
Happy Reading 💜
Banyak orang berkata bahwa saat kau akan menikah, maka berbagai macam cobaan akan datang menerpa hubunganmu. Jika kau bisa melaluinya, maka pernikahan semakin dekat di depan mata. Tapi jika kau gagal dalam cobaan tersebut, sudah dapat dipastikan jika hubunganmu bisa kandas dalam sekejap.
Rencana pernikahan Theo dan Jessi yang tinggal menghitung hari sedang diterpa cobaan. Dimulai dari Theo yang menaruh curiga, lalu melebar saat dia tidak mengijinkan Jessi melihat ponselnya, dan yang terakhir saat insiden menyapu air mata dalam pesta Garaa.
Besarnya ego masing-masing membuat mereka enggan memulai untuk menyelesaikan masalah yang mengganjal di hati. Semuanya terlalu asik menerka-nerka dengan pikirannya sendiri.
Theo berhasil menahan kekasihnya saat akan meninggalkan apartemennya. Meskipun harus melalui pergulatan batin yang tidak dapat dihindarkan.
Keduanya duduk di sofa dengan jarak yang cukup jauh. Tidak ada lagi tubuh yang saling menempel, ataupun berpelukan mesra malam itu.
Keheningan yang begitu terasa membuat Jessi menguap berkali-kali. Dia hanya ingin pulang dan tidur dengan nyaman.
"Katakan padaku, apa kau dan Kevin terlibat suatu hubungan sebelumnya?" tanya Theo sambil menatap lekat kedalam mata perempuannya.
"Tidak." Jessi tidak mau menjelaskan sesuatu yang sudah jelas seperti ini. Matanya menatap balik lelaki yang meragukan perasaannya dengan tajam, seolah tidak mau kalah.
Theo merogoh kotak cincin dari dalam saku jasnya. Dilemparkannya ke atas meja membentang yang memisahkan mereka. "Cincin ini milik Kevin. Kenapa bisa berada dalam tasmu?"
Jessi mengernyit heran, bagaimana bisa cincin lelaki kurang ajar itu berada dalam tasnya. "Kevin? Bagaimana bisa cincin miliknya berada di dalam tasku?" Jessi mengulangi pertanyaan yang dia sendiri tidak bisa menemukan jawabannya.
"Apa kau menuduhku mencurinya? Atau Kevin yang memberikannya padaku?" tanya Jessi tiba-tiba.
Tidak ada jawaban yang dapat di dengarnya malam itu. Theo diam dan semakin menatapnya penuh curiga.
"Apa kau sedang meragukanku? Aku tidak mengenal Kevin sebelum kau mengenalkan kami kemarin. Aku juga tidak mencuri cincin itu. Kenapa juga aku harus mencuri, kalau aku bisa mendapatkan cincin seperti itu darimu? Aku tidak tahu kenapa cincin sialan itu bisa berada di dalam tasku." Dadanya naik turun karena amarahnya yang tidak terkendali.
Seperti tertampar suatu kenyataan yang sama sekali tidak terpikirkan olehnya. Ada benarnya juga apa yang dikatakan kekasihnya tersebut. Tangannya mengusap wajahnya yang letih dengan kasar.
"Maaf, aku sudah menaruh curigaku tidak pada tempatnya." Sesalnya sambil berpindah tempat duduk mendekati Jessi.
"Kalau kau begitu penasaran, kenapa tidak bertanya saja pada sepupumu?" Jessi bergerak memasuki kamar Theo karena rasa kantuk yang tidak dapat lagi ditahannya.
Lelaki itu memandang punggung kekasihnya yang semakin menjauh. Langkah kakinya ragu-ragu untuk ikut masuk dan tidur dalam ranjang yang sama dengan Jessi.
***
Setelah bergulat dengan batinnya sendiri, Theo memutuskan untuk ikut tidur di sebelah kekasihnya. Dia berganti pakaian, lalu mencuci wajahnya yang kusut.
Ditatapnya perempuan yang sudah berkelana menuju alam mimpi dengan seksama. Dadanya naik turun seiring dengan desah nafasnya yang teratur.
Kakinya merangkak naik ke ranjang dengan pelan-pelan. Dia tidak ingin membangunkan Jessi yang sudah tertidur pulas.
Theo memandangi wajah Jessi yang terlihat damai dalam tidurnya. Tangannya bergerak membelai wajah cantik itu dengan lembut.
"Maaf ... Apa hari ini aku begitu menyusahkanmu?" ucapnya setengah berbisik.
Jessi yang belum sepenuhnya tertidur membiarkan matanya tetap tertutup sambil mendengarkan keluh kesah kekasihnya. Dia tidak tahan jika harus berpura-pura tidur untuk waktu yang lama.
Matanya membuka dengan perlahan. Posisi mereka berhadapan dengan mata yang saling memandang dalam kesunyian malam.
"Maafkan aku ...." Sesal Theo dengan begitu dalam.
"Cukup, Theo. Kau terlalu banyak mengucap maaf hari ini. Tidurlah ...." Jessi berbalik memunggungi Theo.
Theo yang mengira Jessi masih marah hingga memilih untuk tidur memunggunginya. Dia mendekatkan tubuhnya, lalu memeluk tubuh kekasihnya dari belakang.
Yang dipeluk merasa gerah dan tidak nyaman. Tubuhnya bergerak melepaskan diri dari pelukan Theo.
"Kenapa?" tanya Theo dengan heran.
"Gerah." Jawabnya dengan singkat.
Lelaki itu menyeringai sambil menggerakkan alisnya naik turun, "Buka saja bajunya, pasti tidak akan gerah lagi."
Jessi mengambil satu bantal, lalu menutup wajah kekasihnya dengan bantal tersebut. "Nanti kau yang jadi kegerahan melihatku tidak pakai baju."
Mereka terkekeh bersama sebelum pada akhirnya keduanya terlelap dengan tangan yang saling bergandengan.
***
Hari ini Jessi terbangun dengan tangan Theo yang melingkari perutnya. Matanya mengerjap menyesuaikan dengan sinar mentari yang menerobos celah jendela kamar apartemen.
Ting Tong Ting Tong Ting Tong
Bunyi bel bersahutan tanpa henti. Di jam sepagi ini, Theo sudah kedatangan tamu. Jessi menyenggol lengan kekasihnya agar segera bangun dan membuka pintu apartemennya.
"Theo ... Ada yang datang. Buka pintunya ...." Jessi menggoyangkan pundak kekasihnya dengan kencang.
Tangannya mengambil bantal, kemudian dia gunakan untuk menutupi wajahnya, "Kau saja yang membuka pintu. Aku mengantuk."
Perempuan itu memperbaiki tatanan rambutnya yang sedikit acak-acakan. Kakinya melangkah meninggalkan Theo yang masih terlelap. Tangannya bergerak membuka gagang pintu dengan perlahan.
Keduanya sama-sama terkejut sesaat setelah pintu terbuka. Jessi mundur selangkah ke belakang. Wajahnya menatap lelaki yang sedang menyeringai licik padanya.
Lelaki yang kedatangannya tidak diharapkan itu melangkah memasuki apartemen. Matanya berkeliling memperhatikan seisi ruangan, lalu berbalik menatap Jessi.
"Wow, kejutan di pagi hari. Kau bermalam bersama Theo?" tanyanya dengan seringai menjijikkan. Langkah kakinya mengelilingi Jessi.
"Bukan urusanmu!" Jessi akan kembali ke kamar saat tangan lelaki kurang ajar itu menahannya.
"Apa Theo bisa memuaskanmu semalam? Gaya apa yang kalian pakai? Kau mau mencobanya denganku?"
Tangan Jessi mengepal menahan geramnya perasaannya saat ini. Emosinya diuji dengan kehadiran makhluk yang tidak dia harapkan untuk bertemu lagi.
"Tutup mulut kotormu!! Theooo ...." Bibirnya berteriak dengan kencang memanggil kekasihnya yang tertidur.
Theo tergopoh mendatangi Jessi begitu teriakan kekasihnya sampai pada indera pendengarannya. "Ada apa, Jess? Kevin?"
Jessi berlindung ke belakang tubuh kekasihnya. Tangannya merangkul lengan Theo dengan erat. "Ajari sepupumu sopan santun, Theo. Dia melecehkanku dengan ucapannya yang tidak berpendidikan itu." Teriak Jessi dengan menggebu-gebu.
Kedua saudara disana saling menatap dengan tajam. Theo bertanya dengan lantang, "Apa yang sudah kau katakan pada Jessi?"
Sementara Kevin berdecih sebelum menjawab pertanyaan sepupunya, "Aku hanya terkejut saat melihat perempuan ini yang membuka pintumu."
"Aku bertanya gaya apa yang kalian pakai semalam? Kalau kau tidak bisa memuaskannya, aku bisa menggantikanmu." Jelasnya lagi dengan gamblang.
Dada Theo naik turun dengan cepat. "Tutup mulutmu! Keluar dari apartemenku! Aku bilang keluaaar!!"