Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Apa Maksudnya Ini?



Happy Reading 💜


Aku harus bisa mendapatkanmu, Theo! Bagaimanapun caranya!


Malam menuju fajar sudah didepan mata. Dinginnya angin yang berhembus menusuk sampai ke ulu hati. Beberapa dari mereka yang masih tertidur pulas semakin mengeratkan selimutnya. Dan beberapa juga masih berkeliaran di jalanan seperti lelaki kekar satu ini yang sedang dirundung emosi. Dinginnya angin tidak mampu mendinginkan kepalanya yang berasap. Emosinya sudah seperti diujung ubun-ubun.


Theo melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia melewati jalanan bebas hambatan yang lengang. Hanya beberapa mobil saja yang melintas dengan kecepatan yang tidak kalah tingginya. Tak butuh waktu lama dia sudah sampai di gedung apartemen. Direbahkan tubuhnya yang lelah pada ranjang empuknya. Matanya menutup seiring dengan deru nafasnya yang teratur.


Kicauan burung-burung terdengar bersahutan. Theo terbangun dengan mata yang lengket tidak mau membuka dengan sempurna. Dia masih sangat mengantuk mengingat tidurnya yang hanya beberapa jam saja. Dia mengambil ponsel yang bergetar pada saku celananya. Sebuah pesan dari Jessi dan Ibunya datang silih berganti.


Nanti jemput aku, ya, Sayangnya aku. (Jessi)


Kau harus menikahi Anin juga. Hanya sampai bayinya lahir. (Ibu)


Senyum Theo menghilang saat membaca pesan dari Ibunya. Selama ini terbersit pikiran untuk menikahi Anin saja tidak ada. Lantas bagaimana juga soal hubungannya dan Jessi. Bisa gila kalau terus begini. Diabaikan pesan dari Ibunya tersebut. Kakinya beranjak menuju kamar mandi, dia ingin berendam. Menenangkan tubuhnya yang dari kemarin dihantam emosi terus-menerus.


***


Dikediaman keluarga Theo, Nyonya rumah beserta Anin sedang menikmati sarapan bersama. Mereka sudah terlihat seperti mertua dan menantu, bukan? Mata Anin sedikit meneliti memperhatikan seisi rumah.


"Anin ... Nak, Ibu memang tidak terlalu mengenalmu. Tapi, jika memang anak yang kau kandung adalah darah daging Theo, berarti dia adalah cucu Ibu. Kau bisa tinggal disini dengan Ibu. Ibu akan mengatur pernikahanmu dengan Theo secepatnya." Ucapan Ibu Theo menyenangkan hati Anin.


Senyum mengembang hadir dibibir Anin. Ibu Theo sangat mendukungnya, hatinya senang sekali. "Terimakasih, ya, Bu. Anin senang sekali."


"Nanti malam kita akan makan malam bersama dengan Theo dan juga Jessi. Ibu tidak mungkin membatalkan rencana pernikahan mereka. Theo sangat mencintai kekasihnya itu. Ibu juga sudah terlanjur suka dengan Jessi," terangnya lagi.


***


Jessi sudah bersama Theo dalam perjalanan menuju ke kantor. Dia merasa calon suaminya ini menjadi pendiam sedari tadi. Tidak seperti biasanya. Atensinya kembali saat mendengar getaran pada ponselnya. Rupanya sang Ibu Mertua menelepon untuk mengajaknya dan Theo makan malam bersama dirumah. Jessi sudah berjanji akan datang.


"Theo, Ibumu mengundang kita makan malam. Aku sudah berjanji kalau kita akan datang."


Theo sudah paham kemana tujuan makan malam yang disiapkan Ibunya. Napasnya berhembus pelan, "Tidak usah datang, Jess. Kalau kau ingin pergi kesana, pergilah sendiri."


Kening Jessi mengkerut, ia heran akan sikap kekasihnya hari ini. "Memangnya kenapa kau tidak mau datang, Theo? Ada masalah dengan Ibu?"


"Tidak, hanya saja aku malas kesana, Jess."


Jessi dan Theo sama-sama saling diam setelahnya. Keduanya dipenuhi dengan bermacam-macam pikiran yang tidak ada ujungnya. Jessi lantas memecah keheningan, "Aku akan datang sendiri kalau begitu. Aku senang kalau nantinya bisa semakin dekat dengan Ibumu."


Sekali lagi Theo memikirkan keinginannya untuk tidak ikut makan malam. Hubungannya dengan Jessi dipertaruhkan malam ini. Dia tidak bisa berpikir bagaimana nasib hubungannya kelak jika Jessi sampai mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Satu hal yang ditakutkan Theo adalah jika Jessi meninggalkannya.


***


Mobil yang mereka kendarai telah sampai di area parkir, mereka berpisah setelah saling memeluk dan berciuman hangat disana. Sepanjang jalan menuju ruangan, Theo berjalan menunduk. Dia tidak ingin para pegawai melihat raut wajahnya yang begitu kalut.


Berbeda dengan Jessi, dia berjalan dengan begitu gembira. Senyuman manisnya tidak luntur sepanjang dia melangkah. Bahkan bibirnya yang merona menggoda tak henti-hentinya bersenandung.


Hari ini ku gembira, na-na-na-na-na.


Lagu yang bahkan tidak dia hafal separuhnya menjadi temannya berbagi gembira hari ini.


***


Garaa mengetuk meja dengan jari-jemarinya yang besar. Dia sudah bertekad akan meminta maaf sepenuh hati pada Theo dan Jessi. Mungkin sulit bagi mereka untuk memaafkan, tapi tidak ada salahnya ia mencoba, "Apapun resikonya akan aku hadapi, ini memang kesalahanku. Aku tidak mau mereka membenciku."


"Sejak kau mencium paksa Jessi, mereka sudah pasti otomatis langsung membencimu, Garaa."


"Kau benar juga." Garaa menghela nafas dengan perlahan dan panjang.


***


Theo menyandarkan punggungnya yang pegal pada kursi kebesarannya. Kepalanya pusing tidak terkira. Dia tidak bisa begini terus, segera dia menghubungi sekretaris pribadinya dan menyuruh memanggilkan Jessi untuknya. Permintaan recehnya disanggupi oleh sang sekretaris. Tidak sampai sepuluh menit Jessi sudah sampai didepan pintu ruangan Theo.


"Masuklah. Tuan Theo menunggu anda," ucap sang sekretaris sopan.


Jessi mengangguk mengiyakan. Diketuknya pintu dan tanpa menunggu yang punya ruangan menyuruhnya masuk, Jessi sudah melangkahkan kakinya duluan. Kepalanya melongok ke dalam mencari keberadaan kekasih hati.


Jessi dan Theo saling menatap dalam diam. Mata mereka seakan berbicara tanpa adanya bibir yang saling berucap. Jessi berjalan mendekati Theo, tangannya mengusap dengan lembut, "Ada apa, Theo? Kau sakit?Ada yang mengganggu pikiranmu?"


"Kau mau berjanji padaku, Jess?" tanya Theo penuh harap.


"Tentang?" tanya Jessi penasaran.


"Tentang apapun itu. Cukup berjanjilah kalau kau tidak akan pernah meninggalkanku. Kita akan menikah dan hidup bahagia bersama-sama selamanya. Kau mau kan?" jelas Theo sambil menawarkan jari kelingkingnya pada Jessi.


Jessi menautkan jarinya, "Aku tidak akan meninggalkanmu, Theodore. Aku berjanji padamu."


Theo begitu senang mendengar janji kekasihnya. Bibirnya melengkung membentuk senyum yang amat manis disana. Bahkan tersirat kelegaan di wajahnya. Tangannya merengkuh pinggang Jessi dengan mesra, "Terimakasih, ya, Sayang. Aku sangat mencintaimu."


Telepon kantor di ruangan Theo berbunyi. Sekretarisnya berkata kalau ada Garaa ingin bertemu. Dia memaksa ingin masuk karena ada yang ingin dia katakan. Theo berpikir sejenak dan membiarkan Theo memasuki ruangannya. Sengaja Theo duduk memangku Jessi di pahanya. Mau pamer ceritanya.


Garaa berusaha mengabaikan aksi pamer Theo padanya. Dia malah menyeringai melihat Theo seperti ini. Garaa berdeham mencairkan suasana, lalu meminta dengan tulus, "Aku hanya ingin meminta maaf atas kekurangajaran ku, Theo. Maaf juga untukmu, Jess. Aku sangat menyesali apa yang kulakukan padamu."


Jessi menunduk tidak berani menatap wajah Garaa. Dia meremass ujung bajunya yang menjuntai. Dia cemas takut kalau Garaa akan bertindak nekat lagi, suaranya menciut, kakinya bergerak dengan gelisah, "Theo ... Aku tidak nyaman. Aku akan kembali ke ruanganku saja."


"Tenanglah, aku disampingmu selalu," ucap Theo menenangkan. Tangannya mengusap punggung Jessi dengan sayang.


"Tidak apa-apa kalau kau belum bisa memaafkanku, aku menyadari telah melakukan kesalahan besar pada kalian berdua. Maaf."


"Aku belum bisa memberimu maaf, pergilah sebelum aku berubah pikiran!" usir Theo dengan halus.


Sepeninggal Garaa pergi, tak lama dari itu Jessi juga mengikutinya pergi. Dia harus kembali bekerja dan bukan bermesraan terus seperti kata beberapa penggemar Theo.


***


Sore hari yang agak gelap karena mendung, juga karena mentari yang sudah mulai menghilang dari peradaban. Jessi pulang kerja diantar Theo. Jessi akan bersiap-siap, kemudian pergi ke rumah calon mertuanya. "Apa semua sudah siap? Kita pergi sekarang?"


Jessi mengangguk singkat dan mobil mereka melaju dengan kecepatan sedang. Setengah jam berlalu mereka sampai di rumah Keluarga Theo. Jessi begitu terkejut saat melihat ada Anin juga disana, "Kenapa Anin juga diundang? Apa maksudnya ini?"