
Happy Reading 💜
Sepanjang perjalanan pulang dari kantor, Jessi sibuk mengotak-atik ponsel pintarnya. Dia sedang bermain sebuah game online yang bisa menghasilkan uang.
"Jess ...." Panggil Theo sembari fokus mengemudikan mobilnya.
Tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel, perempuan itu menyahut, "Hmmm."
"Nanti malam kita akan makan malam bersama keluarga Bibi Dora. Aku lupa memberitahumu tadi." Lanjut Theo.
"Hmmm." Lagi-lagi perempuan itu menjawab dengan sekenanya.
Theo mendesah pelan. Sengaja dibiarkan perempuan itu melakukan hal yang disukainya, daripada harus berdebat dan berakhir dengan pertengkaran.
Tak berselang lama, mobil menepi di area parkir apartemen mereka. Mata Jessi begitu terfokus pada mobil berwarna putih yang terparkir di sebelah mobil Theo.
Ahh, aku menginginkan satu yang seperti itu.
Keduanya berjalan dengan beriringan. Tidak ada lagi tangan yang saling bergandengan karena perempuan itu terlalu gengsi untuk menautkan jarinya duluan.
Sesampainya di dalam kamar, Theo menyuruh Jessi menutup matanya. "Tutup matamu dan jangan mengintip!"
"Awas kalau sampai kau melakukan sesuatu yang aneh-aneh lagi. Aku akan menghukummu!" balas Jessi tegas. Matanya ditutupi dengan kedua telapak tangannya.
Theo membawa satu kotak kecil yang sudah dihiasi dengan pita. "Buka matamu, Sayang."
Perempuan itu membuka matanya secara perlahan. Tangannya meraih kotak yang diberikan Theo padanya.
"Apa ini?" tanyanya sambil membuka kotak tersebut dengan takut-takut.
Deg
Matanya terpaku pada sebuah benda yang sama dengan yang Theo miliki. Sebuah kunci mobil berada disana.
Garis bibir perempuan itu terangkat sedikit demi sedikit, "Kau memberiku mobil? Dimana mobilnya?" Tanyanya penasaran.
"Kenapa tersenyum begitu, hmm? Senang? Padahal sedari tadi kau cemberut dan mengabaikanku terus." Balas Theo dengan bersedekap.
Perempuan itu mendekat dengan senyum mengembang menghiasi bibirnya. Tangannya bergerak otomatis memeluk pinggang suaminya. "Memangnya kapan aku mengabaikanmu, Sayang? Dimana mobilku?"
"Disebelah mobilku tadi. Mobil yang berwarna putih. Kau tidak melihatnya?" jawabnya dengan tangan yang membelai bongkahan padat dibalik rok Jessi.
Mata Jessi berbinar dengan sempurna. Dia begitu senang mendapat hadiah sebuah mobil yang memang sudah diinginkannya sejak dulu.
"Aku melihatnya tadi. Kau tidak sedang berbohong 'kan? Sayang, kau baik sekali ...."
Lelaki itu berpura-pura sedang berpikir keras. Matanya mengerling nakal kemudian. "Cukup untuk selalu mencintaiku dan tidak akan pernah meninggalkanku. Apa kau mau menyanggupinya?"
"Tentu. Aku mencintaimu ...." Bisik perempuan itu disela kecupannya yang bertubi-tubi.
Mendapat serangan yang mendadak membuat Theo begitu terlena dan semakin menikmati kegilaan yang diciptakan sang istri. Matanya terpejam dengan senyum yang mengembang.
***
Keduanya tengah bersiap-siap untuk menghadiri undangan makan malam dari Bibi Dora. Jessi menutupi tanda merahnya dengan alas bedak yang begitu tebal.
Mereka berangkat menuju sebuah restoran klasik di tengah kota. Restoran dengan nuansa jaman dahulu dipilih Bibi Dora kali ini.
Saat dalam perjalanan memasuki restoran, mereka berpapasan dengan Ibu Theo disana. Jessi lantas memeluk Ibu Mertuanya dengan erat.
Mata perempuan itu memicing dengan sempurna saat melihat sosok yang begitu dicemburuinya sedang berada di meja yang sama dengan Bibi Dora.
"Sebentar, Bu. Jessi ingin berbicara sebentar dengan Theo," pamitnya pada sang Ibu Mertua.
Ibu Theo mengangguk dan membiarkan mereka berbicara sebentar. Jessi mengajak Theo menjauh dari hiruk pikuk keramaian restoran malam itu.
"Ada apa, Sayang? Apa kau mau mengajakku melakukan sesuatu disini?" Theo memperhatikan keadaan di sekitar mereka yang terbilang cukup sepi.
Jessi memutar bola matanya malas. Tanpa basa-basi dia bertanya langsung ke intinya. "Kenapa ada Anin disana?"
Sementara Theo mencibir pertanyaan istrinya kali ini. "Mana aku tahu, Sayang. Ini 'kan acara Bibi Dora, bukan acaraku." Balasnya dengan singkat. Benar juga apa yang dikatakan Theo kali ini.
Jessi mengangguk, lalu mengamit lengan suaminya dengan erat. "Awas kalau sampai kau macam-macam, aku memperhatikan setiap gerak-gerikmu. Ingat itu!"
Lelaki itu begitu senang dengan perlakuan posesif istrinya. Dia merasa Jessi takut kehilangannya. "Siap, Nyonya!" Balasnya dengan menggenggam tangan istrinya.
Theo dan Jessi kembali memasuki restoran. Mereka bersalaman dan saling memeluk dengan Bibi Dora. Theo tersenyum singkat kepada Anin. Begitu juga dengan Jessi, yang hanya mengangguk tanpa tersenyum.
Kevin datang tidak lama kemudian. Lelaki itu baru saja kembali dari toilet. Dia berpelukan sebentar dengan sepupunya dan hendak berganti memeluk Jessi.
"Tidak perlu berpelukan dengan istriku!" Ketus Theo sembari menghalangi tubuh Jessi dengan tangannya. Sementara Kevin tertawa mencibir dan duduk di sebelah Anin.
Mereka makan malam dengan tenang dan damai. Sampai sebuah suara membuat beberapa insan manusia disana terkejut.
"Aku akan menikahi Anin. Aku ingin meminta restu kalian semua." Tegas Kevin dalam sekali tarikan nafas.
Bibi Dora dan Ibu Theo saling melirik satu sama lain. Sedangkan Jessi diam dan mencerna maksud ucapan Kevin.
Berarti perempuan itu akan menjadi saudara sepupuku? Kami akan selalu bertemu? Bagaimana jika dia masih berusaha merebut Theo dariku?