
"Kenapa? Kenapa kau masih bersikap seperti ini padaku? Jangan membuatku bingung akan sikapmu."
Theo yang masih membalut jari Jessi diam saja tidak berusaha menjawab ataupun menyangga ucapan Jessi. Theo berdiri dan melanjutkan mengambil bunga pesanan Ibunya. Menggantikan pekerjaan Jessi.
Jessi menggerutu sebal sembari menunggu Theo mengambil bunga. Tanpa sadar Jessi memperhatikan Theo yang sedang fokus. Bibirnya tersenyum kecil melihat Theo yang kesusahan memetik bunga.
Jessi bosan juga menunggu Theo. Diambilnya ponsel yang berada di tas kecilnya. Ia memotret Theo secara diam-diam, lalu mengirimkan kepada Ibunya Theo.
Theo berjalan menghampiri Jessi yang asik bermain ponsel saat keranjang yang dibawanya telah terisi penuh bunga mawar. Mereka kembali ke tempat parkir mobil dan menuju ke rumah.
Hening didalam mobil tak dapat terhindarkan. Suara serak milik Theo membuyarkan Jessi dengan segala lamunannya.
"Maaf, untuk yang kemarin."
Hening lagi diantara mereka berdua. Terdengar helaan nafas panjang dari Jessi. Ia dan Theo selalu terlibat dalam hal seperti ini.
"Hmm, aku memaafkan mu."
Aku memang memaafkan mu, tapi semuanya tidak akan lagi sama seperti yang dulu-dulu.
Sedikitpun Jessi tidak mau memandang wajah Theo sekarang. Dia sadar kalau dia bukan siapa-siapa dan sama sekali tidak ada artinya bagi Theo.
***
Mobil melaju membela jalanan kota yang ramai. Gemerlap lampu warna warni menemani Jessi dalam kesunyian. Tak lama kemudian, mereka sampai di rumah orang tua Theo. Jessi takjub melihat berkeliling, rumah orang kaya tentu sangatlah mewah. Tiang-tiang bangunan kokoh menyambutnya.
Theo berjalan memasuki rumah, Jessi mengikutinya dibelakang seperti seorang ajudan. Diletakkan keranjang bunga di ruang tamu. Lalu, Theo menyuruh Jessi duduk sementara ia memanggil Ibunya.
"Hai, sayang. Astaga, ada apa dengan jarimu? Apa terluka? Oh, kasihan sekali putri cantikku terluka," ucap Ibu Theo dengan heboh.
Putri cantik? Aku bukan putrimu, Tante.
"Iya, terkena duri bunga mawar, Tante."
Ibu Theo mengambil kotak P3K, lalu mengganti sapu tangan anaknya dengan kapas dan plester. Tak lupa ia olesi dengan alkohol terlebih dahulu.
Theo sedari tadi hanya diam memperhatikan interaksi antara Ibunya dan Jessi. Mereka terlihat dekat. Cocok menjadi Mertua dan Menantu. Senyum kecil mengembang di bibir Theo.
Lihatlah, yang anaknya kan aku. Tapi, sepertinya mulai sekarang Jessi lah yang akan menjadi anaknya. Lihat seberapa ia khawatir melihat Jessi terluka.
"Sayang, ada yang ingin Tante bicarakan denganmu dan Theo. Duduklah, Theo."
Theo duduk berseberangan kursi dengan Jessi dan Ibunya yang masih sibuk mengelus-elus jari Jessi yang terluka. Theo berdecak, pasti ada lagi yang ingin dilakukan Ibunya agar ia dan Jessi bisa menghabiskan waktu bersama.
"Ada apa, Bu?"
Ibu menghela nafas dalam-dalam, lalu tersenyum hangat kepada Jessi dan Theo. Jessi diam sigap di tempat duduknya.
"Aku tidak ingin menjawabnya," ucap Theo singkat.
"Baik, kalau kau tidak mau menjawab. Sekarang kau sayang, apa kau menyukai Theo?"
Jessi yang sedari tadi menunduk selepas mendengar jawaban Theo, kini mengangkat kepalanya, lalu menunduk lagi. Bingung harus menjawab bagaimana. Diingatnya sekali lagi betapa Theo tidak perduli padanya. Dengan tegas ia pun menjawab pertanyaan tersebut setelah hening cukup lama.
Theo memperhatikan Jessi yang masih memilih bungkam. Rumit sekali hubungannya dengan Jessi. Saat akan menegur Ibunya, tiba-tiba ia mendengar suara Jessi. Diurungkan niatnya tersebut.
"Sampai hari kemarin saya masih menyukai anak Tante. Tetapi saya belum yakin kalau perasaan saya benar. Dan setelah kejadian kemarin saya sudah bertekad untuk tidak akan menyukai anak Tante lagi," Jessi menatap dalam ke mata Theo di depannya.
"Kenapa kau tidak menyukai Theo lagi?" suara serak Ibu Theo mengalihkan pandangan Jessi.
"Karena Theo tidak perduli."
"Tutup mulutmu! Jangan bicara seolah aku yang bersalah disini. Kita menghabiskan malam bersama dan setelahnya kita baik-baik saja. Lalu, aku melihatmu berpelukan mesra dengan mantan kekasihmu. Apa kau tidak pernah berpikir bagaimana perasaanku saat aku melihatmu dengan mata kepalaku sendiri?"
Nada bicara Theo naik, pertanda ia sedang marah dan kesal. Bahkan di depan Ibunya sendiri, dia berdebat dengan Jessi. Theo nampak mondar-mandir dengan berkacak pinggang.
"Bukankah aku datang kemarin untuk menjelaskan semua padamu. Tapi kau bilang kau tidak perduli. Jadi yasudah, cukup sampai kemarin saja!" elak Jessi tidak mau kalah.
Ibu Theo yang melihat perdebatan sang anak dan calon menantunya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dasar Anak muda tidak ada yang mau mengalah.
"Sudah! Cukup! Jangan bertengkar lagi! Kalian berdua ini kan sudah dewasa, sudah gak pantes bertengkar kayak gitu. Ibu tidak mau tahu, kalian berdua harus berbaikan sekarang juga," tegas Ibu Theo.
***
Jessi dan Theo masih sama-sama tidak mau mengalah. Keduanya bertahan pada pendirian masing-masing. Menganggap sama-sama benar apa yang sudah dilakukan. Setelah dilihat tidak ada yang mau beritikad baik terlebih dahulu, Ibu Theo menyuruh Theo meminta maaf lebih dulu.
"Theo, cepat minta maaf pada Jessi. Ibu tidak mau tahu, cepat minta maaf!"
Theo tidak memperdulikan ucapan Ibunya. Dia memilih pergi naik ke kamar tidurnya. Sudah lama tidak merasakan empuknya ranjang yang sudah lama tidak ia tempati.
"Anak itu! Jessi, maafkan Theo ya. Theo melakukannya karena ia cemburu melihatmu bersama lelaki lain. Theo memang tidak suka berbagi dengan siapapun."
Ibu Theo mengelus-elus rambut Jessi, berharap Jessi bisa luluh dengan ucapannya. Jessi cukup senang dengan perlakuan Ibu Theo. Ia merasa disayang dan diterima oleh Ibu Theo.
"Baik, Tante. Saya mau permisi pulang dulu Tante, sudah sore."
"Kamu diantar Theo ya. Cepat kamu susul Theo keatas, bilang kalau Tante menyuruhnya mengantar kamu pulang," antusiasme terlihat jelas di mata Ibu Theo.
Jessi ingin menolak. Tapi, permintaan Ibu Theo tidak bisa ditolak. Dia pun pasrah dan memilih menaiki anak tangga mencari kamar Theo.