Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Merindu



Happy Reading 💜


Bumi seakan mengerti apa yang sedang dirasakan lelaki berbadan tegap disana. Cuaca yang semakin terik membakar setiap kulit yang berada dibawahnya. Tapi tidak dengan yang satu ini, bukan saja kulitnya yang terbakar, tapi hatinya juga ikut terbakar api amarah.


Apa yang baru saja dia dengar membuatnya mematung tidak percaya. Lagi-lagi karena salah paham hubungan mereka dipertaruhkan.


Tidak usah menikah kalau begitu! Tidak usah menikah kalau begitu!


Berkali-kali telinganya terngiang dengan perkataan perempuan yang sedang dikuasai emosi disana. Mata yang berderai airmata membuat hatinya begitu sakit. Dia merasa gagal menjadi calon suami.


Mungkin memang benar, tidak usah menikah kalau begitu!


Theo tidak mengejar kekasihnya. Dia masuk ke dalam mobil dan melajukanya tanpa arah yang pasti. Mulut manisnya mengumpat tanpa henti.


Brengsek!!


***


Siang yang terik berganti menjadi malam yang dingin dan syahdu. Sampai malam hari, belum sekalipun keduanya saling menghubungi dan meminta maaf.


Hiruk pikuk keramaian disertai dengan dentuman musik yang memekakkan telinga tidak membuat lelaki itu bergeming. Beberapa gelas yang isinya sudah tandas masuk ke dalam perutnya terlihat berjejer rapi diatas meja.


Seorang perempuan dengan pakaian minim yang menempel di tubuh berjalan mendekatinya. Bibir merahnya mengecup lembut pipi lelaki yang sudah diambang batas sadarnya.


"Kau sendirian? Aku akan menemanimu malam ini. Kita bisa bersenang-senang sampai pagi ...." Ucap si perempuan penggoda dengan nada suara yang menjijikkan.


Theo meliriknya sekilas, lalu kembali menyesap minumannya. "Pergilah, aku sedang tidak ingin diganggu." Tangannya mengibas mengusir dengan sopan.


Penolakan yang diterima membuat si perempuan penggoda semakin merasa tertantang. Tubuhnya beringsut memeluk Theo dari arah belakang. Ditekannya bagian dada pada punggung yang tertutup jas tersebut.


"Pergi!!! Menjauh dariku!!!" teriak Theo dengan emosi. Di dorongnya tubuh perempuan tersebut hingga tersungkur.


Brian yang sedang berada disana membantu perempuan itu berdiri. Kemudian dia berlalu menghampiri Theo. "Cukup. Kau mabuk, Theo!" Tangannya menahan gelas yang sudah terisi penuh dengan minuman.


Theo menatapnya dengan mata yang sayu. Kesadarannya menghilang saat tubuhnya ambruk saat itu juga. Brian memutuskan membawa Theo pulang ke rumahnya karena dia tidak tahu dimana alamat rumah bos sekaligus temannya tersebut.


***


Jessi bergerak tidak nyaman diatas ranjangnya. Malam yang semakin larut tidak membuatnya mengantuk sedikitpun. Semacam ada perasaan gelisah dan cemas yang bersarang di hatinya.


Apa benar hubungannya akan hancur seperti ini? Pernikahan yang sudah terbayang dengan indahnya, kini tidak jelas kemana arahnya. Entah jadi, atau tidak dia juga tidak tahu.


Ddrrt Drrt


Ponsel yang sedang di charge bergetar diatas nakas. Sebuah pesan dari Rin membuatnya membelalakkan mata.


Kau bertengkar dengan Theo? Dia mabuk dan Brian membawanya ke rumah kami. Kau akan menikah dengannya, jangan bertindak bodoh dan egois. Pikirkan masa depanmu! (Rin)


Matanya semakin tidak mau terpejam setelah membaca pesan dari Rin. Kakinya bergerak mondar-mandir menunggu datangnya pagi. Dia ingin menyusul Theo ke rumah Rin.


***


Tepat pada saat jarum jam berada di angka enam Jessi bersiap-siap menuju rumah Rin untuk menjemput kekasihnya disana. Langkah kakinya sedikit berlari dengan tergesa-gesa.


"Ke rumah Rin, Bu. Theo ada disana sejak semalam. Aku harus menemuinya," ucapnya dengan terburu-buru.


"Kau tidak boleh pergi bertemu dengan Theo. Kau akan menikah dengannya besok. Kau akan dipingit hari ini." Jelas Ibu panjang lebar.


Mulut Jessi menganga dengan lebarnya. Dia tahu apa itu dipingit. Berarti pupus sudah harapannya untuk bertemu dengan kekasih hatinya.


Perempuan itu menatap Ibunya dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Dia memeluk Ibunya sambil terisak pelan. Sementara sang Ibu memilih untuk tidak banyak bertanya, dia hanya memeluk dan menenangkan satu-satunya anugerah yang dititipkan Tuhan kepadanya.


***


Sementara dilain tempat, Brian, Rin, dan Theo sedang menikmati sarapan bersama. Brian dan Rin cukup tahu diri untuk tidak ikut campur masalah Theo dan Jessi. Keduanya memilih diam dan tidak banyak bertanya.


Selesai sarapan Theo berpamitan kepada pasangan tersebut. Tak lupa dia mengucap banyak terimakasih kepada mereka.


"Terimakasih sudah menolongku, memberiku tempat menginap, dan memberiku makan. Aku akan membalas kebaikan kalian. Aku permisi kalau begitu." Theo berbalik dan berjalan keluar rumah.


"Tunggu dulu, Theo. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," pinta Rin sambil menahan Theo untuk tinggal sebentar lagi.


Mereka duduk di teras rumah. Keduanya diam sampai Rin memulai pembicaraan pagi itu. "Maaf, bukannya aku ingin ikut campur masalahmu dan Jessi. Tapi Jessi juga temanku. Apa kau tahu, semalam dia menangis dan ingin segera kemari saat aku mengabarinya kau mabuk dan pingsan. Pagi ini dia harusnya datang, tapi Ibunya melarangnya bertemu denganmu. Karena dia harus dipingit sebelum menikah denganmu besok."


"Kau harus maklum kalau dia begitu sensitif dan gampang sekali tersinggung, Theo. Dia akan bersikap dewasa jika kau membimbingnya secara perlahan." Imbuhnya lagi.


Theo mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Rin. Seulas garis senyum tercipta dari bibirnya. "Aku mengerti, Rin. Terimakasih, sudah peduli pada hubungan kami. Aku akan mengirimkan hadiah untukmu dan Brian."


Keduanya saling mengangguk sebelum akhirnya Theo melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Rin menunggu sampai mobil Theo tidak terlihat lagi.


"Semoga kau dan Theo selalu bahagia, Jess."


***


Mobil mewah milik Theo kini berada di sebuah garasi yang berisikan beberapa mobil di dalamnya. Yah, dia sedang berada di rumah dan bukannya di apartemen.


"Bu, bagaimana dengan persiapan pernikahanku dan Jessi? Apa semuanya sudah selesai? Tidak ada yang tertinggal?" tanyanya sambil merebahkan kepalanya di pangkuan sang Ibu.


Ibu mengelus-elus dengan sayang rambut satu-satunya anaknya. Anak yang besar tanpa hadirnya seorang Ayah. Ayahnya meninggal saat usia Theo kecil baru menginjak beberapa hari.


"Semua sudah beres. Ibu sudah mengatur semuanya. Ibu tidak menyangka, kau menjadi dewasa secepat ini. Padahal baru kemarin rasanya Ibu menggendongmu." Isaknya sambil mengelap airmatanya yang menetes.


"Kau akan menikah. Jadilah suami yang bertanggungjawab pada keluarga kecilmu. Jangan pernah sekalipun terdapat niatan untuk berselingkuh, atau menikah lagi. Kau harus menerima Jessi dengan segala kelebihan dan kekurangannya," ucap Ibu dengan segala macam pesan-pesannya.


Theo mengangguk dan memeluk perempuan yang sudah melahirkannya tersebut. Dia memilih tidur dengan Ibunya malam ini. Sudah lama dia tidak menghabiskan waktu bersama dengan Ibunya.


Sejak kemarin belum sekalipun Theo menghubungi Jessi. Begitu juga sebaliknya. Rasa rindu yang teramat besar di dalam dada sedang berkecamuk ingin terobati.


Theo mengotak-atik ponselnya dan menghubungi Jessi malam itu. Mungkin Jessi sudah tertidur karena waktu yang sudah menuju pagi. Tak sia-sia usaha lelaki itu karena teleponnya tersambung juga.


"Theo ...." Suara Jessi terasa begitu nyata baginya.


"Hai, Jess. Maaf, aku mengganggu tidurmu. Aku merindukanmu ...." Ucapnya dengan mata yang terpejam diterpa semilir rasa rindu yang semakin menyeruak.