Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Pingsan



Theo menyenangkan, Theo memuakkan. Aku benci Theo!!


Setitik air hujan turun membasahi jiwa yang sedang merasakan sakitnya cinta. Lama kelamaan menjadi deras bersamaan dengan tangisan Jessi. Jessi menengadahkan wajahnya keatas merasakan sakitnya terkena tetesan air hujan, tetapi tidak sesakit hatinya saat ini.


Ia berjalan menyusuri jalan di tengah-tengah hujan lebat. Tubuh mungilnya menggigil kedinginan, Jessi merapatkan tangan berusaha memeluk dirinya sendiri seolah mengurangi dingin yang menyergapnya.


Sepanjang jalan dalam hatinya tiada henti mengumpati Theo dan mengumpati dirinya sendiri. Jessi memukul-mukul dadanya.


Bodohnya diriku! Dulu aku menangis karena Garaa, sekarang karena Theo. Kenapa rasanya sesakit ini**!


Hawa dingin semakin menusuk di tubuh Jessi. Kepalanya berputar-putar, matanya berkunang-kunang. Jessi ambruk ditengah jalan raya, ia pingsan.


***


Theo berdiri menatap jendela kamarnya yang basah terkena tetesan air hujan. Ia memikirkan Jessi, apa Jessi sudah pulang ke rumahnya dengan aman. Atau, jangan-jangan ia masih berada di luaran sana.


Jessi, satu nama yang menjungkir-balikkan hatinya saat ini. Hatinya sangat panas dan cemburu saat melihat Jessi dan Garaa berpelukan mesra. Harusnya ia menurunkan sedikit egonya agar pertengkaran tadi tidak terjadi. Kini Jessi benar-benar membencinya.


"Nak, kau mengkhawatirkan kekasihmu?" ucap Ibu seraya merapikan tempat tidur Theo.


Saat dirasa tidak ada jawaban terdengar dari mulut Theo, Ibu melanjutkan perkataannya.


"Ibu memang tidak tahu arti perempuan tadi bagimu seperti apa, Nak. Tapi, Ibu lihat kau sama frustasinya dengan dia. Kenapa tidak berbaikan saja dengan dia?"


Sekali lagi tidak ada jawaban apapun dari Theo. Ibu mengalah, membiarkan Theo berkelana dengan pikirannya sendiri. Ia hanya bisa mendoakan apapun itu yang terbaik untuk Theo.


***


Jessi terbangun dari pingsannya. Ia mengerjapkan mata menyesuaikan dengan silau cahaya matahari yang menembus gorden jendela kamar. Kepalanya masih sedikit sakit saat ini.


Jessi melihat berkeliling, ini bukan kamarnya bukan juga kamar Theo. Ahh, hatinya sakit lagi mengingat Theo. Jessi masih sibuk mengenyahkan Theo dari dalam pikirannya, saat sebuah suara menyadarkannya.


"Dek, sudah bangun?"


Seorang lelaki berperawakan tinggi dan tegap menanyakan keadaannya. Ia berlutut di dekat tempat tidur Jessi, mengecek panas ditubuh Jessi yang sudah menurun.


"Kau di tempatku, Dek. Jangan takut, aku orang baik-baik. Aku menemukanmu pingsan dijalan raya semalam. Jadi, aku membawamu kesini."


Lelaki itu memberikan nampan berisi bubur dan susu kepada Jessi. Setelah itu ia memakan roti dengan selai nanas dan segelas susu juga.


"Maaf, saya jadi merepotkan, Tuan. Terimakasih untuk bantuan dan sarapannya, Tuan. Saya akan membalas kebaikan hati Tuan," ucap Jessi tulus pada lelaki di depannya.


"Jangan memanggilku Tuan, aku bukan atasanmu, Dek. Namaku Adam, tapi bukan Adam Levine ya. Panggil saja aku Mas Adam. Namamu siapa, Dek?"


"Jessi."


Mereka melanjutkan makan dalam diam. Jessi sesekali mengecek ponselnya, ada beberapa pesan dari Ibunya dan dari satu nomor yang diyakininya sebagai nomor ponsel Theo.


"Maaf"sebuah pesan singkat dari Theo. Ia tidak mau membalas dan memilih menghapus pesan tersebut.


***


Jessi tersadar ternyata dia berada di bangunan apartemen yang sama dengan Theo. Saat Jessi dan Mas Adam menunggu di depan lift, terlihat Theo dan Ibunya menuju tempatnya berdiri sekarang.


Deg


Mata mereka bertatapan dalam sekian detik. Jessi memilih memalingkan wajahnya duluan. Theo masih menatap kearahnya. Terlebih lagi kearah Mas Adam yang berdiri disampingnya.


Theo mengenali lelaki yang bersama dengan Jessi. Ia seorang dokter di rumah sakit tempat langganan Theo. Tapi bagaimana bisa mereka saling mengenal, itu yang dipikirkan Theo saat ini.


"Dokter, apa kabar?" Theo menyapa Mas Adam dengan senyum mengembang di bibirnya.


Ternyata Mas Adam seorang Dokter.


"Baik. Kau sendiri?"


"Baik juga."


Basa-basi diantara mereka berlangsung sebentar saja karena pintu lift yang sedari tadi ditunggu sudah terbuka lebar. Jessi dan Mas Adam berdiri berhimpitan. Lift terlihat penuh sesak, Theo dan Ibunya juga berdiri berhimpitan.


Theo yang melihat Jessi berhimpitan dengan lelaki lain tidak bisa menahan gemuruh di hatinya. Saat mereka keluar dari lift, tangan Theo memegang lengan Jessi sebentar. Jessi yang menyadari hal itu segera menarik kembali tangannya.


***


Sesampainya dirumah, Mas Adam segera mengantarkan Jessi memasuki rumah dan menjelaskan sedetil mungkin yang terjadi pada Ibu Jessi. Tak lama kemudian ia berpamitan karena akan berangkat kerja.


"Mas Adam, terimakasih banyak sudah menolongku dan merawatku. Kalau tidak ada Mas Adam, mungkin aku masih tergeletak di pinggir jalan. Aku akan membalas kebaikan Mas Adam," Jessi tersenyum manis sekali di depan Mas Adam.


"Sama-sama, Dek. Aku permisi dulu ya. Salam untuk Ibu."


Jessi mengangguk singkat dan menunggu di depan rumah sampai mobil Mas Adam tidak terlihat di pandangannya.


"Dia lelaki yang baik, Jess. Sepertinya dia menyukaimu," Ibu berbicara serius sekali lalu kemudian tersenyum lebar.


"Tidak mungkin, Bu. Sudah, jangan berbicara yang macam-macam, Bu."


"Tidak mungkin Mas Adam menyukaiku. Ibu mengada-ada saja," kata Jessi dalam hati.