Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Dijodohkan



Memangnya kapan aku memberi harapan padanya. Aneh sekali perempuan ini.


Garaa membalas pesan Elia. Ia tidak mau berlarut-larut dalam kesalahpahaman ini. Dikirimnya juga pesan singkat ke gadisnya.


to Elia : "Aku tidak pernah memberi harapan apapun padamu, El. Aku menganggapmu seperti adik kecilku saja, tidak lebih. Maaf, kalau aku mengecewakan mu. Salam untuk Mama mu."


to Jessi : "Besok ku jemput jam delapan, ya. Aku mencintaimu."


Garaa menaruh kembali ponselnya. Dia merebahkan diri di kasurnya yang empuk. Senyumnya mengembang teringat hubungannya dengan Jessi. Aku benar-benar jatuh cinta pada Jessi.


Jessi membaca pesan dari Garaa. Lagi-lagi ia mengecewakan Theo. Dikirimnya pesan kepada Theo.


to Theo : "Aku akan pergi dengan Garaa besok. Maaf, ya."


Lima menit. Sepuluh menit. Dua puluh menit berlalu tidak ada balasan pesan dari Theo. Jessi menaruh kembali ponselnya pada nakas. Pikirannya melayang sampai akhirnya dia tertidur.


Sebenarnya perasaanku ini untuk siapa? Aku tidak mau Garaa mengacuhkanku, tapi aku juga tidak ingin mengecewakan Theo.


***


Keesokan paginya, Garaa sudah berada di rumah Jessi. Meminta ijin pada orang tua Jessi, kemudian mereka berangkat setelahnya.


"Kita mau kemana, Garaa?" tanya Jessi saat memasuki mobil Garaa.


"Bertemu orang tuaku," Garaa tersenyum samar.


"Hah? Apa kau bilang? Bertemu orang tuamu?" lipstik Jessi sukses melenceng dengan indahnya saat ia kaget akan ucapan Garaa.


"Tenanglah! Cepat bersihkan dulu lipstikmu itu. Dengarkan aku baik-baik. Orang tuaku akan datang hari ini. Kita akan ke bandara menjemput mereka. Lalu ke rumah ku untuk makan siang bersama," ucap Garaa sambil memeriksa ponselnya.


"Kenapa tidak bilang dari awal kalau mau bertemu orang tuamu? Aku kan bisa mempersiapkan diri. Bagaimana kalau orang tuamu tidak menyukaiku? Lalu, mereka menjodohkanmu dengan perempuan lain?" Jessi cemas sendiri jadinya.


"Tenanglah! Mereka pasti akan menyukaimu, seperti aku menyukaimu," Garaa berusaha menenangkan Jessi. Mobil melaju dengan cepat dan mereka sampai di Bandara Internasional XXX.


***


Garaa dan Jessi menunggu di area kedatangan internasional. Tangan Jessi gemetaran saking cemasnya. Garaa tersenyum hangat sambil menenangkan Jessi. Di kejauhan nampaklah sepasang suami istri yang terlihat gagah dan anggun.


"Mereka orang tua Garaa, apa yang harus kulakukan" batin Jessi bergejolak.


"Ooh, anakku, Mama merindukanmu," Garaa berpelukan cukup lama dengan Mamanya. Papa Garaa berdecak malas melihat interaksi mereka.


"Papa," Garaa berpelukan sebentar dengan Papanya.


"Selamat siang, Tuan dan Nyonya. Perkenalkan nama saya Jessi, teman Garaa," Jessi mengulurkan tangan dan mencium lembut punggung tangan Mama dan Papa Garaa. Calon mertuanya.


"Kau manis sekali. Ayo kita masuk ke dalam mobil," Garaa seketika menjadi kalah pamor saat Mamanya terlihat begitu menyukai Jessi. Mereka berempat beranjak pergi meninggalkan bandara dan menaiki mobil menuju rumah.


"Apa kau kekasihnya Garaa?" tanya Papa Garaa. Suara baritonnya membuat Jessi seperti sedang ditanya komandan perang.


"Saya teman dekat putra anda, Tuan," Jessi menundukkan kepala saat mata Papa Garaa terasa mengintimidasinya.


"Hanya teman dekat, ya. Tolong jangan terlalu berharap pada putraku. Kami sudah menjodohkannya dengan salah satu anak kolega kami," ucap Papa Garaa. Nyali Jessi seketika menciut mendengar ucapan papa Garaa. Apa ini akhir kisah cintaku ?


"Pa, cukup! Kita sudah pernah membicarakannya," Garaa menoleh pada Jessi yang langsung membuang muka melihat kearah jendela.


"Kau tahu jelas kepulangan kami untuk apa. Berhenti bermain-main dan segera menikah dengan Anna. Bisnis mereka sedang berkembang pesat. Papa tidak mau menyia-nyiakannya."


"Pa, tenanglah. Kita bicarakan ini dirumah," Mama Garaa berusaha mencairkan suasana.


"Jessi, jangan diambil hati ya ucapan Papa Garaa," Jessi hanya mengangguk singkat. Suasana berubah menjadi canggung, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.


***


Kedua orang tua Garaa turun terlebih dahulu dan masuk kedalam rumah. Jessi masih diam di tempat duduknya.


"Kau sudah dijodohkan? Sejak kapan?" mata Jessi berlinangan air mata.


"Orang tuaku ingin mengembangkan bisnis keluarga. Mereka berpikir kalau aku bisa menikah dengan salah satu anak kolega mereka, maka aku akan bisa dengan mudah mendapat suntikan dana untuk perusahaan kami. Tapi aku menolak rencana mereka. Aku tidak mau dijodohkan," Garaa bercerita panjang lebar soal perjodohannya.


"Apa ini rumahmu? Orang tuamu tidak menyukaiku, terlihat jelas kalau aku tidak sepadan dengan kalian. Aku akan pulang saja kalau begitu," Jessi sesenggukan sambil memperhatikan rumah di depannya yang terlihat sangat besar. Ternyata Garaa sangat kaya raya, ya.


"Kenapa pulang? Aku mau kita makan siang bersama," Garaa berusaha mencegah tangan Jessi yang seperti sudah ingin kabur saja.


"Kau suka orang tua mu mempermalukanku? Kau menikmatinya?" Jessi menatap tajam Garaa.


"Apa yang kau bicarakan. Berhenti berbicara omong kosong. Ayo kita masuk," ajak Garaa memegang lembut tangan Jessi.


"Tidak perlu, Garaa. Aku akan pulang. Terimakasih untuk kencannya!" sindir Jessi. Jessi turun dari mobil dan pergi meninggalkan rumah Garaa dengan sedikit berlari. Halamannya luas sekali, kenapa aku tidak sampai-sampai luar rumah, sih? umpat Jessi dalam hati.


Garaa yang melihat Jessi berlari ikut berlari juga mengejar Jessi. Mereka seperti sedang bermain kejar-kejaran.


"Aku tidak mau dijodohkan dengan siapapun. Aku sudah memilihmu. Hanya kau. Percayalah padaku, Jessi!" Garaa mencegat Jessi di depannya.


"Untuk apa kau memilihku kalau pada akhirnya kau akan tunduk dengan pilihan orang tuamu?" teriak Jessi dengan marahnya.