Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Retaknya Kepercayaan



Happy Reading 💜


Pagi datang menyapa para anak manusia yang masih bergelut dengan selimut tebal diatas ranjang yang hangat dan empuk. Sinarnya yang menyilaukan mata membuat beberapa orang memilih bersembunyi merapatkan diri kembali pada selimut yang menemani. Tidak sedikit juga mereka yang telah berangkat menjemput berkah dari Tuhan saat sebagian orang masih asyik merajut benang-benang mimpi. Klakson-klakson mobil yang bersahutan mengiringi kepadatan lalu lintas yang seperti tidak ada habisnya.


Untuk kesekian kalinya Jessi bermalam di apartemen Theo. Sedikit perasaan takut menyelimuti mereka, takut keterusan begitu katanya. Mereka memang berbagi ranjang bersama dalam artian yang sebenarnya. Yah, meskipun tidur dan sedikit bermesraan tidak pernah mereka lewatkan begitu saja. Jessi terbangun kemudian mengamati wajah Theo yang masih terlelap, betapa dia sangat bersyukur bisa bertemu dan selangkah lagi akan menjadi pendamping hidup Theo. Tubuhnya merapat mencari kenyamanan pada tubuh Theo yang sudah seperti candu baginya.


"Aku mencintaimu, Sayang."


Jessi sengaja memejamkan matanya lagi, bukan untuk melanjutkan tidur, tetapi untuk meresapi segala perasaan yang sedang dirasakannya sekarang. Dia yang merasa disayangi dengan sepenuh hati oleh Theo. Tak berselang lama mata Theo perlahan terbuka juga. Matanya menyipit berusaha menghalangi cahaya yang menerobos indera penglihatannya. Setelah nyawanya berhasil terkumpul dengan sempurna, dia segera bangun untuk mengambil air minum di dapur. Dia selalu membiasakan diri untuk minum segelas air putih setelah bangun tidur.


Jessi melihat banyak sekali notifikasi pesan dalam WhatsApp. Terdapat pesan dari Ibunya, Ibu Theo, Rin, Elia, bahkan Garaa. Untuk apa lagi laki-laki sialan itu mengiriminya pesan. Sedikitpun Jessi tidak ingin dan tidak mau tahu isi pesan dari Garaa. Theo yang melihat kekasihnya sibuk bermain ponsel dan bukannya mandi segera datang untuk menegurnya.


"Jess, pergilah mandi. Jangan sibuk bermain ponsel," ucap Theo saat mendekatinya.


"Lihatlah. Garaa mengirimiku pesan," jawab Jessi sambil memberikan ponselnya pada Theo. Kening Theo seketika mengkerut, untuk apa lagi laki-laki kurang ajar mengganggu kekasihnya. Apa dia masih ingin dihajar lagi? begitu pikirnya.


Theo menyahut ponsel tersebut, dia memilih menghubungi Garaa saat itu juga. Tak berselang lama ponsel dalam keadaan tersambung.


"Jangan pernah mengganggu kekasihku lagi! Aku peringatkan sekali lagi padamu, brengsekk!" Theo mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.


Dadanya kembang-kempis, emosinya membuncah di dada. Hatinya begitu kesal saat mengingat kejadian kemarin. Jessi yang merasa kekasihnya sedikit menjadi emosi berinisiatif untuk memeluknya sebentar. Baginya memeluk seseorang yang sedang kalut dapat sedikit membantunya untuk merasa tenang.


"Kau sedang menggodaku, ya? Kau mau mandi bersama?" senyum jahil terpampang nyata di bibir manis Theo.


"Tentu saja tidak! Pergilah mandi duluan."


"Ayolah, Jess. Sekali saja, kau mau kan?" Theo sedang dalam tahap merayu Jessi agar mau mandi bersamanya.


"Tidak, bodoh! Pergilah! Aku tidak mau terlambat bekerja untuk kesekian kalinya! Cepatlah, Theo!"


***


Suara klakson mobil tidak dapat dihindarkan. Kemacetan lalu lintas terjadi dimana-mana. Kalau tidak ingin terlambat masuk kerja itu artinya kau harus berangkat lebih pagi untuk menghindari kemacetan. Jessi dan Theo terjebak kemacetan, meskipun tidak lama lagi dia akan sampai ke kantor. Jessi berdecak kesal saat melihat jarum jam yang terus bergerak. Bisa-bisa dia terlambat kalau seperti ini terus-terusan.


"Aku jalan kaki saja, Theo. Aku tidak mau terlambat!" Jessi ingin sekali jalan kaki daripada terjebak di dalam mobil yang belum juga bergerak sedari tadi. Tapi Theo tidak mengijinkannya. Alhasil, tinggallah dia di dalam mobil dengan keadaan bibir yang mengerucut panjang.


Sepuluh menit kemudian mereka sampai di tempat parkir. Jessi berlari sekuat tenaga menuju ruangannya, tidak memperdulikan Theo yang sedang meneriakinya agar tidak berlari-larian. Teriakan Theo terbang bersama angin, tidak sampai pada telinga Jessi sedikitpun.


"Kau kemana saja? Kau sibuk dengan Tuan CEO, ya?" bisik Elia penasaran.


"Rahasia dong!" Jessi nyengir dan tidak ingin membagi tahu kegiatannya dengan Theo.


"Jelas dong dia sibuk dengan Tuan CEO, sibuk tidur dengannya. Perempuan murahan!" Sara ikut andil dalam pembicaraan Jessi dan Elia. Bibirnya tak bisa untuk tidak mencela Jessi. Sengaja dia diam saja tidak menanggapi ucapan Sara.


***


Hari berlalu dengan begitu cepat. Saat jam makan siang, Jessi bersama Elia menghabiskan waktu di kantin. Meskipun sedikit perasaan tidak nyaman menghantui Jessi, tapi dia menepis rasa itu. Beberapa pegawai bahkan dengan sengaja membicarakannya dengan suara yang dikeraskan.


"Dia kan kekasihnya CEO, dia masuk terlambat, ataupun tidak masuk sekalipun tidak jadi masalah. Tidak akan dipecat kan dia sudah menghabiskan malam-malam indah dengan Tuan CEO." Sara dan beberapa perempuan menjadi pelopor dalam hal mencela orang lain.


Telinga Jessi panas juga mendengar hal yang tidak penting-penting amat itu. Tapi kalau seperti itu terus dia juga bisa kehilangan kesabarannya. Ingin rasanya mencakar wajah mereka satu-persatu.


Saat jam pulang kerja, Jessi memilih pulang ke rumah bersama dengan Elia. Theo tidak bisa mengantarnya karena katanya setelah ini dia akan mengikuti rapat pemegang saham. Jessi dan Elia berpisah saat menaiki angkutan umum karena rumah mereka yang berbeda arah.


Saat matanya mulai mengantuk, satu pesan berisikan foto yang dikirim oleh nomor yang tidak dia kenal dengan sukses membuat matanya terbelalak lagi. Sebuah foto yang meretakkan dinding kepercayaannya pada Theo. Foto Theo dan Anin sedang keluar dari sebuah hotel elit waktu itu. Matanya berkaca-kaca seolah air mata yang berada disana ingin menyeruak dengan deras.


"Ada apa sebenarnya? Apa yang tidak aku ketahui soal mereka?" batin Jessi bertanya-tanya.