
Happy Reading 💜
Percekcokan kecil mereka terhenti saat pintu rumah singgah diketuk orang dari luar. Ahh, mungkin Bapak Ojek Online yang mengantar pakaian pesanan mereka sudah datang.
Theo berlari keluar menemuinya. Setelah selesai membayar tagihan, dia kembali ke kamar. Diberikannya satu plastik yang berisikan pakaian tersebut. "Pakailah. Ada satu set pakaian dalam dan dress. Aku tidak tahu apa pakaian dalam itu muat untukmu. Cobalah sekarang."
Jessi mengangguk senang. "Terimakasih, ya, Sayang. Sekarang keluarlah dulu, aku akan berganti pakaian." Usirnya pada Theo.
"Tidak apa-apa, aku akan disini saja. Lagian kan kita akan menikah nantinya. Aku harus membiasakan diri melihatmu berganti pakaian." Modus Theo diselingi dengan tawa renyah dari bibirnya.
Jessi mendelikkan matanya, sorot matanya tidak bersahabat, "Keluar! Kenapa kau jadi nakal sekali sekarang? Apa karena sudah pernah melihat tubuh Anin?"
"Cukup. Hentikan pertanyaan bodohmu itu. Aku tunggu diluar." Ketusnya dengan wajah yang tertekuk sebal.
***
Jessi meneliti pakaian dalam dengan motif polkadot tersebut. Warna merah menyala membuatnya terlihat menawan. "Pasti akan bagus kalau aku pakai," gumamnya.
"Kok tidak muat, sih? Ukuran berapa ini?" Jessi melihat label ukuran yang berada dibagian belakang bra yang dikenakannya. "Pantas saja tidak muat, ternyata ukuran 34. Aku paksa saja daripada tidak memakai bra. Nanti Theo keenakan memandangiku." Jessi terkikik sendiri mendengar ucapannya.
Satu set pakaian dalam dan dress sudah dipakai. Jessi mengambil handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Dia berjalan menemui kekasihnya yang sedang asyik bermain ponsel.
"Sedang apa?" tanyanya sambil menempelkan dagu pada pundak Theo.
"Tidak ada. Hanya melihat undangan yang dikirim Garaa padaku. Temani aku datang kesana, ya." Theo tersenyum lembut, lalu menggenggam tangan Jessi.
Jessi mengangguk ragu-ragu. Bagaimana kalau terjadi hal yang tidak diinginkan disana. Rasa traumanya belum juga berkurang.
Theo menyadari kalau kekasihnya mungkin belum nyaman jika bertemu Garaa, "Tidak ada yang perlu kau takutkan. Aku 'kan selalu bersamamu. Kemarikan handuknya, akan ku keringkan rambutmu."
Tangannya mengambil handuk yang masih dipegang erat Jessi. Tarik ulur handuk berlangsung sekian detik sampai Jessi melepaskan tangannya dan mengalah membiarkan Theo mengeringkan rambutnya.
***
Hujan deras tidak lagi terdengar suaranya. Mungkin sudah reda diluar. Suara burung-burung kecil terdengar bersahutan memecah kesunyian. Jessi menguap pelan saat tangan Theo yang mengeringkan rambutnya berhenti. Dia merebut paksa sisir yang sudah disiapkan Jessi.
Setelah selesai semua pelayanan Theo kali ini, mereka bergegas pulang mumpung hujan sudah reda. Jessi menghirup dalam-dalam udara yang begitu segar setelah hujan. Bunga-bunga yang nampak begitu segar karena mendapatkan pasokan air yang begitu banyak.
Jessi tertidur disepanjang perjalanan pulang. Theo begitu bosan tidak ada yang menemaninya berbicara. Dia memikirkan kembali rencananya untuk menikahi Jessi secepatnya. Dia tidak mau ada lagi yang berusaha memisahkan hubungan mereka.
***
Theo menepikan mobilnya disamping mobil yang dikenalinya adalah milik Ibunya. Theo menggendong Jessi di punggungnya. Langkahnya tertatih-tatih dengan perlahan.
Semua mata memandanginya heran. Ada kedua orang tua Jessi dan Ibunya diruang tamu. Theo tersenyum kecil menyapa mereka. Dia diantar Ibu Jessi untuk membaringkan Jessi di ranjangnya.
"Maaf, Bu. Jessi kehujanan dan badannya sedikit demam. Tadi sudah turun, sekarang naik lagi suhu tubuhnya, Bu. Maaf, Theo tidak bisa menjaganya dengan baik." Sesalnya dengan wajah menunduk.
Tiba-tiba Ibu Jessi memeluk Theo erat. Tangannya menepuk punggung Theo dengan lembut. "Tidak apa-apa, itu bukan salahmu. Ibu senang akhirnya kau dan Jessi bisa berbaikan, Nak. Terimakasih, sudah mencintai Jessi dengan baik." Setetes air mata mengalir dari mata yang sudah menua tersebut.
Mereka masih berpelukan bahkan saat suara Jessi menginterupsinya. "Ada apa, Bu? Aku sudah sampai rumah?" matanya berkeliling menatap sekitar.
"Sudah. Diluar ada Ibunya Theo datang. Sapalah dia sebentar, Jess," ucap Ibu sambil memandangi putrinya. Jessi mengangguk pelan.
Mereka bertiga keluar dari kamar dan menuju ruang tamu. Ibu Jessi berdiri menyambut calon menantunya. "Kau sakit, Sayang? Ibu merindukanmu." Peluknya erat.
"Sedikit demam, Bu. Ibu sudah lama?" tanya Jessi kemudian.
Jessi dan Theo duduk berdampingan. Ayah dan Ibu Jessi duduk di depannya. Sedangkan Ibu Theo duduk di arah samping Theo. "Ada apa, Yah? Kenapa serius sekali?"
Setelah berdehem dan menghela nafas sebentar, Ayah berkata, "Kami sudah memutuskan untuk menikahkan kalian minggu depan. Apa kalian setuju?"
Bak tersambar petir disiang hari Jessi begitu terkejut dengan rencana pernikahan yang begitu mendadak. Lain hal dengan Theo, senyumnya mengembang dengan sempurna. Dia tidak akan keberatan menikah minggu depan. Bahkan jika diminta menikah sekarangpun dia tentu siap sedia.
"Apa tidak terlalu cepat? Mungkin bulan depan?" tawarnya sambil melihat satu persatu wajah keluarganya.
Calon mertuanya menggeleng, "Lebih cepat lebih baik, Jess. Ibu tidak ingin terjadi hal yang tidak-tidak seperti saat Anin berusaha memisahkan kalian. Kau mau kan menikah dengan Theo?" bantah Ibu Theo dengan cepat.
Jessi mengangguk pasrah dengan senyum terpaksanya. "Bagaimana kalau Theo tiba-tiba mengkhianatiku lagi?" batinnya bertanya-tanya.