Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Iming-Iming Membeli Mobil



Happy Reading 💜


Sekuat apapun keinginannya untuk menerima, namun pada kenyataannya hati kecilnya belum bisa melakukan itu. Masih ada sedikit perasaan mengganjal dan tidak ikhlas atas apa yang sudah terjadi di masa lalu.


Mata yang membengkak, suara yang parau, dan tatapan mata yang sendu menunjukkan kalau dia sedang tidak baik-baik saja saat ini.


Mungkin bagi sebagian besar orang tidak akan jadi masalah karena tidak ada perbedaan antara lelaki yang sudah pernah, atau yang belum pernah melakukan itu. Berbeda dengan perempuan, yang akan selalu meninggalkan tanda yang kentara.


Namun, berbeda bagi perempuan bertubuh mungil ini. Selain belum bisa ikhlas, terdapat perasaan takut juga disana. Takut dibanding-bandingkan, takut tidak bisa melakukannya sebaik perempuan pertama bagi lelaki tersebut.


Perempuan itu sedang berbaring. Matanya fokus menatap langit-langit kamar. Bayangan kekasihnya dan perempuan lain terpampang nyata dalam pikirannya. Bibirnya mendesah pelan seraya matanya yang ikut terpejam.


Theo keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk yang melilit pinggangnya. Satu tangannya dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah dengan sebuah handuk kecil.


Matanya melirik ke ranjang yang ditempati Jessi. Kekasihnya masih berada di tempat dan posisi yang sama, mungkin perasaan gundah gulana di hatinya belum juga usai. Theo sengaja membiarkan Jessi disana, sementara dirinya berganti pakaian.


***


Sepuluh menit kemudian Theo kembali dengan setelan pakaian kerjanya. Tangannya sedikit kesusahan memasang dasi.


"Jessi ... Tolong," pintanya seraya mendekat pada kekasihnya.


Merasa namanya dipanggil, secepat kilat matanya terbuka. Sejenak keduanya saling berpandangan. Lalu, dia bangkit dan memasangkan dasi tanpa banyak berkata. Mulutnya diam, hanya tangan yang sibuk bekerja.


Theo memperhatikan gerak-gerik perempuan yang sedikitpun tidak mendongak menatapnya. Tangannya memeluk pinggang mungil tersebut. Menipiskan jarak diantara keduanya.


"Kau masih marah?" tanya Theo tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Jessi.


"Entahlah, aku tidak tahu. Kau tidak perlu mencemaskanku, aku bisa mengendalikan perasaanku sendiri," cicitnya pelan.


Jessi menyudahi acara memasangkan dasi pada kemeja Theo. Tubuhnya beringsut mundur dan bergerak melepaskan diri dari jeratan peluk kekasihnya.


Dilonggarkan kembali dasi yang sudah terpasang rapi dalam leher kemejanya. Matanya memandang punggung Jessi yang masih setia berdiri disamping ranjang. "Ayo jalan-jalan, aku tidak akan bisa fokus bekerja kalau kau sedang marah seperti ini."


Bibirnya mengerucut sebal, sedetik kemudian dia berbalik dengan senyum manisnya. "Oke! Ayo ajari aku menyetir mobil. Aku akan mencicil mobil bulan depan."


Theo seperti mendapat angin segar dalam panasnya hubungan mereka saat ini. Dia akan memanfaatkan situasi ini sebaik mungkin.


"Ayo ke showroom mobil. Aku akan membelikan satu yang sesuai kebutuhanmu, ya, bukan sesuai keinginanmu." Ralatnya dengan sedikit menyeringai.


Senyumnya mengembang dengan apik. Deretan giginya yang putih bersih sampai terlihat. Secepat siang yang berganti ke malam, secepat itu pula kalut hatinya berganti dengan rasa bahagia yang menggebu-gebu.


"Kau tidak sedang bercanda, 'kan? Tidak sedang membohongiku, 'kan?" Teriaknya antusias sekali dengan tubuh yang sudah menghambur pada dekapan Theo.


Theo menggeleng sambil merapikan anak rambut Jessi yang sedikit berantakan. Perempuan itu kemudian mengecup pipinya berulang-ulang sambil mengucap terima kasih.


"Ini ...." Tunjuk Theo pada bibirnya dengan senyum menyeringai.


Tak perlu pikir panjang Jessi mencium bibir Theo dan sedikit berlama-lama disana. Lidahnya menelusup menyusuri langit-langit rongga mulut kekasihnya. Lidah keduanya saling membelit dengan syahdu.


Hasrat yang sudah dipendamnya dengan susah payah kembali bergejolak. Si Junior sudah menegang di dalam celana. Jessi bergerak naik keatas tubuh kekasihnya. Tangannya meremass rambut lelaki itu dengan gemas.


Jessi tahu kalau junior Theo sudah menegak dengan sempurna karena dia merasa ada yang mengganjal saat dia duduk diatas tubuh kekasihnya. Bahkan tangan kekasihnya sudah bergerilya dengan bebas menjamah kulit perutnya.


Ciuman panas mereka terlepas dengan nafas keduanya yang terengah-engah. Setan dalam diri sedang berkuasa ingin menuntaskan hasrat yang sedang bergelora.


Jessi turun dengan senyum jahil dan tawanya yang renyah. Sementara Theo menelungkupkan badannya, dia tidak ingin menerjang perempuan itu dengan ganas. Diredamnya hasrat yang sudah kepalang tanggung tersebut dengan mata yang terpejam.


"Ayo membeli mobil ...."