
"Jessi, kemana perginya dirimu?"
Setelah berkeliling di jalanan sekitar tempat pesta Garaa hampir satu jam tanpa membuahkan hasil, Theo melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sembari melihat kanan dan kiri, barangkali menemukan Jessi.
Berulang kali Theo menghubungi ponsel Jessi, tapi tidak ada jawaban dari sang empunya ponsel. Theo semakin mengkhawatirkan keselamatan Jessi. Dia berinisiatif mencari ke rumah Jessi, mungkin Jessi sudah pulang ke rumah.
***
Di lain tempat, Jessi melangkahkan kakinya sampai ke pinggiran danau di tengah kota. Semakin malam semakin ramai, terlihat beberapa pasangan muda-mudi memadu kasih disini. Ada yang saling menggenggam tangan, merangkul, bahkan ada juga yang sedang berciuman. Jessi menatap nanar pasangan tersebut, seperti tidak ada tempat saja sampai berciuman di tempat umum. Ia mengalihkan pandangannya dan memilih duduk menengadah menatap langit malam. Semilir dingin angin malam menyejukkan hatinya yang sedang panas.
Garaa.
Satu nama yang sekarang membuatnya dilema. Tentu ia ingin mempertahankan hubungannya dengan Garaa. Tetapi Tuhan berkehendak lain. Garaa sudah bahagia dengan Anna. Maka, ia pun harus bisa melupakan Garaa dan berbahagia juga. Ditariknya nafas dalam-dalam dan menghembuskanya perlahan.
"Aku akan ikhlas. Semangat!" ucapnya dalam hati.
Setelah dirasa keadaannya sudah baik-baik saja, Jessi merogoh ponselnya yang dari tadi berdering merdu.
Kamu bukan super. Kamu bukan star. Kalau digabungin kamu bukan superstar.
Nada dering berhenti tepat saat ia mengangkat panggilan di ponselnya. Rin menghubungi dirinya. Pasti Rin sangat mengkhawatirkannya, karena ia pergi begitu saja meninggalkan Rin tadi.
"Halo, Rin."
"Aku baik-baik saja, aku akan pulang ke rumah setelah ini."
"Tidak perlu menyusul ku, aku akan pulang sendiri."
"Theo mencari ku? Aku belum bertemu dengannya."
"Iya, aku akan berhati-hati. Terimakasih sudah mencemaskan ku."
Jessi melihat notifikasi di ponselnya. Terdapat dua puluh tiga panggilan tak terjawab dan tiga pesan dari Theo. Serta, lima pesan dari Rin. Dibukanya pesan dari Theo.
to Jessi : "Kau dimana? Aku mencarimu berkeliling tapi tidak juga menemukanmu."
to Jessi : "Jessi, kau dimana sebenarnya? Balas pesanku kalau kau sudah membacanya."
to Jessi : "Aku mengkhawatirkan mu, bodoh!"
to Theo : "Aku baik-baik saja, Theo. Terimakasih sudah mencemaskan ku."
Ponselnya berdering lagi, Theo menghubungi Jessi menanyakan keberadaannya. Jessi berkata ia berada di pinggiran danau kota. Theo berpesan agar Jessi tidak pergi kemana-mana, karena Theo akan segera kesana menjemputnya.
Theo.
Satu nama yang juga membuatnya bimbang. Kadang, ia terlihat baik dan sangat tulus. Tetapi, kemarin Theo seperti orang kesetanan yang dipenuhi amarah. Jessi seperti tidak mengenali Theo lagi.
Apa benar dia masih menyukaiku? Apa aku harus membuka hati untuknya?
Sebuah sentuhan di pundak membuyarkan lamunan Jessi. Kepalanya menoleh, menatap wajah yang sedang di lamunkanya tadi. Theo berdiri dengan mimik wajah yang tidak bisa ditebak. Antara khawatir dan senang bisa menemukan Jessi. Peluh keringat menetes dipinggiran dahi Theo. Pasti ia berlari begitu memarkirkan mobil dipinggir jalan.
Theo melangkah ke depan Jessi dan memeluknya dengan erat. Jessi menepuk-nepuk punggung Theo perlahan sembari berucap, "Hey, aku sudah disini. Aku tidak kemana-mana. Tenanglah, Theo."
"Apa yang kau pikirkan? Jangan bertingkah yang bisa membuat orang sekitar mu menjadi kesusahan. Kau tahu kami semua mengkhawatirkan mu," Theo melepaskan pelukan lalu, menghujani Jessi dengan omelannya.
"Aku tidak menyuruhmu mengkhawatirkan ku, Tuan Theo yang terhormat," Jessi melipat tangannya di dada, merasa kesal dengan perkataan Theo.
"Kau ingin bertengkar lagi, hm? Berhenti membantahku," Theo memberikan ultimatum kepada Jessi.
"Kau memang menyebalkan."
Jessi meninggalkan Theo dengan menghentak-hentakkan kakinya ke tanah. Theo sukses membuatnya kesal.
"Apanya yang khawatir? Datang-datang langsung mengomel, membuat orang jadi kesal saja," Jessi menggerutu sepanjang perjalanan ke mobil Theo.
"Aku mendengar mu, berhenti menggerutu!" Theo berteriak di belakang Jessi. Dasar perempuan!
***
Di dalam mobil, Jessi dan Theo saling melirik satu sama lain. Tapi, tidak ada yang memulai duluan untuk berbicara. Mereka saling bersikutat dengan pikirannya masing-masing. Jessi merasa bosan kemudian ia memilih melihat kearah jendela dan tak lama kemudian alam bawah sadarnya yang mengambil alih. Jessi tertidur pulas dengan posisi kepala bersandar di jendela.
Theo yang melihat Jessi tertidur segera mengambil bantal kecil lalu menyelipkan di kepala Jessi. Theo melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul setengah satu dini hari. Ia merasa tidak enak pada orang tua Jessi kalau mengantarkan Jessi pulang di jam selarut ini. Diarahkan mobilnya untuk putar balik menuju ke apartemennya.
"Pasti besok dia akan marah-marah kalau tahu aku membawanya ke apartemen ku."