Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Kejutan Di Pagi Hari



"Apa kau cemburu?"


Ya Tuhan, laki-laki di depanku ini sangat menggemaskan sekali. Caranya marah benar-benar membuatku menyukainya. Kau tipeku sekali, Tuan CEOku.


Jessi mendekati Theo yang masih saja melengos, tidak mau menatapnya. Wajah Theo yang tampan semakin bertambah tampan saat alisnya mengkerut seperti sekarang. Tanpa aba-aba Jessi memeluk Theo dan mengusap-usap punggung Theo.


"Theo, jawab pertanyaanku sekarang juga. Apa kau cemburu?" tanya Jessi sambil melepaskan pelukannya.


Theo menjawab pertanyaan Jessi bukan dengan ucapan, melainkan dengan sebuah ciuman singkat tepat di bibir Jessi.


"Bukankah itu cukup untuk menjawab pertanyaanmu?" Theo melangkah melanjutkan persiapannya untuk berangkat ke tempat kerja.


Jessi yang mendapatkan ciuman secara tiba-tiba tidak bisa menolak begitu saja. Matanya terbelalak kaget saat Theo mendaratkan bibirnya di bibir kenyal Jessi. Pipinya merona merah saat Theo menyudahi ciuman dadakan mereka. Ciuman pertamaku.


***


"Cepat bersiap-siap, aku akan mengantarmu pulang sebelum aku berangkat ke kantor."


Jessi yang sedang merebahkan diri di kasur dan berguling-guling, segera bangun dan bersiap-siap. Saat sekiranya sudah beres, ia menghampiri Theo yang menunggu sembari bermain game online di ponsel.


"Ayo, Theo!"


Tanpa menjawab pertanyaan Jessi, Theo segera bangkit dan memasukkan kembali ponselnya ke saku celana. Saat membuka pintu apartemen, Jessi dan Theo terbelalak kaget ada Melani didepan pintunya. Melani pun sama kagetnya dengan mereka.


"Kenapa kau bisa bersama Theo? Apa yang kau lakukan pada Theo sampai dia lebih memilihmu dan meninggalkan aku?" Melani mencerca Jessi dengan pertanyaan beruntun. Tangannya menunjuk Jessi tepat di depan wajah Jessi.


Theo menarik Jessi ke belakang punggungnya. Ia tidak mau Jessi kenapa-kenapa. Di tatapnya Melani dengan raut wajah penuh amarah.


"Apa yang kau lakukan disini? Jessi kekasihku sekarang. Apapun yang dia lakukan itu bukan urusanmu. Ku tegaskan sekali padamu, aku mengakhiri hubungan kita karena memang aku merasa tidak cocok lagi dengan mu. Kau berubah menjadi arogan dan kasar, aku tidak suka itu."


"Kau membelanya, Theo? Aku tahu, kau meninggalkanku karena perempuan ini kan. Apa dia menawarkan tubuhnya padamu sampai kau mau meninggalkanku?" Melani berteriak dalam keheningan apartemen. Suaranya terdengar jelas memenuhi sekitar apartemen Theo.


"Kauuu! Beraninya kau berkata seperti itu tentang Jessi! Sekarang pergilah, atau akan menyuruh satpam menggeretmu keluar dari sini."


Theo menatap Melani dengan amarah yang semakin menjadi-jadi. Tangannya terkepal erat serta mimik wajah yang semakin tegas menunjukkan betapa marahnya dia sekarang.


Tanpa diperintah dua kali, Melani segera berlalu pergi dari hadapan Theo dan Jessi. Dengan rasa kesal yang menggebu, ia menghentakkan kakinya ke lantai.


***


Jessi yang sedari tadi terdiam menjadi penonton perdebatan Theo dan Melani menjadi pusat perhatian Theo sekarang. Wajahnya yang tanpa ekspresi membuat Theo tidak bisa membaca apa yang sekarang sedang dipikirkan olehnya.


"Aku mau pulang."


Jessi melangkah meninggalkan Theo dibelakang. Sungguh ia tidak menyangka akan bertemu Melani disini. Apa yang dikatakan Melani sedikit mengganggu pikiran Jessi.


Apa aku penyebab Theo meninggalkan Melani?


Pertanyaan itu berulang-ulang berputar di kepala Jessi. Ia diam saja sampai memasuki mobil Theo. Bahkan saat didalam mobil, Jessi masih enggan berbicara dengan Theo. Masih sibuk bersikutat dengan pikirannya sendiri.


"Jangan diambil hati soal omongan Melani tadi, ya," Theo memberikan wejangan lagi untuk Jessi.


Mobilnya menepi tepat didepan rumah Jessi. Jessi mengucapkan terimakasih dan melangkah menuju rumahnya.


***


Sesampainya di rumah, Jessi semakin dibuat kaget saat melihat Garaa di rumahnya. Garaa menunggunya di ruang tamu. Ini seperti dejavu saat Theo mengunjunginya dulu.


Garaa memilih untuk mengunjungi rumah Jessi pagi ini. Tapi Ibu bilang kalau Jessi belum pulang. Ia menginap dirumah teman, begitu katanya. Suara deru mobil mengalihkan perhatian Ibu Jessi dan Garaa. Terlihat Jessi turun dari mobil dan memasuki rumah.


"Garaa? Ada apa? Ada yang bisa kubantu?" tanya Jessi yang memilih untuk duduk didepan Garaa.


"Kau bermalam di apartemen Theo? Tidak terjadi apa-apa kan diantara kalian semalam?" Garaa balik bertanya pada Jessi.


Pipi Jessi memerah mengingat semalam Theo menciumnya. Ciuman pertama Jessi yang dicuri Theo semalam.


"Tidak ada yang terjadi diantara kami."


"Kenapa pipimu memerah? Jangan-jangan kau dan Theo melakukan sesuatu?" Garaa menaikkan satu oktaf nada bicaranya.


Jessi sungguh malas menghadapi Garaa sekarang. Ia dan Garaa sudah tidak ada hubungan apa-apa. Garaa juga sudah bertunangan dan semestinya berhenti mencampuri urusan Jessi.


"Apa pedulimu? Hubungan kita sudah berakhir. Kau juga sudah bertunangan dengan perempuan lain. Berhenti mencampuri urusanku, Garaa. Urusi urusanmu sendiri!" Jessi tidak mau kalah, ia juga menaikkan nada bicaranya.


Garaa terdiam seketika mendengar penuturan Jessi. Tangannya terkepal menahan amarah. Matanya menatap kedalam mata Jessi.


"Aku masih sangat mencintaimu. Kau tahu itu, Jess," Garaa menggenggam tangan Jessi lembut.


Jessi menarik tangannya yang digenggam oleh Garaa. Ia tidak mau bersedih lagi, hubungannya dengan Garaa sudah berakhir. Tidak ada yang bisa diselamatkan. Garaa harus berfokus pada tunangannya. Dan Jessi akan berfokus pada masa depannya juga.


"Jangan mencintaiku lagi, Garaa. Kau harusnya mencintai tunanganmu."