubuh tak membuat keduanya menghentikan aksi malam mereka. Ranjang empuknya menjadi saksi pergulatan yang mereka lakukan.
Mereka mengakhiri kegiatan panas itu saat jam menunjukkan pukul setengah sembilan. Rasa puas yang terlihat dari wajah keduanya menjadi bukti jika hasrat yang terpendam sudah tersalurkan dengan indahnya.
Theo memeluk istrinya dengan erat. Dia mendekap dan mencium kening istrinya. "Terimakasih, ya, Sayang. Aku sangat menyayangimu." Bisiknya lembut.
Perempuan itu menenggelamkan wajahnya dalam dada bidang tersebut. Sedikit bermain-main dengan lidahnya disana. "Aku juga sangat menyayangimu, Theo." Balasnya sambil menggigit ****** kecil suaminya.
"Apa kau sedang menggodaku? Kau mau lagi?"