Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Berpacaran Dahulu



Happy reading everybody 💗


"Aku serius. Jadilah istriku, Jessi."


Theo meminta Jessi untuk menjadi istrinya. Di dalam mobil dipinggir jalan yang sepi. Sungguh momen yang harusnya dilakukan di tempat yang romantis, begitu yang seharusnya diinginkan Jessi.


"Theo, maaf. Aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Ini terlalu cepat," ucap Jessi pelan agar tidak menyakiti hati Theo.


"Kau butuh waktu berapa lama untuk yakin akan hatiku?" tanya Theo sambil mengusap peluh yang membasahi dahinya. Padahal ada AC mobil, tapi ia kegerahan.


"Aku tidak tahu. Saat aku sudah yakin, aku akan menjawabnya."


Jessi dan Theo saling terdiam bersama. Theo memikirkan seribu satu cara agar Jessi bisa segera yakin akan hati dan cintanya. Terlintas sebuah ide dibenak Theo.


"Kenapa kita tidak berpacaran dulu? Mungkin setelah dua hari kita berpacaran kau sudah yakin? Bagaimana? Kau mau kan, Jess?" mata Theo berbinar saat mengatakannya. Ia seperti anak kecil yang menginginkan sesuatu.


Ada apa dengan otak Theo hari ini? Mana ada dua hari sudah yakin? Ya Tuhan, sadarkan Theo-ku. Ehh, kok Theo-ku? Dasar lidah belibet!


Jessi memukul pelan mulutnya. Pikirannya sudah teracuni oleh Theo sampai-sampai ia salah menyebut nama Theo dengan embel-embel Theo-ku.


"Dua hari? Emm, bagaimana kalau satu bulan? Atau dua bulan? Waktu yang pas untuk kita saling mengenal," ucap Jessi sambil tersenyum kikuk.


"Apa maksudmu dua bulan? Kau sengaja berlama-lama agar kau bisa berdekatan dengan lelaki lain kan?" bantah Theo dengan wajah tertekuk.


Cemburu, mudah marah, ngambek tidak jelas. Hal-hal seperti ini yang paling membuat Jessi malas meladeni Theo. Dia berinisiatif untuk menenangkan Theo dengan apa yang akan dia lakukan.


Jessi meraih tangan Theo, tubuhnya dihadapkan pada Theo. Ia sengaja membelai dengan lembut pipi lelaki dihadapannya ini. Dengan senyum hangat ia mengucapkan kalimat qyang ia yakini akan membuat wajah Theo tidak lagi tertekuk.


"Theo, bukankah jika ingin berhasil dalam suatu hubungan kita harus jujur, percaya, setia, saling terbuka. Belum apa-apa saja kau sudah berprasangka buruk denganku. Katanya ingin menikahi ku. Kau harus percaya padaku, aku pun akan percaya padamu. Apa kau paham?" senyum lembut masih bertengger di wajah Jessi.


Theo mendengarkan ocehan Jessi dengan seksama. Hatinya bergemuruh semakin menambah rasa sayangnya pada Jessi. Baginya, Jessi sangat dewasa sekali. Cocok menjadi istrinya kelak.


"Aku paham, Jess. Oke, dimulai dari hari ini, ya. Jangan menyembunyikan apapun dariku, jangan berdekatan dengan lelaki lain, jangan bertingkah macam-macam. Selalu ingat mengabari aku, awas kalau sampai lupa!"


Rentetan wejangan dari Theo mengakhiri perdebatan kali ini. Jessi dan Theo berpegangan tangan selama sisa perjalanan ke rumah Jessi. Theo tak henti-hentinya tersenyum, hari yang indah dan bersejarah dalam hidupnya.


***


Pukul sepuluh tepat mereka sampai di rumah Jessi. Theo ingin mengutarakan maksud hatinya ingin menikahi Jessi. Tapi waktunya tidak tepat. Dia pun berpamitan dan kembali pulang ke apartemennya.


Aku bahagia sekali. Terimakasih, Tuhan.


Keesokan harinya Jessi berangkat ke kantor dengan menaiki angkutan umum. Seperti ada yang kelupaan. Tapi Jessi tidak tahu apa yang dia lupakan. Jessi cuek dan mengesampingkan pikirannya tersebut.


Sesampainya di kantor ia berpelukan cukup lama dengan Rin dan Elia. Mereka sangat rindu setelah tiga hari tidak bertemu. Jessi melirik sekilas kearah mejanya. Terdapat tumpukan berkas menggunung disana. Harinya yang berat akan segera dimulai.


Jessi berlalu ke mejanya dan mulai menyeleksi gunungan berkasnya. Ponselnya bernyanyi merdu di dalam tasnya yang terbuka sedikit. Satu kali ia abaikan panggilan tersebut, tanpa mengeceknya terlebih dahulu. Ponselnya bernyanyi lagi dan itu membuat penghuni ruangan menoleh padanya. Terlalu berisik bagi yang lain.


Hareudang Hareudang Hareudang panas panas panas. Selalu selalu selalu.


Diterimanya panggilan dari Theo yang otomatis menghentikan nyanyian dari nada deringnya. Beberapa pegawai yang sedang asik berjoget seketika badannya menjadi berhenti bergerak dan fokus kembali pada pekerjaannya masing-masing. Belum sempat ia mengucap kata halo, Theo sudah terlebih dahulu mengomelinya.


"Lupa kalau punya pacar? Kenapa tidak mengabari?" omel Theo dari seberang sana.


Jadi ini yang aku lupakan tadi pagi. Aku tidak mengabari Tuan Pemarah satu ini. Mati aku!


"Hehehe maaf, ya, Theo. Aku buru-buru tadi pagi. Jadi lupa tidak mengabari mu. Nanti lagi, ya, pekerjaan ku sangat banyak sekarang. Nanti aku telepon lagi. Bye!" sambungan telepon terputus. Lalu, Jessi berfokus lagi pada pekerjaannya.


Theo mendengus sebal melihat Jessi mematikan ponsel nya begitu saja. Diperiksanya layar cctv yang bertengger seperti layar tancap di depannya. Ia tersenyum simpul melihat dari CCTV Jessi yang sedang fokus bekerja.


***


Saat jam makan siang Jessi mengabari kalau ia akan makan di kantin bersama dengan Rin dan Elia. Menawari apakah Theo ingin bergabung dengannya atau tidak.


Jessi, Rin, dan Elia berada di kantin dengan menu bakso ada didepannya. Kuah hangat yang sangat sedap dengan tambahan bakso kecil-kecil yang full dalam mangkok.


"Theo melamar ku kemarin."


Satu kalimat singkat dari Jessi berhasil membuat Rin dan Elia kaget bukan kepalang. Rin tersedak bakso, Elia pun sama. Kini mereka menegak air putih agar tidak tersedak lagi. Elia kaget bukan kepalang. Ia berucap dengan sangat kencang.


"Theo melamar mu? Apa kau serius?"


Rin segera menarik tangan Elia dan menyuruhnya diam. Semua fokus pegawai beralih kepada Rin, Jessi, dan Elia. Desas-desus terdengar dari seluruh penjuru kantin. Jessi menekuk wajahnya. Ia harus siap menghadapi ini semua.


Fighting!