
Happy Reading 💜
"Apa Jessi sudah tahu soal aku dan Anin?" gumam Theo perlahan.
Theo menatap ponselnya sejenak. Alam bawah sadarnya menyuruh dia untuk menghubungi Jessi. Tetapi jiwanya yang sadar akan keadaan menolak melakukan hal itu. Bibirnya berdecak mengikuti suara jarum jam. Hatinya kalut namun enggan untuk mengejar Jessi diluar sana dan lebih memilih mengabaikan saja. Matanya terpejam, ia ingin menenangkan dirinya dulu sebelum menghadapi kemarahan kekasihnya.
Sementara diluar sana Jessi sedang berada diatas sepeda motor Bapak ojek online. Air matanya tidak lagi menetes dengan deras. Yang tersisa hanya suara sesenggukan saja. Wajah cantiknya dihiasi oleh mata yang membengkak. Setelah puas menyampaikan unek-unek yang mengganjalnya selama ini, dia merasa lega. Masih teringat jelas diingatan, saat dirinya menanyakan soal Anin, tetapi Theo diam saja tidak berusaha menjelaskan apapun kepadanya. Jessi tidak langsung pulang ke rumah, dia minta Bapak ojek online mengantarkan dirinya ke bukit di pinggiran kota, tempat Theo pernah meminta kesempatan padanya dulu.
Theo menatap langit-langit kamarnya. Matanya tidak mampu terpejam lebih dari lima menit, bayangan Jessi yang menangis selalu menari-nari didalam kepalanya. Dia ingin tahu dimana keberadaan kekasihnya saat ini. Matanya memandang gerak pada Maps yang sudah ia hubungkan dengan ponsel Jessi. Dan benar sesuai dugaannya, Jessi menuju ke bukit. Tempat dimana dia dan Jessi pertama kali menghabiskan sore berdua. Tak ingin semakin berlama-lama, Theo segera bergegas agar bisa sampai duluan disana.
Sesampainya disana, mata Jessi disambut dengan berbagai bunga yang bermekaran indah di sepanjang jalan setapak. Ahh, teringat lagi saat ia dan Theo memetik bunga untuk Ibu Theo waktu itu.
"Mbak, lagi bertengkar sama Masnya?" tanya bapak ojek online.
"Tidak, Pak. Memangnya kenapa, Pak?" Jessi penasaran juga dengan Bapak ojek online satu ini.
"Itu ... ditunggu Masnya," tunjuk Bapak tersebut pada seseorang di sebelah sana.
Mata Jessi menoleh mengikuti arah yang ditunjuk Bapak ojek online. Dan benar saja Theo sedang bersandar di mobilnya seperti sedang menunggu dirinya. Jessi memberikan uang tip dan berpamitan pada Bapak tersebut. Kakinya terus saja berjalan dan berhenti di dekat danau kecil. Danau yang tidak begitu luas, terkesan kecil malah. Tetapi sangat asri dan bisa menenangkan jiwa-jiwa yang sedang rapuh.
Sengaja Jessi melewati Theo dan bersikap seperti tidak saling mengenal. Kakinya dicelupkan ke pinggiran air danau dan ia mulai menghirup segarnya udara disana. Matanya terpejam, bibir tipisnya melengkung dengan indahnya.
Theo mengamati keadaan sekitar bukit. Hari yang cerah membuat beberapa orang memutuskan untuk refreshing disini, menghilangkan lelah dan penat yang bersemayam di dalam tubuh. Terlihat beberapa muda-mudi sedang piknik kecil-kecilan. Mereka tertawa bersama menikmati indahnya alam dan cinta yang sedang bersatu.
Sekali lagi matanya memandangi Jessi. Dia akan meluruskan permasalahan mereka siang ini juga. Kakinya melangkah bersamaan dengan angin semilir yang menggugurkan daun-daun kering. Dia memposisikan dirinya di sebelah tempat Jessi duduk. Bibirnya ikut tersenyum melihat senyuman manis itu.
"Tidak ada yang mengijinkan mu duduk disitu. Pergilah! Aku tidak ingin melihatmu!" ucap Jessi yang seolah terganggu dengan kehadiran Theo disisinya.
"Maaf, Jess!"
Hanya permintaan maaf yang mampu Theo ucapkan. Bukannya pergi menjauh, tapi dia tetap bertahan duduk disisi Jessi. Menunggu sampai kekasih hati mau melihatnya dan memaafkan dirinya. Matanya ikut terpejam memikirkan kembali kenapa mereka sering sekali bertengkar akhir-akhir ini. Apa karena dia terlalu egois, atau karena dia yang kurang bisa bersabar menghadapi kekasihnya.
Jessi membuka mata dan melirik sang kekasih yang masih setia berada disampingnya. Meskipun masih ragu akan niatnya kali ini, tapi tidak ada salahnya jika ia mencoba. Berharap semua akan menjadi baik-baik saja setelahnya.
"Aku ingin putus. Hubungan kita berakhir cukup sampai disini saja, Theo."
Bagai tersambar petir di siang hari, Theo sangat terkejut dengan kata-kata yang keluar dari bibir kekasihnya. Tubuhnya menegang seketika, lidahnya keluh tidak bisa bergerak. Setelah berhasil menguasai diri, Theo menarik Jessi kedalam dekapannya.
"Aku tidak mau putus! Berhenti berbicara omong kosong!!" Theo menarik tangan Jessi agar mengikutinya.