Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Mas Fiersa-ku



"Theo melamar mu? Apa kau serius?"


Rin segera menarik tangan Elia dan menyuruhnya diam. Semua fokus pegawai beralih kepada Rin, Jessi, dan Elia. Desas-desus terdengar dari seluruh penjuru kantin. Jessi menekuk wajahnya. Ia harus siap menghadapi ini semua.


Fighting! Aku harus bisa mengahadapi ini semua. Sudah resiko dari jalan yang aku pilih.


Jessi menyemangati dirinya sendiri, meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Rin dan Elia menggenggam tangannya berusaha memberi semangat. Jessi tersenyum senang kepada dua temannya tersebut.


Rin, Jessi, dan Elia menyudahi acara makan siang dan memilih kembali ke ruang kerja. Disana jauh lebih aman, begitu pikir mereka.


Sara, salah satu penggemar berat Theo menghampiri Jessi yang bermain ponsel di mejanya. Jessi mendongak menatap Sara malas.


"Apa benar Theo melamarmu? Kau main pelet, yah? Atau jangan-jangan kau memang tidur dengannya agar kau dinikahi?" sindir Sara.


"Jaga bicaramu, Sara. Aku tidak mau berkelahi denganmu."


"Jawab saja pertanyaan ku, jalangg!"


Sara menarik rambut Jessi dengan keras. Jessi terjungkal dari tempat duduknya. Suasana berubah memanas, Rin dan Elia segera memisahkan mereka.


Jessi merasakan sakit di kepalanya. Sara benar-benar memancing amarahnya. Ingin sekali Jessi merobek mulut kotor, Sara.


"Kau iri padaku hah? Jelas terlihat di matamu kalau kau iri!"


Sara mendelik pada Jessi. Dadanya kembang-kempis menahan amarah sekuat tenaga. Jessi memilih menelungkupkan wajahnya di meja. Berusaha meredam amarahnya.


***


Waktu berlalu begitu cepat, cahaya matahari berganti menjadi temaram diujung sana. Jessi merasa persendiannya benar-benar kaku. Ia ingin dipijat setelah pulang kerja.


Rin dan Elia memutuskan untuk pulang bersama. Meninggalkan Jessi yang akan pulang bersama kekasih barunya. Jessi mengirim pesan singkat pada Theo untuk menghampirinya sekarang. Ia tiba-tiba rindu pada Theo.


Dilain ruangan, Theo membaca pesan singkat dari Jessi dengan senyum yang mengembang. Dia bergegas menghampiri Jessi yang menunggu dirinya. Di tengah perjalanan Theo berpapasan dengan Garaa.


"Kau melamar Jessi?" tanya Garaa.


Pertanyaan tiba-tiba dari Garaa menghentikan pergerakan langkah Theo. Garaa menatap Theo dengan ekspresi yang sulit ditebak. Theo mengangguk singkat dan berlalu dari hadapan Garaa.


"Hai, Sayang."


Theo melihat Jessi yang diam saja saat ia panggil. Wajahnya tertekuk, bibirnya manyun seperti bebek. Theo mengelus puncak kepala Jessi, dan menciumnya lembut.


"Ada apa? Kenapa cemberut? Kau sudah jelek, jangan dijelek-jelekkan begitu," goda Theo.


Jessi mencubit pinggang Theo yang sengaja menggodanya. Lalu, ia bercerita kejadian saat Sara mengatainya yang tidak-tidak. Amarahnya kembali berkobar saat bercerita.


Theo memeluk Jessi dengan erat. Ia ingin mengatakan kalau semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dirisaukan. Hening diantara mereka berdua sampai terdengar suara Theo yang bernyanyi sambil menepuk-nepuk punggungnya.


Sandarkan lelah mu dan ceritakan.


Tentang apapun aku mendengarkan.


Jangan pernah kau merasa sendiri.


Bagiku kau tetap yang terbaik.


Entah beratmu turun atau naik.


Kadangkala tak mengapa untuk tak baik-baik saja.


Kita hanyalah manusia, wajar jika tak sempurna.


Saat kau merasa gundah, lihat hatimu percayalah.


Segala sesuatu yang pelik, bisa diringankan dengan peluk.


Jessi yang mendengar nyanyian Theo, semakin mengeratkan pelukannya. Ia senang Theo ada untuknya. Dan semoga akan selalu mendampinginya.


"Diamlah, kau bukan Mas Fiersaku!" ejek Jessi.


"Apa kau bilang? Fiersamu? Tarik ucapanmu, Jess. Aku tidak suka!" ucap Theo dengan cemburunya.


"Aku menyukaimu, kau menggemaskan!" ucap Jessi berjinjit menciumi pipi Theo.


Satu kali, dua kali, tiga kali ciuman Jessi di pipi belum berhenti membuat Theo ingin melahap Jessi saat itu juga. Theo sengaja menahan pundak Jessi agar Jessi tidak bisa menjangkaunya untuk menciuminya lagi.


"Jangan memancingku, Jess. Kau bisa membuatku frustasi," ucap Theo sambil terkekeh pelan. Jessi tertawa lebar menanggapi ucapan Theo.


"Sudahlah, aku ingatkan sekali lagi padamu, Jess. Jangan mendengarkan omongan orang lain, mereka tidak tahu apa-apa. Lalu, apa yang dikatakan mereka kan tidak benar. Aku yang memintamu untuk menikah denganku, karena aku mencintaimu. Bukan karena alasan yang lain. Ayo kita pulang," ajak Theo.


Jessi mengangguk paham, perasaanya pada Theo meningkat sepuluh persen. Theo dan Jessi pulang bersama dengan bergandengan tangan sepanjang perjalanan. Terlihat sekali kalau mereka sedang kasmaran seperti anak baru gede.


***


Ditengah perjalanan menuju rumah Jessi, Theo memecah keheningan diantara mereka. Fokusnya pada jalanan terpecah karena pikirannya diambil alih oleh Mas Fiersa.


"Kau benar-benar suka Fiersa?" tanya Theo.


"Tentu! Tidak ada yang tidak menyukai Mas Fiersa," senyum mengembang Jessi berbanding terbalik dengan Theo yang menampilkan ekspresi datar.


"Kenapa kau menyukainya?" tanya Theo lagi.


Jessi begitu membanggakan Mas Fiersa. Dia berkata Mas Fiersa ganteng, brewokan tipis-tipis, puitis, tangguh, lelaki idaman sekali. Senyum Jessi masih bertahan sepersekian detik sampai ia mendengar nada tidak mau kalah dari Theo.


Theo yang mendengar Jessi begitu membanggakan lelaki lain semakin menekuk wajahnya. Dia tidak terima calon istrinya membanggakan lelaki lain di depannya. Tangannya mencengkeram kemudi dengan erat.


"Aku juga ganteng, kalau brewokan gampang bisa pakai obat. Aku bisa juga puitis, aku juga tangguh. Kau yakin masih menjadikan Fiersa lelaki idamanmu? Tidak mau berganti lelaki idaman?" alis Theo naik turun saat mengatakannya.


Jessi tidak kuat mehanannya lagi. Dia tertawa terbahak-bahak dengan begitu kencangnya. Theo sangat lucu sekali kalau sedang cemburu. Yang ditertawakan malah mengernyitkan keningnya menatap Jessi dari bangku kemudi.


"Kalau kau masih saja tertawa, aku akan mendiamkanmu satu hari!"


Jessi yang mendengar ultimatum Theo semakin menambah kekuatannya untuk tertawa. Air mata menetes di salah satu sudut matanya. Jessi menghentikan tawanya saat melihat Theo menatapnya datar. Theo benar-benar marah padanya.