Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Perempuan Berkalung Syal



Happy Reading 💜


Dua sejoli yang saling bertatapan dalam diam sedang berdebat dengan pikirannya masing-masing. Yang satu begitu ingin menjamah nikmat surga dunia. Sedangkan, yang lainnya sedang memikirkan cara menolak keinginan suaminya tersebut.


"Kita sedang berada di kantor, Theo. Aku tidak mau melakukannya disini, bagaimana jika ada orang yang masuk? Atau, bagaimana jika sekretarismu mendengar suara kita? Aku tidak mau ...." Rengeknya dengan berbagai alasan.


Theo berdecak sebal sembari menyanggah berbagai alasan yang diungkapkan istrinya. "Tidak akan ada orang yang masuk tanpa ijinku. Biarkan saja dia mendengar suara kita. Sekretarisku tidak akan banyak bicara. Ayolah, Jess!"


Perempuan itu mengigit bibir bawahnya sembari berpikir keras. Diingatnya lagi bahwa menolak keinginan suami adalah dosa untuknya. Kepalanya mengangguk mengiyakan ajakan suaminya.


Senyumnya merekah dengan sempurna. Binar-binar kebahagiaan terpancar jelas dari wajahnya. Theo melepas jasnya dan melemparkannya sembarangan. Dia begitu merindukan bersentuhan dengan permaisuri hatinya.


Jessi menahan tubuh Theo yang sudah begitu dekat dengannya. "Kunci dulu pintumu. Bilang juga pada sekretarismu untuk menutup telinganya rapat-rapat. Akan sangat memalukan kalau dia mendengar suara kita." Pintanya lagi.


Lelaki itu menggerutu mendengar permintaan istrinya, tapi tetap dilakukannya juga sesuai keinginan sang istri.


Theo menemui sekretarisnya terlebih dahulu. "Emily, jangan biarkan siapapun masuk ke ruanganku. Jika ada sesuatu yang mendesak kau bisa menghubungiku lewat telepon. Dan satu lagi, tutup telingamu rapat-rapat. Anggap saja kau tidak mendengar apapun dari dalam ruanganku. Aku akan memberimu bonus untuk yang satu itu." Jelasnya panjang lebar.


Sekretaris yang bernama Emily itu mengangguk mengerti dengan semua permintaan bosnya. Dia tentu paham dengan maksud menutup telinganya rapat-rapat. Sudah jelas jika bosnya akan melakukan sesuatu dengan istrinya disana. Maklum pengantin baru.


***


Theo kembali dengan langkah kaki yang besar-besar. Dia melonggarkan dasi pada kerah kemejanya. Bibirnya menyeringai melihat istrinya yang menggulung rambutnya asal-asalan.


"Sudah aku lakukan semua permintaanmu. Apa kita bisa memulainya sekarang?" tanyanya dengan bibir yang menari-nari pada telinga Jessi.


Anggukan kepala disertai dengan lenguhan menjadi awal pergulatan mereka dimulai. Bibir yang mengecup disembarang tempat tanpa henti membuat perempuan itu begitu menikmati sentuhan dari suaminya. Matanya terpejam seiring dengan tangannya yang bergerilya di dada bidang suaminya.


Tangan lelaki itu menelusup kedalam rok pendek istrinya. Sedikit bermain-main dengan jarinya disana. Tubuh keduanya menegang seperti tersengat aliran kenikmatan yang semakin tidak terkira jumlahnya.


Mereka melakukannya dengan cepat. Peluh keringat membasahi tubuh keduanya. Deru nafas yang semakin memburu membuat lelaki itu semakin bersemangat menggerak-gerakkan tubuhnya.


Desahan dan racauan yang keluar dari bibir mungil istrinya semakin membuat hasratnya menggelora. Tak butuh waktu lama keduanya mengakhiri permainan mereka dengan tubuh yang saling memeluk satu sama lain.


"Kau semakin cantik saat ini." Rayunya sambil menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telinga. "Apalagi dengan semua tanda merah itu ...." Godanya sambil menyeringai.


"Apa maksudmu? Kau tidak melakukan sesuatu yang aneh 'kan?" tanyanya dengan wajah curiga.


Senyum menyeringai dan menyebalkan itu jadi satu-satunya jawaban yang Jessi dapat. Dia berlari meninggalkan Theo dan langsung menuju kaca yang tergantung di kamar mandi suaminya.


Tangannya menutup mulut begitu melihat dengan jelas penampakan lehernya dalam pantulan cermin. Leher yang dipenuhi dengan tanda merah yang bertebaran dengan sangat banyak.


"Bagaimana caraku menutupi semua ini? Theooooo ... Teganya kau melakukan ini padaku." Teriaknya merutukki tingkah suaminya yang sudah kelewatan.


Theo bersandar pada pintu kamar mandi yang terbuka. Gerak bibirnya terangkat dengan sempurna. "Bagaimana? Bagus tidak hasil karyaku?" Alisnya terangkat naik turun.


Theo menertawakan istrinya dengan tawa terbahak-bahak. Dia begitu menikmati mimik wajah perempuan yang sedang menggerutu tersebut.


"Tidak apa-apa. Tidak akan ada yang membicarakan tentang bekas merah di lehermu. Ayo, aku antar kembali ke ruanganmu." Bujuknya sambil mengusap pundak istrinya.


Jessi bersedekap dengan alis yang menekuk tajam. "Kalau lehermu yang dipenuhi tanda merah tidak akan ada yang berani membicarakanmu. Tapi berbeda denganku, mereka pasti akan mencelaku tanpa henti. Kau memang menyebalkan sekali!"


Kakinya menghentak-hentak dengan keras. Ditutupnya pintu ruangan Theo dengan keras pula. Blammm!


***


Jessi sedang berjalan mondar-mandir tanpa henti. Dia menggigit jari tangannya pertanda kalau dia sedang gelisah saat ini.


Rin mengulurkan sebuah syal sembari dia mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. "Ambilah ...."


Perempuan itu mengambil syal dari tangan Rin, lalu dengan cepat dia lilitkan pada lehernya. Gerakannya terhenti karena tangan Rin menahannya kali ini.


"Sebentar, Jess." Ditariknya kembali syal tersebut.


Seketika tawa Rin menggelegar dengan kencangnya. "Theo pasti bermain dengan brutal. Lihalah ... Lucu sekali, Jess." Tawa perempuan itu berhenti saat Jessi menatapnya sebal.


"Maafkan aku ... Maaf. Cepat pakai kalau begitu!" Pungkasnya dengan dua jari membentuk huruf V.


Keduanya kembali ke ruangan setelah Jessi mengenakan syal pemberian Rin. Begitu mereka masuk, Sara memicingkan matanya mengamati setiap gerak-gerik Jessi. Sedangkan beberapa pegawai lain menggeleng-gelengkan kepalanya, maklum mengingat mereka masihlah sepasang pengantin baru.


***


Waktu berlalu dengan begitu cepat. Jam pulang kerja sudah berada di depan mata. Theo sedang berada di depan ruangan Jessi. Kepalanya menunduk memainkan game di ponsel pintarnya. Kepalanya terangkat hanya jika beberapa pegawai menyapanya.


Jessi begitu gemas melihat lelaki itu sedang memainkan ponselnya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Ingin rasanya dia meremukkan suaminya tersebut.


"Ayo!" ucap Jessi sesaat sebelum akhirnya kakinya kembali melangkah dengan cepat.


Theo mendongak dan mendapati istrinya sudah berjalan melewatinya. Jelas sekali perempuan berkalung syal itu masih merajuk padanya.


"Hei ...." Theo sedikit berlari mengejar ketertinggalannya.


"Tidak ingin melihat hadiah pernikahan dariku?" Pancingnya lagi saat Jessi mengabaikan sapaannya.


Bibir lelaki itu tersenyum menang saat Jessi berhenti dan berbalik menatapnya juga. Meskipun mimik wajah perempuan itu masih cemberut juga. Tangannya bersedekap di dada.


"Hadiah apa?" tanya perempuan itu dengan curiga.


"Sesuatu yang akan kau sukai. Ayo, ikut aku!"