Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Membencimu



Sebenarnya aku menyukai siapa? Aku juga belum yakin akan perasaanku sekarang.


Jessi melamun memikirkan kembali apa yang dikatakannya pada sang Ibu. Ia pernah menyukai Garaa, bahkan sampai saat ini rasa itu masih ada walau hanya sedikit.


Ia juga pernah menyukai Theo. Kalau ia lebih kenal duluan dengan Theo, jelas ia akan memilih Theo daripada Garaa. Pada akhirnya Garaa yang sudah memenangkan hatinya dulu.


Jessi tersadar dari lamunannya saat mencium bau gosong. Udang crispy yang digorengnya sudah berubah warna menjadi kehitaman. Segera dimatikan nyala api kompor dan meniriskan udang crispy gosong tersebut.


"Jess, udangnya kenapa bisa jadi gosong begini? Duhh anak perawan goreng udang saja jadi gosong seperti ini," Ibu Jessi menggerutu panjang lebar kali tinggi.


Jessi yang mendengar Ibunya menggerutu malah nyengir menampakkan deretan giginya tanpa merasa bersalah.


"Bu, apa Ibu tahu kalau Garaa sudah bertunangan?"


Ibu Jessi yang mendengar pertanyaan anaknya seketika kaget dan menghentikan kegiatannya. Setahu dia, Garaa dekat dengan Jessi. Bagaimana bisa ia sudah bertunangan dengan perempuan lain.


"Ibu tidak tahu. Ibu kira dia dekat denganmu," ucap Ibu sambil meneruskan kegiatan memasaknya.


Jessi menghela nafas, lalu menceritakan semua yang terjadi pada Ibunya tanpa terkecuali. Tidak ada satupun yang ditutupi atau ditambahi.


Ibu menutup mulut tak kuasa menahan keterkejutannya. Ia tidak menyangka Jessi ditolak oleh keluarga Garaa. Hanya karena status sosial mereka yang berbeda.


Ibu memeluk Jessi erat. Mengusap-usap punggung Jessi dengan lembut, seolah mengatakan semua baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.


***


Senja menyapa Jessi yang berguling-guling tidak nyaman di tempat tidurnya. Bayangan Theo yang salah paham berkelebat menghantui dirinya. Ia harus menyelesaikan kesalahpahaman ini.


Setelah meminta ijin pada orang tuanya, Jessi segera mencari ojek online yang akan mengantarkannya ke apartemen Theo.


Lima belas menit berlalu, Jessi sampai di depan komplek apartemen Theo. Ia mengatakan pada bapak driver untuk menunggunya sebentar. Tapi, kalau sampai sepuluh menit ia tak kunjung keluar, bapak driver boleh meninggalkannya.


Jessi sampai di depan pintu apartemen Theo dan menunggu Theo membuka pintu untuknya. Tak berselang lama Theo membuka pintu, dia tak menyangka Jessi akan mengunjunginya.


"Jessi? Ayo masuklah."


Jessi memasuki apartemen Theo, lalu mendudukkan dirinya di sofa. Ini kedua kalinya ia berada di apartemen Theo.


"Tumben kau kemari, ada perlu apa?" tanya Theo penasaran.


"Kau masih marah?" Jessi balik bertanya.


"Tidak! Ada apa? Cepat katakan saja! Aku harus bertemu dengan seseorang sebentar lagi," Theo melihat ponsel, lalu melihat Jessi meminta jawaban.


"Mau bertemu siapa memangnya?" Jessi memicingkan mata menatap Theo.


"Aku mau bertemu siapapun itu bukan urusanmu, Jess! Sama seperti kau yang bertemu dengan Garaa, berpelukan dengan Garaa pun aku tidak perduli!"


Seperti tertancap busur panah tepat di hati. Sakit hati yang dirasakan Jessi sekarang. Theo sudah kelewatan menyakiti hatinya.


Tanpa terasa air mata Jessi menetes dengan deras. Sungguh ia benar-benar kecewa dan sakit hati pada Theo. Memang benar kata pepatah, Mulutmu Harimaumu.


"Kau pernah meminta kesempatan padaku. Kau bilang kau menyukaiku. Lalu, apa alasanmu mencari ku seperti orang gila di tengah malam kemarin, kalau kau sudah tidak menyukaiku lagi? Kau kasihan padaku?"


Hening, tidak ada jawaban terdengar dari bibir Theo. Jessi semakin kecewa, Theo mengacuhkannya.


"Ku anggap kau hanya ingin mempermainkan perasaan ku saja. Aku yang terlalu percaya diri mendatangimu dan ingin berbaikan denganmu. Aku yang masih menyakini kalau perasaan itu masih ada. Maaf, aku sudah membuang waktumu yang berharga untuk meladeni orang yang tidak penting seperti ku."


Jessi mengungkapkan semua yang dirasakannya saat itu juga. Rasa sakit hatinya mengalahkan gengsinya sebagai perempuan untuk mengungkapkan duluan. Tangisan Jessi semakin pecah karena perasaannya benar-benar dihancurkan malam ini.


Jessi bergegas pergi meninggalkan apartemen Theo dengan air mata masih mengalir deras di pipinya. Saat membuka pintu, ia berpapasan dengan perempuan paruh baya yang anggun dan cantik di usianya. Jessi langsung saja menyelonong pergi.


***


Theo melempar gelas minuman dengan sekuat tenaga ke lantai. Suara pecahan kaca terdengar ditengah sunyinya malam. Sampai sebuah suara menyadarkannya.


"Theodore, siapa perempuan yang keluar dari apartemen mu dengan keadaan menangis tersedu-sedu tadi?"


Theo mendengar suara perempuan yang sangat dirindukannya. Ia memeluk Ibunya dengan erat, menyalurkan betapa banyaknya rindu yang ia tabung selama ini.


"Apa perempuan tadi pacarmu? Apa yang kau lakukan sampai ia menangis seperti itu?"


"Bukan siapa-siapa, Bu."


Ibu Theo menghela nafas panjang dan memilih diam, tidak mau mencampuri urusan percintaan anaknya.


***


Sementara itu, Jessi berjalan tak tentu arah selepas kepergiannya dari apartemen Theo. Dihapusnya semuanya yang berhubungan dengan Theo. Mulai dari nomor ponsel, foto mereka bersama, dan banyak lagi


Jessi tidak mau berhubungan dengan Theo diluar urusan pekerjaan. Ia bertekad akan melupakan Theo dan semua kenangan indah di matanya.


Theo menyenangkan, Theo memuakkan. Ia benci Theo!!