Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Mengikat Hatimu



Jessi menekuk mukanya karena malu digoda oleh beberapa rekan-rekannya. Dia memeriksa ponsel mengecek apakah ada pesan dari Theo. Nihil, tidak ada sama sekali.


Bagaimana kalau tiba-tiba pasukan penggemar Theo menyerang ku nanti? Ibu, apa yang harus ku lakukan?


Seharian penuh Jessi memilih untuk berada didalam ruang kerja. Saat jam istirahat dia memilih memakan bekal dari Ibu Theo daripada makan bersama seperti biasanya di kantin. Dia menghindari bertemu orang banyak.


Saat jam pulang kerja, dia juga pulang paling akhir bersama Rin dan Elia yang menemaninya. Berkali-kali tangan mungilnya mengecek ponsel berharap Theo mengirimnya pesan. Tapi, seharian Theo belum menghubunginya sama sekali.


Kenapa dia tidak mengahubungiku sama sekali? Apa aku yang harus menghubungi duluan? Tidak-tidak! Aku tidak mau menghubunginya duluan!


Jessi menggeleng-gelengkan kepalanya tanda dia tidak setuju jika harus menghubungi kekasihnya duluan. Sesampainya dirumah Jessi masih saja gusar saat melihat ponselnya yang diam saja tidak berdering juga bergetar.


Kenapa Theo masih saja tidak menghubungi ku seharian ini? Aku merindukannya.


***


Ditengah syahdunya dia melamun, Ibunya membuat kesadarannya kembali secara tiba-tiba. Nafas sang Ibu tersengal-sengal, bisa dipastikan kalau Ibu berlari menuju kamarnya tadi.


"Ada apa, Bu?" tanya Jessi khawatir.


Setelah keadaan sang Ibu lumayan membaik, dia berkata "Jess, diluar ada Theo dan Ibunya. Mereka bilang akan membicarakan masalah lamaran kalian."


Jessi menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari penjelasan sang Ibu. Dia berkaca dan sedikit membenahi rambutnya yang acak-acakan.


"Wah, cantiknya menantu Ibu," senyum mengembang Ibu Theo menyambut Jessi.


Jessi tersenyum kikuk membalas ucapan Ibu Theo yang tiba-tiba. Dia dan Ibunya duduk berseberangan dengan Theo dan sang Ibu. Matanya memandang kearah Theo yang tersenyum manis kearahnya.


"Ada apa ya, Tante? Kok tumben datangnya satu paket dengan Theo?" tanya Jessi penasaran.


Theo mendengus mendengar pertanyaan Jessi. Sebenarnya Theo sangat merindukan kekasihnya saat ini, karena seharian mereka belum bertemu. Tangannya mengode Jessi dengan gerakan memeluk dirinya sendiri.


Theo ingin dipeluk Jessi.


Jessi juga ingin memeluk Theo, dia benar-benar merindukan Theo. Hatinya sedikit dilema, apa mungkin dia sudah sepenuhnya yakin akan perasaan Theo padanya. Ataukah hanya karena tidak bertemu Theo seharian jadinya ia sangat merindukan lelaki yang sekarang berada di depannya.


"Begini Jess ... San, sebenarnya maksud dan tujuan kedatangan kami kesini mau bersilaturahmi saja. Sekalian kami ingin mengikat Jessi sebelum Jessi dilamar secara resmi oleh Theo. Theo takut Jessi diambil orang lain, San."


Jessi dan Ibunya saling berpandangan dalam diam. Apalagi saat mereka melihat Ibu Theo mengeluarkan gelang silver bertahtakan berlian kecil dari dalam tasnya. Mereka berpandangan lagi sampai hening beberapa saat.


"Theo, jelaskan padaku apa maksud semua ini?" ucap Jessi berkacak pinggang di depan Theo.


"Bukankah kau sudah dengar sendiri apa perkataan Ibuku? Apa jangan-jangan kau tuli?" balas Theo sarkastik.


"Kenapa memangnya? Kau tidak mau diikat dengan ku dalam hubungan yang lebih serius? Kau ingin bermain-main dengan lelaki lain?" tanya Theo saat Jessi diam saja tidak menanggapi ucapan darinya.


Jessi tahu akhirnya kalau Theo sudah berucap seperti ini. Dia akan cemburu dan marah-marah tidak jelas. Jessi memeluk Theo, menenggelamkan wajahnya di dada Theo. Menyalurkan semua perasaan rindunya pada Theo.


Theo balas memeluk Jessi dengan lebih erat. Bibirnya menciumi puncak kepala Jessi yang berada dalam dekapannya. Sedikit pergerakan dari tubuh Jessi membuyarkan pertahanannya. Untungnya Theo masih sadar dan segera melepaskan diri dari pelukan yang membuatnya terlena barusan.


"Ayo kita keluar. Aku takut terjadi sesuatu kalau berduaan denganmu dalam kondisi dan situasi yang mendukung begini," Theo terkekeh saat melihat rona merah menghiasi kulit pipi Jessi.


Jessi dan Theo mundur selangkah ke belakang saat berpapasan dengan Ibu Jessi di depan kamar. Seperti sedang tertangkap basah, Theo segera menjelaskan kalau dia dan Jessi hanya berbicara dan tidak berbuat yang aneh-aneh. Jessi tersenyum girang melihat Theo gugup seperti ini.


Theo memilih kembali duluan ke ruang tamu, meninggalkan Jessi dan Ibunya di belakang. Jessi menghela nafas panjang saat sang Ibu menatap tajam mata Jessi, seakan ingin menguliti Jessi hidup-hidup.


"Bu, aku dan Theo tidak melakukan apapun. Aku hanya berbicara sebentar, aku bersumpah. Jangan menatapku seolah aku tertangkap basah sedang berbuat mesum begitu, Bu!"


"Apa kau dan Theo berhubungan serius? Ibu tidak melarang mu berhubungan dengan siapapun, Nak. Ibu ingin yang terbaik untukmu. Lihatlah, Ayahmu pasti akan senang mendengar kabar ini. Ibu akan menghubunginya nanti."


Binar-binar kebahagiaan terlihat jelas di mata Ibu Jessi. Mereka menerima gelang dari Theo sebagai tanda pengikat di hubungan Jessi dan Theo.


***


Malam semakin larut, sunyi semakin menyapa diluar sana. Ibu Theo memilih pulang terlebih dahulu karena Theo masih ingin tinggal dan berbicara sebentar dengan Jessi. Para orang tua meninggalkan ruang tamu yang menyisakan Jessi dan Theo berduaan.


"Kenapa seharian tidak mengabari? Kau sibuk?" tanya Jessi dengan garangnya.


"Aku sibuk berkencan seharian ini," jawab Theo bercanda.


"Berkencan?" raut wajah kaget beserta kecewa terlihat di wajah Jessi saat ini. Tubuhnya sedikit mundur menjauh dari Theo.


Theo yang menyadari kalau kekasihnya ini tidak bisa diajak bercanda segera meralat ucapannya. Bisa runyam kalau Jessi marah padanya.


"Aku sibuk berkencan dengan laptopku, Jess. Pekerjaanku sangat banyak hari ini. Aku hanya bercanda, jangan diambil hati begini," penjelasan Theo tidak merubah sedikitpun raut wajah Jessi.


"Ya Tuhan, berikan aku kesabaran yang lebih untuk menghadapi kekasihku yang suka uring-uringan seperti sekarang ini," ucap Theo dalam hati.