
Happy Reading 💜
Suasana ruangan yang sepi membuat Theo menjadi sedikit menggila. Tangannya menarik Jessi untuk duduk di pangkuannya. Bibir mereka saling tersenyum dengan begitu mendamba.
Jessi mengalungkan lengannya dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang milik lelaki pujaan hatinya. Tangannya bermain-main mengotak-atik kancing kemeja Theo.
"Jess, apa aku perlu membeli ranjang baru? Untuk ditempatkan diruangan ini." Tanya Theo memecah keheningan.
Jessi menatap Theo sejenak, "Memangnya perlu? Untuk apa menaruh ranjang disini?" jawabnya sambil terheran-heran.
Senyuman licik menyeringai terulas di bibirnya, "Untuk memakanmu, memangnya untuk apa lagi. Kau ingat 'kan seminggu lagi kita menikah?"
Kedua kulit pipi Jessi memerah malu, "Kau ini! Kenapa otakmu mesum sekali. Kau sudah tidak sabar, ya?" goda Jessi dengan senyum nakal.
"Aku sudah menahannya selama ini. Dan kau menggodaku terus-menerus. Akan aku pastikan di malam pertama kita, kau akan menerima balasannya. Ha-ha-ha," tawanya memecah seisi ruangan.
Jessi balas menyeringai, "Lalu, bagaimana jika di malam pertama kita aku sedang datang bulan? Bagaimana, hmm?"
Theo menghentikan tawanya dalam sekejap, namun sedetik kemudian dia tersenyum lagi. "Tidak masalah, masih ada malam-malam berikutnya. Kau harus siap sedia entah itu pagi, siang, sore, ataupun malam hari." Pungkasnya dengan semua rencana liciknya.
"Ahh, yang benar? Aku menantikannya ...." Bisik Jessi dengan senyum menggoda. Bibir mungilnya sedikit terbuka, memberi kode pada Theo untuk menciumnya.
Theo sibuk menyibakkan helaian rambut Jessi ke belakang telinga dan tidak menyadari kode-kodean tersebut. "Semalam, kalian naik taksi sewaktu pulang dari rumah sakit?"
Sedikit ragu untuk berbicara jujur tentang Garaa yang mengantarnya semalam. Takut Theo akan cemburu dan mereka bertengkar lagi. Tapi hati kecilnya ingin berkata jujur. "Kami diantar Garaa. Dia datang ke rumah sakit bersama Rin dan Brian." Ungkapnya saat itu. Iris matanya lurus menatap Theo.
"Tolong jangan cemburu, Theo. Aku memutuskan untuk berteman dengan Garaa. Kau tidak perlu khawatir aku akan kembali dengannya. Aku 'kan sudah punya kekasih dan calon suami terhebaaat seduniaaaa." Imbuhnya dengan jelas.
Cupp.
Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Jessi. Dengan bangganya dia berkata, "Kau memang benar. Pintar sekali kekasihku ini." Tangannya semakin mengerat pada pinggang ramping milik kekasihnya.
***
Kebersamaan yang mereka habiskan bersama membuat waktu terasa begitu cepat. Jessi tidak menyangka kalau dia sudah satu jam berada di ruangan Theo. Kakinya reflek turun dengan tergopoh-gopoh, "Aku akan kembali ke ruanganku, Theo. Aku sudah terlambat sekali. Aduuhh ... Bagaimana ini?"
Langkah kakinya ragu-ragu untuk melangkah. Tidak masalah jika dia terlambat kemudian gajinya akan dipotong. Tapi yang jadi permasalahan sebenarnya adalah para pegawai lain yang akan semakin mencelanya habis-habisan. Menyindir tiada henti.
Suara khas lelaki yang akan jadi suaminya menghentikan pergerakan mondar-mandir Jessi. "Aku 'kan sudah bilang, kau tidak usah berkerja hari ini. Kau bisa pulang dan kembali beristirahat, atau mau menemaniku disini?" ucapnya tegas sambil memberikan pilihan.
Jessi duduk di sofa sambil merebahkan dirinya dengan nyaman. Tangannya mengotak-atik ponsel pintarnya. "Aku disini saja, mengganggumu bekerja."
Theo melihat tingkah laku kekasihnya sejenak, lalu kembali bersikutat dengan segala macam pekerjaannya.
***
Sore hari setelah jam pulang kantor, Jessi dan Theo berencana berkunjung ke rumah saudara dari keluarga besar Theo.
Mereka melewati kepadatan lalu lintas di jam pulang kantor yang tidak ada habisnya. Lalu lintas yang ramai membuat perjalanan mereka yang awalnya hanya membutuhkan waktu satu jam menjadi dua jam lebih lama.
Mobil menepi di area perumahan elit yang nampak dari luar seperti istana raja. Bangunan kokoh, tinggi, dan menjulang dengan gagahnya.
Perempuan itu sedang mengusap-usap kulit tangannya, kentara sekali kalau dia sedang gugup. "Aku takut ... Jika mereka tidak bisa menerima kehadiranku dalam kehidupan mewah kalian, Theo." Cicitnya pelan.
Diusapnya lengan Jessi dengan lembut, bibirnya mengecup sekilas pundak yang tertutupi kain kemeja tersebut, "Diterima, ataupun tidak diterima, apapun keputusan mereka tidak akan berpengaruh sedikitpun padaku. Tenanglah ...." Terangnya dengan kemantapan seratus persen.
Jessi tetap mengangguk, walaupun hati kecilnya tidak bisa memungkiri perasaan takut, gugup, dan cemas yang melebur menjadi satu.
***
Mereka berdiri di depan pintu yang bergaya modern dengan tinggi mencapai dua meter itu. Theo memencet bel rumah dan tak lama seorang pelayan datang membukakan pintu untuknya dan Jessi.
"Selamat datang, Tuan Theo. Silahkan masuk, Nyonya Besar dan Tuan Muda Kevin sudah menunggu." Ucap salah satu pelayan dengan hormat. Kepalanya menunduk sampai Theo dan Jessi melewatinya.
"Tuan Muda Kevin? Apa dia anak dari Bibi Dora?" batin Jessi bertanya-tanya.
Begitu memasuki rumah, Jessi disuguhkan dengan pemandangan yang jauh lebih mencengangkan daripada saat dia memasuki rumah Theo untuk pertama kalinya.
Lantai yang berwarna keemasan dan dinding yang dipenuhi dengan berbagai ornamen yang berlapiskan emas. Rumah Jessi bagaikan remahan debu jika dibandingkan dengan rumah yang sekarang sedang dipijaknya. Perbedaan yang sangat kentara hanya dalam sekali lihat.
"Keponakanku ... Theo, Bibi sangat merindukanmu." Setetes air mata lolos meluncur dari mata sebelah kanannya. Mereka saling berpelukan dan menepuk-nepuk punggung satu sama lain.
Theo berpelukan ala anak muda dengan Kevin, sepupunya. Setelah itu dia mengenalkan Jessi sebagai calon isterinya. Bibi Dora menerima dengan hangat kehadiran Jessi di keluarga mereka. Sedangkan Kevin, dia memperhatikan penampilan Jessi dari atas sampai bawah dalam sekian detik. Seperti sedang menelanjanggi Jessi mentah-mentah.
Perempuan itu menyadari arah tatapan mata Kevin padanya. Dia menunduk dengan rasa tidak nyaman yang semakin membuncah.
***
Mereka berempat duduk saling berhadapan di meja makan. Berbagai makanan yang menggugah selera tersuguh di depan mata. Makan malam yang kaku, tanpa ada obrolan sedikitpun. Hanya suara dentingan sendok dan piring yang saling beradu.
Sebelum makan malam usai, Jessi tidak bisa menahan keinginannya untuk buang air kecil. Sebenarnya sejak datang ke rumah ini dia sudah kebelet ingin buang air kecil, tetapi sekuat tenaga dia menahan.
"Emm ... Maaf, aku permisi ke kamar mandi sebentar. Di sebelah mana kamar mandinya, Bi?" tanyanya sopan.
Semua mendongak begitu mendengar ucapan Jessi. Bibi Dora berkata, "Di sebelah sana. Di balik dinding yang ada lukisan kuda." Jelasnya sambil menunjuk arah kamar mandi.
"Ahh, biar Kevin yang mengantarmu." Imbuhnya lagi.
Theo sedikit tidak nyaman dengan tawaran Bibinya, "Aku saja yang mengantarnya, Bi."
Bibi menggeleng pelan, "Tidak. Lanjutkan saja makanmu, Sayang. Kevin, cepat sana antarkan Jessi."
"Ayo ...." Kevin berdiri dan melangkah menuju kamar mandi, meninggalkan Jessi yang masih saling bertatapan dengan Theo.
Setelah Theo mengangguk, Jessi bergegas menyusul sepupu calon suaminya tersebut. Begitu sampai dikamar mandi, dia mengucap terimakasih, lalu bergerak lagi memasuki kamar mandi dengan cepat.
Namun, belum sampai Jessi mencapai daun pintu kamar mandi, sebuah suara dari lelaki yang mengantarkannya membuat dia menghentikan langkah.
"Berapa harga yang kau tawarkan pada Theo? Aku akan memberimu lebih dari itu."