
Happy Reading 💜
"Apa benar semua yang dikatakan Theo? Jawab pertanyaanku!" Ibu meneriaki Anin dengan segala keterkejutannya. Dia ingin meminta kepastian yang jelas.
Anin yang tertidur diranjang menjadi gugup bukan main. Tangis tersedu-sedunya sudah berhenti, berganti menjadi sesenggukan saja saat ini.
"Ti-tidak benar, Bu. Theo pasti mengada-ada saja karena dia tidak mau menikah denganku, Bu. Anin mohon, Ibu percaya Anin, ya." Bantahan Anin malah membuat Theo semakin yakin jika perempuan sialan itu sedang memainkan triknya. Dasar Perempuan Ular!
Theo mengeluarkan setumpuk lembaran foto dari dalam saku jas dan melemparkannya tepat ke wajah Anin.
"Dasar jalangg! Perempuan ular! Lihat semua foto itu baik-baik. Bukankah itu dirimu dan para lelaki berbeda yang menghabiskan malam denganmu? Aku sudah melaporkanmu ke pihak berwajib atas penipuan yang kau lakukan padaku. Kau akan membusuk dipenjara. Menjijikkan!" Lelaki itu meluapkan semua emosinya. Biar tahu rasa Anin yang mencoba membohonginya itu.
Anin dan Ibu memperhatikan semua lembaran foto-foto yang dilemparkan Theo. Anin menggigit bibir bawahnya seolah tidak percaya Theo bisa mendapatkan semua bukti untuk menyanggahnya.
Berbeda dengan Ibu, dia meneliti semua foto satu persatu. Foto Anin dengan berbagai laki-laki. Foto mereka mabuk di Club, memasuki hotel, dan meninggalkan hotel keesokan harinya.
Ibu mendekati Anin, lalu menjambak rambut mantan calon menantunya, "Beraninya kau membohongiku dan putraku! Aku bahkan menerimamu dengan tangan terbuka, tapi kau membohongi kami. Dasar tidak tahu malu! Jangan pernah datang menemui kami. Jangan pernah sekalipun kakimu menginjak di rumah kami! Enyahlah dari hadapan kami selamanya! Perempuan licik!"
Amarah Ibu meluap dengan derasnya. Dia mengumpati Anin yang dengan sengaja merencanakan ini semua. Anin meringis kesakitan menahan amukan Ibu Theo.
"Dasar perempuan ular! Ayo, Theo. Kita pergi dari sini." Ibu menarik lengan Theo setelah puas mengumpat. Belum sempat mereka keluar dari pintu, Anin berteriak dengan keras.
"Aku melakukannya karena aku mencintaimu, Theo. Dari dulu aku tidak pernah menganggapmu sebagai teman biasa. Aku ingin lebih dari itu, Theo. Aku sangat mencintaimu. Aku ingin memilikimu." Isak Anin dengan suara sesenggukan.
"Kau tahu pasti kalau kita hanya berteman dan tidak lebih dari itu. Aku berbaik hati membiayai semua biaya hidupmu dan bayimu. Kau tahu karena apa? Karena aku masih menganggapmu temanku, Nin. Kalau sudah begini jangan pernah datang lagi ke hadapanku. Hubungan pertemanan kita berakhir. Semoga kau bisa menjadi orang yang lebih baik. Aku pergi." Ungkap Theo panjang lebar pada Anin.
Anin semakin menggigit bibir bawahnya sampai ada sedikit darah disana. Airmata mengalir lagi dari matanya yang indah. Yang tersisa sekarang hanya penyesalan yang menggerogoti hatinya. Dia sudah kehilangan semuanya. Kehilangan bayi, teman, dan keluarga yang awalnya menyayangi dirinya.
***
Jessi mendekati meja Rin dan berbisik penuh harap, "Rin, pulang kerja nanti aku ikut mobilmu, ya? Aku sedang menabung untuk membayar uang muka cicilan mobil." Ungkapnya jujur.
"Oke, Jess. Kau mau mencicil mobil? Kenapa tidak minta mobil saja pada Theo, Jess. Tidak mungkin dia akan menolak permintaanmu itu." Rin mengangguk-angguk menyetujui idenya yang bagus sekali itu.
Jessi memukul pelan bahu teman terbaiknya ini. "Kau mengada-ada saja. Aku dan dia 'kan sudah end." Pungkasnya sambil tersenyum getir. Jessi kembali ke meja kerjanya dengan perasaan yang campur aduk.
Sementara dilain ruangan Garaa sedang menatap kearah Brian dengan serius. Brian yang merasa diperhatikan segera menoleh, "Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu? Aku sudah menikah, ingat?" ujarnya sambil bergidik.
"Aku ingin minta tolong padamu. Kau mau menolongku? Nanti pulang kerja aku ikut mobilmu, ya. Mobilku masuk bengkel tadi pagi," pinta Garaa dengan serius.
"Halah, kau ini! Begitu saja serius sekali. Aku kira kau mau minta tolong apa." Brian mengacungkan jempolnya tanda dia setuju dengan permintaan temannya ini.
***
Setelah sekian lama akhirnya waktunya pulang kerja datang juga. Para pegawai berhamburan keluar setelah bersikutat dengan pekerjaan yang melelahkan. Brian dan Garaa langsung menuju area parkir, mereka menunggu Rin disana. Mereka berdua tidak tahu kalau Jessi juga akan ikut menumpang lagi di mobil Brian.
Di kejauhan nampak Rin dan Jessi sedang berjalan bergandengan sambil sesekali tertawa. Tawa renyah menghiasi bibir keduanya sampai mata Jessi menatap Garaa yang juga berada di mobil Brian. "Kenapa ada Garaa disana, Rin? Garaa menumpang mobil Brian juga?" Langkah keduanya berhenti seketika.
"Aku tidak tahu, Jess. Brian tidak memberitahu apapun padaku. Kau tidak nyaman satu mobil dengan Garaa? Kau masih trauma dia akan menyerangmu lagi?" tanya Rin penasaran. Tangannya mengguncang bahu perempuan yang ada didepannya.
"Trauma itu untuk dilawan, Jess. Kalau kau menghindar terus-menerus, rasa trauma itu akan ada dalam dirimu selamanya. Kenapa tidak dicoba dulu? Garaa sudah berubah, itu yang aku tahu." Tatapan mata Rin terasa sangat menyakinkan. Hingga akhirnya Jessi menyetujuinya juga. Mereka meneruskan sisa perjalanan dengan saling diam.
"Hai, Sayang. Hai, Garaa." Rin berciuman bibir dengan Brian tanpa sungkan. "Jessi akan ikut dengan kita." Ungkapnya lagi.
Sementara Garaa terkejut begitu melihat Jessi juga berada disana. "Kenapa tidak bilang kalau Jessi juga ikut? Dia tidak mungkin nyaman berada di dekatku," bisik Garaa sambil tangannya menarik Brian menjauh.
"Aku tidak tahu kalau Jessi juga ikut, Garaa. Tidak apa-apa, santai saja. Jangan membuatnya takut lagi, atau kau akan benar-benar mati ditangan Theo." Ancam Brian dengan serius.
Brian kembali pada mobilnya dan bergegas masuk di bangku kemudi, "Ayo, naik semuanya! Jess, tidak apa-apa. Naiklah." Brian seolah tahu kalau Jessi ragu-ragu sore itu.
Brian duduk dibangku kemudi bersama Rin disebelahnya. Meninggalkan Jessi bersama Garaa dibelakang. Jessi tidak menyapa sama sekali, begitu juga dengan Garaa yang hanya diam.
Pandangan mereka sama-sama tertuju pada keadaan diluar jendela. Keheningan sangat terasa di dalam mobil. Sampai akhirnya Garaa berani menyapa saat mobil berhenti disebuah lampu merah, "Apa kabar, Jess?" Pelan tapi pasti suara Garaa membuat Jessi menoleh padanya.
"Baik." Jessi menoleh lagi kearah samping. Bahkan posisi duduknya menempel sekali dengan pintu. Seakan Garaa adalah parasit yang harus dijauhi sebisa mungkin. Garaa cukup paham dan dia maklum akan sikap Jessi. "Brian, antarkan aku dulu, ya."
"Bukannya itu mobil Theo, Jess? Dia dirumahmu?" tanya Rin saat mobil menepi didepan rumah Jessi.
"Mau apalagi dia disini? Di kantor bertemu, disini juga bertemu. Sumpah, aku malas sekali bertatap muka dengan pengkhianat itu!" ucap Jessi tanpa sadar kalau ada Garaa yang belum mengetahui soal hubungannya dan Theo yang berantakan.
"Aku turun dulu. Terimakasih, ya, sudah memberiku tumpangan. Aku menyukainya. Ha-ha-ha."
"Dasar gila! Sudah sana pergilah!" usir Rin sambil tertawa terbahak. Mobil melaju kembali menuju apartemen Garaa. Garaa cukup tahu diri untuk menahan rasa penasarannya akan hubungan Jessi dan Theo. Meskipun penasaran tapi dia tidak akan bertanya apapun.
***
Theo menunggu Jessi didepan rumah dan matanya yang tajam melihat lelaki yang ingin dihajarnya habis-habisan malam itu duduk sebangku dengan Jessinya. "Kenapa kau bersama Garaa?" Tanpa basa-basi bibirnya langsung bertanya. Tersirat kecemburuan disana.
"Apa yang kau lakukan disini? Jangan pernah mendatangi rumahku lagi!" ucap Jessi tanpa menjawab pertanyaan Theo. Langkahnya tegas menjauhi mantan calon suaminya tersebut.
"Jawab dulu pertanyaanku! Kenapa kau bersama Garaa sialan itu! Kau mengkhianatiku? Beraninya kau!" bentak Theo tegas. Ditariknya tangan Jessi dengan kencang dan menahannya untuk tinggal sebentar. Rasa penasaran Theo belum mendapat jawabannya.
Keadaan disekitar rumah Jessi sangat ramai, beberapa Ibu-Ibu berada didepan rumah bermain dengan anak-anak mereka. Jessi menarik tangan Theo untuk memasuki rumah karena takutnya pertengkaran mereka akan jadi bahan gosip para Ibu-Ibu tersebut.
"Jangan berteriak padaku! Tidakkah kau sadar kalau yang berkhianat itu kau, Tuan Theo yang terhormat? Kami menumpang mobil Brian. Jangan menuduhku sembarangan! Pulanglah! Urusi saja Anin dan calon bayimu itu!" bentak Jessi tidak mau kalah. Tubuhnya mendorong Theo, lalu bergegas memasuki kamar dan menguncinya rapat-rapat.
Ibu Jessi yang mendengar pertengkaran anaknya dan Theo hanya menghela nafas panjang. Anaknya yang keras kepala masih belum bisa memaafkan Theo. Begitu juga dengan lelaki itu yang gampang sekali marah karena terbakar api cemburu. "Aku tidak akan ikut campur urusan mereka. Mereka sudah dewasa, sudah tahu mana yang benar dan salah."
"Nak, pulanglah dahulu. Besok kau bisa kemari lagi. Jessi mungkin masih marah padamu. Kau juga, kendalikan amarahmu dan rasa cemburumu, Nak." Usapan Ibu Jessi pada lengannya sangat menenangkan.
"Tidak, Bu. Theo ingin masalah ini selesai saat ini juga. Hubungan kami sedang dipertaruhkan." Theo mengetuk pintu kamar Jessi dengan perlahan. Ibu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Dasar anak muda.
"Jess, keluarlah sebentar. Aku akan menjelaskan semuanya padamu. Aku membawa buktinya. Jessi ... Jess, keluarlah. Aku mohon." Ketukan Theo tidak berhenti sampai disini. "Jessi ...."
Sementara didalam kamar Jessi merebahkan dirinya diatas ranjangnya yang empuk. Langit-langit kamar menjadi satu-satunya yang dia pandangi dalam diam. Dia tidak memperdulikan Theo yang sedang menggedor-gedor pintu kamarnya. Jiwanya ingin mengumpati Theo, tetapi hati kecilnya kadang ingin berbaikan saja dengan pengkhianat itu.
"Aku tidak akan perduli pada pengkhianat itu! Silahkan mengetuk pintuku sampai tanganmu pegal! Aku tidak akan membuka pintu untuk pengkhianat sialan sepertimu!" batin Jessi mengumpat tanpa henti.