Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan



Happy Reading ❤️


"Aku sibuk berkencan dengan laptopku, Jess. Pekerjaanku sangat banyak hari ini. Aku hanya bercanda, jangan diambil hati begini," penjelasan Theo tidak merubah sedikitpun raut wajah Jessi.


"Ya Tuhan, berikan aku kesabaran yang lebih untuk menghadapi kekasihku yang suka uring-uringan seperti sekarang ini," ucap Theo dalam hati.


Jessi melengos saat mata Theo memandangnya. Biar tahu rasa Theo, salahnya sendiri kenapa membohonginya seperti itu. Theo berpindah tempat duduk ke sebelah Jessi, meraih salah satu tangan Jessi yang bebas.


"Jess, aku tidak berkencan dengan orang, tapi dengan laptop! Percayalah, aku hanya bercanda tadi," ucap Theo masih berusaha meyakinkan Jessi.


Jessi sama sekali tidak memperdulikan Theo, matanya masih saja melengos memilih memandang kearah lain. Desah nafas frustasi Theo terdengar di telinga Jessi. Segera ditariknya tangan yang masih digenggam Theo. Jessi semakin kesal, bibirnya mengerucut sebal seperti bebek.


"Kenapa kau sangat menyebalkan sekali? Tapi kau tampan, selalu ada untukku. Aku semakin menyayangimu," ucap Jessi malu-malu.


Theo terkekeh gemas melihat sikap Jessi yang tadi marah padanya, dalam sekejap berubah menjadi malu-malu begini. Theo tidak bisa menahan keinginannya lagi. Ingin sekali dia memeluk Jessi saat ini.


"Jess, apa boleh aku memelukmu?" ucapnya meminta ijin.


Jessi mendekatkan tubuhnya kepada Theo. Mereka saling memeluk dalam diam. Tidak ada satupun kata terucap. Hanya saling diam menikmati rasa rindu yang tersalurkan. Tak berselang lama ungkapan hati Theo semakin membuat Jessi mengeratkan pelukannya.


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Jangan pernah meninggalkan ku, Jess. Kau mau menikah denganku?" tanya Theo.


Jessi melepas pelukan mereka, lalu memandang dalam ke mata Theo. Tidak ada kebohongan disana. Jessi terharu akan ungkapan hati Theo yang baru saja ia ungkapkan.


"Yah, aku mau menikah denganmu."


Senyum mengembang terukir dibibir keduanya. Keheningan malam menjadi saksi atas Jessi yang setuju menikah dengan Theo. Tubuh mereka semakin dekat, hawa panas menguap dari dalam tubuh masing-masing. Hidung mereka saling bersentuhan dan bergesekan dengan mesra disana.


***


Dilain tempat, Garaa sedang bersama dengan calon istrinya yaitu Anna. Garaa sudah bertekad untuk membuka hati dan perasaannya untuk Anna. Karena sudah pasti Jessi tidak akan pernah kembali ke pelukannya lagi.


Anna senang bukan main saat mengetahui Garaa akan belajar menyukainya. Yah, meskipun belum dicintai tapi setidaknya Garaa akan berusaha menyukainya.


"Garaa, kau senggang besok? Tidak ada acara?" tanya Anna sambil memainkan tangannya seolah sedang menulis dipunggung Garaa.


"Hmm, kenapa memangnya?" jawab Garaa tanpa menoleh kepada Anna. Dia masih sibuk mengotak-atik ponselnya bermain game.


"Aku ingin menonton bioskop besok. Kau mau, kan?"


"Baiklah."


Garaa sebenarnya sedikit risih saat Anna menempel padanya. Tapi ia menghormati Anna yang kelak akan menjadi istrinya. Menghabiskan waktu dan sisa umur bersamanya.


***


Keesokan harinya Jessi berangkat bekerja bersama dengan Theo. Ia meminta dijemput dadakan, setengah jam sebelum jam masuk kantor. Tentu saja Theo tidak bisa menolak keinginan kekasihnya ini.


Satu menit, dua menit, tiga menit Jessi menunggu Theo yang sedang bertelepon dengan seseorang yang tidak ia ketahui siapa sebenarnya orang tersebut. Rasa bosan menyergap Jessi. Dia mengalihkan pandangannya kearah jendela. Tapi tetap memperhatikan jam yang berada dilayar depan ponselnya.


Tepat sepuluh menit Theo bertelepon dengan orang itu, Jessi benar-benar tidak suka diabaikan seperti ini. Dia sebenarnya ingin tahu Theo tadi bertelepon dengan siapa, tapi ia tidak akan selancang itu untuk mencampuri urusan Theo.


"Theo, aku ingin menonton bioskop nanti sehabis pulang kerja. Apa kau bisa menemaniku?" tanya Jessi pada Theo.


Theo diam saja tidak menjawab pertanyaan Jessi. Sepertinya pikirannya sedang berkelana diluar sana. Jessi mengulangi lagi pertanyaan yang sama dan masih sama yang didapatkan Jessi. Theo tidak menjawab, hanya diam menatap jalan lurus didepan.


Saat mobil memasuki area parkir, Jessi buru-buru turun dan sedikit berlari meninggalkan Theo sendirian. Theo jadi terheran-heran melihat Jessi berlari tanpa menunggunya. Theo tidak ambil pusing oleh tingkah Jessi barusan.


***


Hari berlalu dengan begitu cepat bagi orang yang menikmatinya. Dan begitu lambat bagi orang yang penuh gundah gulana. Seharian Jessi belum mengabari Theo, juga belum dikabari Theo. Dia akan maklum mungkin Theo sedang sibuk.


"Theo sedang apa, yqa? Apa dia sibuk bekerja? Atau jangan-jangan dia sibuk dengan orang yang bertelepon dengannya tadi pagi?" batin Jessi bertanya-tanya.


"Apa aku harus ke ruangannya? Melihatnya sendiri? Lagian kan sudah jam pulang kerja, pasti dia sudah tidak sibuk lagi. Ya sudah, aku kesana saja!" ucap Jessi dalam hati.


Jessi pamit pada dua temannya, Rin dan Elia kalau akan berkunjung ke ruangan Theo sebelum pulang. Mereka mengacungkan jempol dan berkata, "Kau pasti sudah jatuh cinta padanya, kau tidak bisa sehari tidak bertemu dengan Theo. Cepat menikah sana."


Jessi tertawa cengengesan menanggapi ucapan Rin. Dibalik tawanya, ia berpikir apa sudah benar perasaannya ini. Dengan langkah berlari riang gembira, Jessi menuju ruangan Theo.


Diketuknya pintu agak lama, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Apa Theo sudah pulang? Tidak menungguku? Apa-apaan ini!


Jessi berbalik pergi dan bertemu sekretaris Theo yang juga sedang berjalan ke ruangan Theo. Jessi ragu untuk bertanya pada sekretaris tersebut.


"Nona Jessi, kau mencari Tuan Theo?" tanyanya duluan.


"Iya, apa dia tidak ada di ruangannya?"


Jessi mendengarkan dengan seksama penjelasan sekretaris Theo. Dia berkata Theo sedang pergi keluar kota. Baterai ponselnya habis jadi tidak bisa menghubungi Jessi. Jessi mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan tersebut.


***


Jessi pergi ke bioskop seorang diri. Dia mengajak Rin, tapi Rin sedang berkencan dengan Brian. Jadi yasudah dia sendirian saja menontonnya. Dibelinya beberapa makanan ringan untuk camilan menonton film.


Garaa dan Anna sedang bergandengan tangan menuju bioskop. Mereka sampai setengah jam sebelum film dimulai. Setelah mengantri membeli tiket dan makanan ringan, mereka duduk bersebelahan menunggu ruang bioskop dibuka.


Saat Garaa sibuk memandang film yang dipromosikan di layar, matanya bersitatap dengan Jessi. Mereka saling berpandangan dalam diam. Jessi mengangguk sebentar lalu pergi mencari tempat duduk kosong untuk menunggu film dimulai.


Kenapa aku bertemu dengan Garaa dan tunangannya disini? Ini bukan seperti yang aku harapkan. Aku sudah punya Theo, aku tidak boleh bersedih lagi!


Jessi menengadahkan kepalanya keatas agar air mata yang sudah berada diujung tidak jatuh menetes di pipinya.