
Happy Reading 💜
Langit begitu cerah saat mobil yang dikemudikan Theo melaju meninggalkan apartemen. Jalanan yang begitu padat dengan berbagai macam kendaraan membuat kemacetan tidak bisa terelakkan.
Ditambah lagi, berdasarkan info yang di dengar dari radio, sebuah mobil mogok dengan sempurna di tengah ruas jalan. Keduanya sedang terjebak dalam kemacetan panjang tersebut.
Cuaca yang sangat terik membuat perempuan yang duduk disamping kursi kemudi bergerak tidak nyaman. Sedari tadi tangannya tidak berhenti mengibas guna untuk mengurangi gerah yang sedang dirasakannya. Pendingin mobil kekasihnya tidak mampu lagi mendinginkan tubuhnya.
Sudah sepuluh menit mobil mereka tidak bergerak sedikitpun. Tak tega melihat kekasihnya seperti cacing kepanasan, Theo berinisiatif membeli sesuatu untuk mengurangi gerah tersebut.
Lelaki itu turun dari mobil dan secepat kilat masuk ke sebuah toko yang menjual barang elektronik. Tak butuh waktu lama dia kembali dengan sebuah kantung plastik di tangan.
Begitu masuk ke dalam mobil, Theo dikejutkan dengan perubahan penampilan kekasihnya. Dengan susah payah dia meneguk liurnya sendiri.
Jessi membuka pakaiannya dan menyisakan dalaman tank top yang membuat lekuk tubuh perempuan itu terlihat dengan jelas. Rambut yang biasanya tergerai indah, kini dia ikat tinggi-tinggi. Leher jenjangnya yang putih dan mulus terlihat begitu menggoda.
"Ambilah ...." Dia menyodorkan kantung plastik yang berisikan kipas angin kecil yang sesuai dengan genggaman. Jessi menerima dengan perasaan suka cita.
Bibirnya menggerutu sebal sembari dia mengemudikan mobil yang sedikit bisa bergerak maju. "Harusnya aku membeli dua kipas. Sekarang aku yang kegerahan melihat penampilanmu seperti itu." Sesalnya saat itu.
Jessi bertingkah semakin tidak terkendali. Tubuh bagian atasnya bergerak condong mendekati kekasihnya yang sedang mengemudi. "Apa yang membuatmu kegerahan, hmm. Aku tidak sedang menggodamu, Tuan."
Atensi Theo melirik juga pada dada yang terlihat menonjol dalam bungkusan dalaman tipis tersebut. Bibirnya berdecak tidak sabar, "Diam di tempat dudukmu, atau aku akan menerjangmu tanpa ampun!" Ancamnya yang malah membuat perempuan itu terkekeh geli.
Perempuan yang sedang kegerahan itu menjulurkan lidahnya dengan tawa yang amat riang, "Terjang saja kalau berani!" Tantangnya tanpa rasa takut. Mereka sedang di mobil, jadi tidak mungkin Theo akan menerjangnya. Begitu yang dipikirnya hingga berani menantang kekasihnya.
"Aku menerima dengan senang hati tantanganmu. Aku akan membuatmu memohon ampun!" Pungkasnya dengan seringai licik yang menghiasi bibir. Disisi lain Jessi menanggapi ucapan kekasihnya dengan tawa mencibir. Dia menganggap ucapan kekasihnya hanya bercanda semata.
***
Jessi mengerutkan keningnya heran. Berkali-kali mata jernihnya menatap Theo, lalu kembali menatap tempat mobil kekasihnya menepi. Hotel XYZ, begitu nama yang terpampang dengan megahnya di sisi depan.
"Aku akan menuntaskan tantangan darimu. Kau tidak lupa 'kan? Setelah semuanya selesai, baru kita beli mobil untukmu." Jelasnya dengan mengedipkan sebelah matanya menggoda.
Perempuan itu mencerna sekali lagi ucapan kekasihnya, sedetik kemudian matanya memicing tajam. "Apa maksudmu? Kau menyamakan aku dengan perempuan yang seperti itu? Setelah kau mendapat apa yang kau mau, kau memberiku imbalan mobil? Apakah begitu?" Ucapnya berapi-api. Dipakainya lagi pakaian lengkapnya dengan benar.
Theo menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari bibir manis yang membuatnya kecanduan tersebut. "Selain tukang marah, ternyata kekasihku ini juga suka menyimpulkan sendiri, ya. Jangan berpikir seperti itu, aku tidak pernah menggangapmu begitu, Jess." Tangannya membelai lembut pundak Jessi, yang dibalas dengan gerakan melengos.
"Ayo membeli mobil. Maaf, sudah membuatmu marah." Imbuhnya lagi.
Hatinya begitu sebal dengan kekasihnya saat ini. Sengaja dia menatap jendela dan mengabaikan Theo sebisanya.
***
Mobil menepi di depan sebuah showroom kenamaan. Theo menyentuh pundak kekasihnya pelan. "Jess, kita sudah sampai. Ayo, turun." Ucapnya sambil membuka pintu kemudi.
Jessi tidak mengindahkan sedikitpun ucapan kekasihnya. Dia menendang pintu mobil dengan keras. Untungnya pemilik mobil dan pemilik hatinya tidak mengetahui apa yang sudah dia lakukan.
Theo membukakan pintu mobil untuknya. Sedetik mereka saling bertatapan, namun Jessi segera berpaling memandang arah lain.
Perempuan itu keluar dengan gerakan cepat. Langkah kakinya berjalan bukan untuk masuk ke dalam showroom. Melainkan berjalan lurus di pinggir jalan raya.
Theo sedikit berlari mengejar kekasihnya. "Jess, kau mau kemana? Jangan seperti ini!" Ditariknya tangan Jessi dengan cepat.
Adu tarik-menarik yang berlangsung di pinggir jalan raya membuat beberapa orang menoleh menonton apa yang mereka lakukan.
"Berhenti bersikap keras kepala! Jangan menguji kesabaranku!" ucapnya dengan tegas. Nada suaranya bukannya meninggi, tapi sudah cukup membuat Jessi merasa seperti di bentak.
"Jangan membentakku! Dua hari lagi kita akan menikah, tapi kenapa kau selalu membuatku marah? Kau juga meninggikan ucapanmu. Kau belum resmi menjadi suami saja sudah berani membentakku. Bagaimana jika sudah jadi suami, bisa-bisa kau menghajarku sampai mati." Teriaknya histeris dalam tangisan sendu.
"Sekalian, tidak usah menikah kalau begitu!!" Teriaknya menjadi-jadi. Secepat kilat dia berlari meninggalkan Theo yang masih berdiri mematung.