
Happy Reading 💜
Malam yang semakin larut, meninggalkan berbagai pikiran dan permasalahan yang menguap begitu saja seakan hilang bersama mimpi. Tapi tidak dengan Jessi, tawaran yang baru saja dia dengar dari mulut mantan kekasihnya bak angin segar di dalam kemelut hubungannya dan Theo.
Ditatapnya mata yang tidak berhenti memandangnya, tidak ada kebohongan disana. Tapi bukan lagi keteduhan dan kenyamanan yang dia dapat dari mata Garaa, melainkan obsesi dan keputusasaan yang terlihat disana.
Jessi menggeleng pelan. "Menikahlah. Jangan menungguku. Anna sangat mencintaimu, tidak bisakah kau melihat hal itu darinya?"
Garaa menidurkan Jessi dengan sangat hati-hati ke ranjangnya. Tangannya meraih selimut dan memakaikannya sampai hanya kepala Jessi yang terlihat. Dia terduduk di sisi ranjang mantan kekasihnya. Matanya menerawang jauh, "Apa kau bahagia bersama Theo?"
Perasaan cemas saat berdekatan dengan Garaa belum juga menghilang dari hati Jessi. Hanya sedikit berkurang karena obrolan kecil mereka saat ini, "Tentu. Aku bahagia. Kau juga harus bahagia, Garaa. Hiduplah dengan baik." Pesan Jessi saat itu.
"Kau serius? Aku tahu, Anna mencintaiku. Tapi, aku belum bisa mencintainya sepenuh hati, Jess. Masih ada bayangmu disana." Ungkap Garaa jujur akan perasaannya.
Jessi terkesiap mendengar pengakuan mantan kekasihnya tersebut. Dia juga sangat mencintai Garaa dulu. Sebelum Theo mengambil alih seluruh perasaannya. "Kau pasti bisa! Belajarlah perlahan-lahan untuk mencintai pasanganmu. Dia yang akan menghabiskan sisa waktunya denganmu, mendampingi dirimu."
Jessi bijak dalam menasehati permasalahan orang lain, tapi buta dalam permasalahannya sendiri. Teringat lagi Theo yang masih marah padanya.
"Kau ada masalah dengan Theo? Kenapa dia tidak terlihat sama sekali di rumah sakit? Tidak apa-apa kalau kau tidak mau bercerita, aku tidak akan memaksa." Jelasnya saat Jessi sedikit tidak nyaman.
Ayah Jessi mendengarkan pembicaraan anaknya dan lelaki yang berlabel mantan kekasih tersebut. Tangannya bersedekap, mulutnya berdehem dengan suara serak, "Sudah malam, pulanglah. Masih ada hari esok untuk melanjutkan pembicaraan kalian."
Garaa tersentak mendengar suara Ayah Jessi. Gerak tubuhnya berdiri secara otomatis. Kepalanya menunduk hormat pada satu-satunya lelaki di keluarga Jessi. Dia menoleh sebentar, "Teruslah sehat. Jangan seperti ini. Aku tidak tahan melihatmu dengan keadaan tidak baik-baik saja seperti saat ini. Cepat sembuh, ya. Aku pulang dulu, Jess." Tangannya mengusap rambut Jessi dengan sayang.
Jessi mengangguk dengan tersenyum simpul pada Garaa. Mungkin setelah ini hubungan mereka bisa membaik layaknya seorang teman.
Mata yang terasa berat karena mengantuk membuat air matanya terjatuh mengenai pipi. Bibirnya menguap berkali-kali. Tak butuh waktu lama matanya terpejam seiring dengan bebannya yang terangkat bersama mimpi.
***
Fajar menyingsing dengan warna oranye terhampar di atas awan. Cahayanya menerobos memasuki celah-celah kehidupan setiap orang yang masih terlelap. Jessi mengerjapkan matanya berkali-kali untuk mencegah sinarnya mengenai mata.
Dia terduduk diatas ranjang sembari mengumpulkan nyawa yang belum utuh. Sedikit sempoyongan saat kakinya mencoba melangkah. Perutnya berbunyi dengan riang. Dia berpikir mungkin karena efek lapar kepalanya jadi sedikit pusing.
Jessi menikmati sarapan berupa nasi goreng sederhana bersama dengan Ayah dan Ibunya. Suapan demi suapan berhasil mendarat dengan cepat kedalam mulut Jessi.
"Tidak usah bekerja kalau keadaanmu belum membaik, Jess. Minta ijin saja." Ayahnya menatap Jessi dengan pandangan khawatir.
"Jessi sudah baik-baik saja, Yah," ucapnya dengan senyum mengembang. Meskipun masih sedikit pusing, tapi sudah tidak seberapa lagi rasanya.
Jessi menyelesaikan sarapannya dengan cepat. Dia bergegas bersiap-siap untuk berangkat menjemput rejeki.
***
Theo memeriksa ponsel yang dia silent sejak kemarin. Begitu banyak notifikasi yang dia terima. Panggilan dan pesan dari Jessi berada diurutan teratas dengan jumlah notifikasi terbanyak.
Theo menggeleng cepat. Rasa cemburu masih menguasai akal sehatnya. "Tidak, aku tidak perlu meminta maaf. Mau, atau tidak mau, dia harus menerima imbas dari sikapnya itu!" Tegasnya menghilangkan ragu.
Theo menyimpan kembali ponselnya, lalu memutuskan untuk berangkat bekerja. Sepertinya tidak akan macet kali ini karena hari yang belum terlalu siang.
***
Jessi berangkat bersama Rin dan Brian. Awalnya Rin tidak setuju dengan ide berangkat bekerja setelah pulang dari rumah sakit. Tapi, perempuan keras kepala tersebut masih saja kekeh untuk berangkat juga.
"Semalam tidak terjadi apa-apa 'kan? Semua aman?" tanya Rin memecah keheningan.
Jessi mengingat kembali tentang obrolannya dan Garaa. Tersungging senyum tipis dari bibir mungilnya, "Aman. Kami berbicara sebentar sebelum dia pulang. Dia menawariku hal yang tidak pernah sekalipun terlintas dalam pikiranku, Rin."
"Apapun itu, semoga hubungan kalian kedepannya membaik. Aku akan senang mendengarnya." Usapnya lembut pada lengan Jessi.
Dalam sekelebat Theo melihat Jessi bersama dengan Rin. Kakinya bergerak mundur untuk memastikan apakah benar Jessi yang dilihatnya saat itu. "Dia bekerja?" Langkah kakinya tegas menuju Jessi.
"Hai ... Rin" Sapa Theo tanpa melirik Jessi.
Jessi menatapnya tidak percaya. Theo lebih memilih menyapa Rin daripada dia, kekasihnya sendiri. Rin bahkan meliriknya takut-takut.
"Aku akan meminjam temanmu sebentar. Tidak apa-apa, 'kan?" Senyumnya kali ini membuat Rin sedikit takut. Dia mengangguk tanpa sadar.
***
Theo menggandeng Jessi menuju ruangan kerjanya. Tanpa banyak bicara, kakinya terus melangkah dengan pasti. "Duduklah ...." Ucapnya dingin begitu sampai di dalam ruangannya. Sekuat tenaga dia berusaha untuk mengabaikan calon istrinya tersebut.
Jessi menundukkan kepalanya, sedikitpun dia tidak berani mendongak menatap Theo. Tangannya ia usap berkali-kali untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"Tidak usah bekerja hari ini. Kau bisa pulang dan beristirahat sampai sembuh total." Tegasnya tanpa menatap Jessi.
"Kau masih marah? Tidak ingin berbaikan?" tanya Jessi penuh harap. Kakinya melangkah mendekati kekasihnya yang sedang fokus mengerjakan sesuatu dalam laptopnya.
Sekuat apapun keinginannya untuk tidak perduli, tetapi pada kenyataannya tidak seperti itu. Theo tetap ingin dan akan selalu perduli pada perempuannya.
Tangannya berhenti bergerak, fokus matanya menatap Jessi. "Berjanjilah padaku kalau kau akan memperbaiki sikapmu. Kau tidak akan mengulangi apapun yang bisa membuatku marah. Janji?" Dia mengulurkan jari kelingkingnya.
Jessi mengtautkan jarinya pada jari kelingking yang sedang menunggunya. Bibirnya tersenyum dengan sumringah, "Hmm, aku berjanji. Maaf, aku selalu mengecewakanmu. Terimakasih, sudah mencintaiku dengan begitu besar." Perempuan itu menghamburkan dirinya memeluk lelaki yang selalu dan akan selalu memaafkannya.
Theo membalas pelukan Jessi dengan begitu erat. Tangannya menelusup di balik kemeja yang dikenakan perempuan itu. Mengusap kulit punggung yang begitu terasa hangat di tangannya. Bibirnya menyeringai, lalu tangannya menarik tali bra yang dikenakan Jessi. Takkk!!!
Jessi mendelik sambil berkacak pinggang. Dicubitnya tangan Theo, "Dasar tangan nakal!"