Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Makan Malam



"Apa Garaa yang membuatmu menangis?"


"Tidak, Theo. Aku hanya kelilipan saja waktu berada di rumah Rin tadi," Jessi tidak bermaksud menutup-nutupi, tapi ia enggan kalau Theo sampai mengetahuinya.


"Baiklah, aku percaya padamu. Berpisah saja dengannya kalau ia membuatmu menangis!" perintah Theo. Sementara Jessi hanya diam mematung mencerna ucapan Theo.


"Oiya, apa kau sudah lama menungguku?" Jessi mengalihkan pembicaraan.


"Sudah dari jam satu siang aku disini. Kupikir kau sudah selesai berkencan makanya aku kesini. Ada yang mau ku bicarakan denganmu," wajah Theo berubah serius saat mengatakannya.


"Apa ada sesuatu yang penting?"


"Soal foto ancaman waktu itu, aku sudah menyelidikinya dan ternyata Melani dalang dibalik semuanya. Kau tidak usah khawatir lagi. Aku akan membuat perhitungan dengannya," ungkap Theo.


"Benarkah? Aku tidak habis pikir bagaimana bisa dia melakukan itu. Aku merasa tidak ada masalah dengannya, lalu dia mengancamku begitu. Pasti ada yang salah dengan otaknya."


"Kau benar, Jess. Pasti otaknya bermasalah, hahaha!" penjelasan Jessi sukses membuat Theo tertawa lebar. Tanpa mereka ketahui, Ibu Jessi menguping pembicaraan mereka dibalik gorden yang memisahkan ruang tamu.


Sepertinya Theo anak yang baik


***


Di lain tempat, Garaa berusaha menghubungi Rin karena ia berpikir Jessi pasti sudah bercerita pada Rin soal perjodohannya.


"Hmm Garaa, ada apa?" Rin malas meladeni Garaa kali ini.


"Apa Jessi tadi ke tempatmu?" tanya Garaa.


"Iya, kenapa memangnya?"


"Apa dia bercerita sesuatu padamu, Rin?" Garaa sedikit penasaran.


"Hmm, dia datang padaku dengan keadaan matanya bengkak. Dia bilang kau sudah dijodohkan. Apa itu benar?" tanya Rin


"Hmmm, maaf, Rin aku tidak ingin membahasnya. Terimakasih, ya."


Garaa mendesah panjang ditempatnya. Ia tidak menyangka kisah cintanya dengan Jessi akan berakhir dengan cara seperti ini. Aku harus berbicara dengan Jessi, tapi tidak sekarang.


***


Malam hari di sebuah hotel mewah Keluarga Garaa dan Anna sedang makan malam bersama. Garaa terpaksa mengikuti kemauan orang tuanya. Dilihatnya wajah Anna yang di seberang meja. Cih, Jessiku jauh lebih baik daripada perempuan ini.


"Lebih baik kalian jalan-jalan sebentar berdua, biar saling mengenal" Mama Garaa menunjuk Garaa dan Anna bergantian.


"Anak-anak mungkin malu kalau bersama kita para orang tua, mereka butuh ngobrol berdua," Mama Garaa tersenyum samar.


"Garaa, tunggu aku!" Anna berlari kecil mengejar Garaa.


"Kau mau dijodohkan?" Garaa bertanya tanpa menoleh.


"Aku mau. Kau juga mau kan?" pipi Anna merona malu.


"Tidak. Aku sudah mempunyai kekasih. Kau harus tahu itu. Aku pergi dulu!" bantah Garaa.


Anna yang mendengar jawaban Garaa seketika wajahnya menunduk menitikkan air mata.


Apa kurangnya aku dibandingkan pacarmu Garaa, aku menyukaimu sejak pandangan pertama.


Anna kembali ke tempat para orang tua. Bibirnya tersenyum dengan terpaksa.


"Mana Garaa, Ann?" Mama Garaa mencium aroma tidak beres.


"Garaa pulang duluan, Tante. Tidak enak badan katanya."


"Ohh, maafkan anak Tante ya, Ann," Mama Garaa memegang lembut lengan Anna. Anna mengangguk dalam diamnya.


***


Keesokan paginya Jessi berangkat kerja bersama Rin. Garaa belum menghubunginya sejak kemarin. Ia pun tidak berniat menghubungi Garaa duluan.


"Kemarin Garaa bertanya padaku apa kau sudah bercerita padaku soal perjodohannya," Rin menoleh pada Jessi disampingnya.


"Biarkan saja dia, Rin. Aku malas membahasnya!" Jessi terang-terangan menolak membahas Garaa.


"Bagaimana kalau kita bahas Theo saja. Apa ada sesuatu yang terjadi diantara kalian?" Rin sangat antusias kalau membahas Theo.


"Rahasia, hahaha!"


"Ayo ceritakan padaku, Jess. Jangan-jangan sekarang kau berkencan dengannya?" Rin menutup mulut dengan tangannya. Takut ada yang mendengar selain mereka.


"Apa maksudmu, Rin?" suara lelaki terdengar menimpali omongan Rin.


"Ehh, bukan begitu maksudku ... Begini .... "