Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Malam Panas Yang Tertunda



Happy Reading 💜


Malam pengantin, atau malam pertama tentulah menjadi hal yang sangat mendebarkan bagi dua insan yang terlibat di dalamnya. Sebuah babak baru yang sanggup memabukkanmu dan membuatmu menginginkannya terus-menerus. Dengan kata lain, bisa membuatmu kecanduan.


Namun, jawaban berbeda diungkapkan pengantin perempuan malam itu. "Aku belum siap, Theo. Maafkan aku," bisiknya lirih.


Sementara pengantin laki-laki yang sudah siap siaga begitu terkejut saat istrinya mengatakan kalau dia belum siap. Dia tahu, pasti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


"Apa yang membuatmu belum siap, Jess? Katakan! Apa yang kau takutkan?"


Mereka duduk berdampingan di sisi ranjang. Tidak sekalipun Jessi mendongak menatap suaminya yang menuntut jawaban darinya. Tangannya meremass helaian gaun pengantinnya.


Lalu, tubuh tegap itu berpindah turun dari sisi ranjang, dia bersimpuh dan sedikit berjongkok menatap istrinya tersebut. "Apa yang kau risaukan?" tuntutnya meminta jawaban.


"Aku takut, aku takut tidak bisa melakukannya sebaik perempuan pertama yang pernah melakukannya denganmu," jawabnya dengan getir.


Theo begitu terkesiap dan kehilangan kata-katanya. Didekapnya dengan erat tubuh istrinya tersebut. Pelan-pelan tapi pasti tangan kekarnya mengelus lembut punggung istrinya.


"Kau tidak perlu merasa takut seperti itu, Jess. Itu semua hanya masa lalu untukku. Sudah bertahun-tahun kejadiannya, aku tidak pernah melakukannya lagi setelah itu. Aku tidak akan memaksa jika kau belum siap. Tapi, tolong jangan membebani dirimu dengan perasaan seperti itu, Sayang." Tuturnya tanpa melepaskan dekapannya pada tubuh mungil tersebut.


Keduanya saling memeluk sampai rasa kantuk menyergap dua insan yang seharusnya sedang bergulat mengarungi malam yang indah.


"Mari kita tidur. Kau pasti lelah seharian ini," ucapnya sambil merebahkan diri pada ranjang.


Sepasang pengantin baru itu memutuskan untuk tidur dan melewatkan malam pengantin mereka. Meskipun ada sedikit perasaan tidak rela, tapi dia tidak akan memaksa jika istrinya belum siap menyelami surga dunia yang berlimpahkan pahala.


***


Sang fajar telah keluar dari peraduannya. Malam gelap gulita, berganti menjadi terang benderang.


Jessi menggeliat saat perutnya terasa berat karena tertindih sesuatu. Perlahan matanya mengerjap menyesuaikan dengan cahaya fajar yang begitu menyilaukan.


Setelah berhasil mengumpulkan nyawa, perempuan itu memilih untuk membersihkan tubuhnya yang sejak kemarin pagi belum sekalipun dia mandi.


Setengah jam sudah dia habiskan untuk membersihkan dirinya. Dia mengenakan sebuah dress selutut berwarna merah menyala. Kemudian dia bergegas membangunkan suaminya yang masih asik merajut benang mimpi.


"Theo, bangun! Ayo, kita pulang!" Tangannya bergerak menepuk-nepuk punggung suaminya.


Theo mulai membuka matanya ketika tepat Jessi menepuk punggung hingga sepuluh kali. Bibirnya tersenyum samar, "Mana ciuman selamat pagiku, Sayang?" Bisiknya serak.


Perempuan itu mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh lelakinya, lalu secepat kilat membungkam bibir suaminya dengan ciuman yang panas.


Mereka berdua melepaskan ciuman saat mereka kehabisan oksigen. Tak lupa mereka mengelap liur yang menetes karena ciuman panas keduanya.


***


Mereka kembali ke apartemen Theo saat siang hari. Sepanjang perjalanan dari hotel ke apartemen, Jessi memikirkan kembali tentang malam pertama yang gagal mereka lewati.


Aku harus mencobanya! Aku harus berbakti kepada suamiku!


"Mungkin, kita bisa mencobanya nanti malam," cicitnya pelan.


Theo yang sedang fokus mengemudikan mobilnya menoleh pada istrinya yang sedang duduk dibangku sebelahnya.


Bibirnya menghela nafas pelan. "Tidak perlu terburu-buru, Jess. Aku bisa menunggu sampai kau siap."


Mereka saling berpandangan dalam hening panjang. Suasana yang seharusnya bahagia, kini menjadi canggung karenanya.


"Tidak apa-apa, Theo. Kita bisa mencobanya." Tegasnya sekali lagi.