
Happy Reading 💜
"Senang, ya, mentang-mentang kekasihmu CEO kau bisa bermesraan di area kerja! Dasar tidak tahu malu!!"
Kembalinya Jessi setelah menyelesaikan urusannya dengan Theo disambut Sara dan segala celaannya. Sara bersedekap sembari menatap tidak suka pada Jessi, "Enak yang habis dicium CEO. Merasa bangga bisa pamer kemesraan didepan kami? Dasar perempuan murahann."
Kesabaran Jessi habis juga kalau terus-terusan dihina seperti itu. Tangannya yang bebas bergerak menampar pipi Sara yang putih bersih, tapi tidak seperti hatinya yang kotor. Emosinya meletup-letup ingin membludak saja rasanya. Dia bergerak menuju kursinya sambil memperingati Sara, "Sakit? Jaga ucapanmu! Jangan kau kira aku takut padamu, lalu kau bisa seenaknya menghinaku setiap hari. Sabarku ada batasnya!"
Sara begitu terkejut pipinya yang mulus ditampar oleh Jessi. Dia menerjang dan menjambak rambut Jessi ke belakang sampai dia terjungkal. Jessi merasa kepalanya teramat sangat sakit. Beberapa pegawai berusaha memisahkan mereka. Sara masih saja tidak terima, "Awas kau perempuan sialan, aku akan membalasmu. Kau harus ingat itu!"
***
Saat jam istirahat makan siang, Jessi diantar Elia ke ruangan Theo. Dia tidak membiarkan Jessi kesana sendirian, bisa-bisa ditengah jalan dia dikeroyok oleh Sara dan rekan-rekannya yang semakin membenci Jessi. Mereka mengetuk pintu ruang kerja Theo, lalu menunggu si empunya membukakan pintu tersebut. Nampak Theo dengan senyumnya yang mengembang disana. Elia cukup tahu diri untuk tidak mengganggu Jessi dan Theo berduaan. Dia berpamitan akan ke kantin untuk makan siang.
"Sayang, masuklah." Theo menutup pintunya rapat-rapat.
Jessi yang sedari tadi memegang kepalanya yang masih sakit menarik perhatian sang kekasih. Raut wajahnya seketika menjadi panik, "Ada apa? Kepalamu sakit?"
"Periksa CCTV mu. Lihat bagaimana kelakuan pegawaimu kepadaku." Theo menjauhi Jessi yang terduduk di sofa. Dia berjalan menuju meja kerjanya dan mulai mengecek CCTV diarea ruang kerja Jessi. Tangannya terkepal menahan amarah, ternyata selama ini ada kasus bullying dikantornya. Dan parahnya kekasihnya yang jadi korban bullying.
Theo menghubungi sekretaris pribadinya. Dia memberikan instruksi untuk memanggil pegawai yang melakukan kasus memalukan tersebut dan segera memberinya surat peringatan terakhir. Tidak ada ampun bagi pelaku bullying.
Theo membawa Jessi ke klinik perusahaan. Jessi diberi beberapa obat untuk menghilangkan sakit pada kepalanya. Mereka tidak jadi makan siang bersama di cafe, "Ayo kita makan siang dikantin, lalu kau harus meminum obatnya, Jess."
Jessi menggeleng pelan sembari berucap, "Tidak usah, Theo. Aku akan meminum obatnya nanti sore saja, aku harus kembali bekerja. Aku duluan, ya."
Theo membiarkan kekasihnya pergi, dia menatap punggung Jessi yang menjauh. Bibirnya tersenyum simpul. Mungkin sudah waktunya Jessi menjadi Ibu Rumah Tangga dan berdiam diri dirumah saja, mengurusku dan anak-anak kami.
***
Meskipun Garaa sudah keluar dari rumah sakit, tapi dia belum kembali bekerja. Dia sendiri juga bingung apakah harus kembali bekerja di perusahaan milik Theo. Bahkan dia bisa menjamin jikalau bertemu dengan Theo sudah pasti lelaki itu akan menghajarnya lagi untuk menuntaskan rasa kesal dan marahnya.
"Besok aku akan berangkat ke kantor. Aku akan meminta maaf pada Theo dan Jessi."
Penyesalan kini hanya tinggal penyesalan saja. Garaa bertindak tanpa memikirkan lebih jauh akibat dari tindakan bodohnya itu. Dia hanya mengikuti arahan setan untuk merebut paksa Jessi yang berada disamping Theo. Nasi sudah menjadi bubur, tidak ada yang bisa dia ubah lagi karena semua sudah terjadi.
***
Tangannya fokus mengemudikan laju mobil dengan kecepatan sedang. Tiba-tiba Theo bertanya, "Jess, menurutmu kita harus bertunangan dulu, atau langsung menikah saja?"
Jessi menimbang-nimbang sejenak apa yang sebenarnya diinginkannya, "Menikah saja, Theo. Aku ingin seperti Rin yang langsung menikah tanpa melewati proses pertunangan dan sebagainya. Buang-buang uang juga, Theo. Kan lebih baik uangnya disimpan untuk anak-anak nantinya. Mumpung Ayahku juga dalam bulan ini sedang ada dirumah."
Bibir Theo tersenyum lebar. Deretan giginya yang putih terlihat berjejer rapi disana. Kepalanya mengangguk senang, "Baiklah. Aku setuju sekali kalau kau ingin menikah secepatnya. Aku akan mengurus semua, Jess. Kau hanya harus duduk manis menungguku menyelesaikan semuanya. Besok malam aku akan datang ke rumahmu dengan Ibu. Membicarakan pesta pernikahan kita."
Jessi mengangguk menyetujui semua perkataan kekasihnya. Dia beruntung mendapatkan calon suami seperti Theo. Ahh, rupanya Jessi sangat menginginkan Theo malam ini. Dia menawarkan sesuatu pada lelaki yang masih fokus menyetir disampingnya ini, "Theo, apa nanti malam kau mau menginap di rumahku?"
"Kau serius? Apa orang tuamu tidak akan marah kalau aku menginap? Kenapa tidak menginap saja di apartemenku?" Theo sedikit ragu akan ajakan Jessi.
Apa-apaan itu ... sudah diajak tapi malah begitu jawabannya.
Seketika Jessi menekuk wajahnya, moodnya memburuk setelah mendengar jawaban yang tidak diharapkan keluar dari bibir manis kekasihnya. Dia menunjukkan kekesalannya, "Rumah kami memang kecil, tidak seperti rumahmu yang seperti istana. Baik kalau memang tidak mau menginap di gubuk kami."
"Siapa yang tidak mau menginap? Aku jelas mau menginap dimanapun, asalkan itu bersamamu. Kau mengajakku menginap di hutan juga aku setuju saja. Kenapa malah membandingkan rumah segala. Kau merusak suasana saja," ucap Theo kesal.
"Baiklah, kita menginap di rumahku, ya, malam ini, Sayang. Tapi kau tidur di kamar tamu saja, kalau tidur di kamarku bisa-bisa Ayah akan menikahkan kita saat itu juga," Jessi bergidik membayangkan kemarahan sang Ayah.
Tawa Theo memenuhi ruang mobilnya. Entah kenapa dia malah senang sekali jadinya. Dia sengaja semakin mengompori Jessi, "Kalau begitu aku akan menyelinap ke kamarmu saat malam hari, bermesraan denganmu sampai pagi. Lalu kemudian Ayahmu akan memergoki kita dan menikahkan kita. Wah, aku tidak sabar menantikannya. Hahaha."
Mobil menepi di area parkir pusat perbelanjaan saat Jessi juga ikut terkekeh dengan skenario yang dibuat Theo. Theo menjadi menggemaskan sekali dimatanya saat ini, "Apa aku boleh menciummu, Theo? Kau sangat menggemaskan. Aku semakin mencintaimu, Sayang."
Tentu saja Theo tidak melewatkan kesempatan ini begitu saja. Jarang-jarang Jessi yang menginginkan menciumnya duluan, dia sangat senang kalau Jessi menjadi agresif begini, "Kau boleh menciumku sepuas hatimu, Sayang. Kemarilah, cium aku."
Theo menekan tombol disamping pintu kemudi untuk mengganti kaca mobilnya menjadi gelap. Orang lain tidak akan bisa melihat apa yang mereka lakukan didalam mobil. Jessi mendekat pada Theo yang sudah siap sekali menyambut ciuman darinya. Bibirnya yang sengaja ia monyong-monyongkan membuat Jessi seketika tertawa terbahak-bahak. Kenapa semakin menggemaskan saja kekasihku ini.
"Maaf, hehehe. Aku akan menciummu sekarang juga," bibir Jessi mengecup lembut pipi Theo sebanyak dua kali.
Theo tidak mengerti keinginan kekasihnya ini seperti apa. Tadi ingin mencium, giliran Theo sudah siap malah Jessi hanya mencium pipinya. Kesal yang dia rasakan sekarang. Sia-sia sudah mengganti kaca mobil segala, ciuman panas yang dia bayangkan batal terjadi.
Jessi memahami kekesalan Theo yang sudah mempersiapkan bibirnya sedari tadi, sia-sia sudah. Dia meminta maaf pada Theo, "Aku kan hanya bilang ingin menciummu, bukan mencium bibirmu, Theo. Maaf, ya, mengecewakanmu."
Awas saja, ya, nanti malam ku habisi kau! batin Theo menyiapkan skenario licik untuk membalas Jessi.