Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Kehilangan



Happy Reading 💜


Habis sudah kesabaran Ibu Theo setelah menunggu hampir selama satu jam dan Theo tidak menampakkan batang hidungnya. Beberapa asisten dia perintahkan untuk kembali ke rumah, meninggalkan dia sendirian yang menunggui Anin disana. Detak jarum jam di rumah sakit menjadi teman menunggunya. Berkali-kali matanya menoleh menatap jam dinding itu, waktu terasa semakin lama berputarnya.


Pukul dua belas tepat Dokter beserta beberapa Perawat keluar dari ruangan UGD. Ibu Theo tergopoh mendekati mereka. Raut wajah khawatir semakin terlihat saat beberapa dari mereka menunduk sambil menghela nafas yang dalam.


"Anda keluarga pasien?" tanya Dokter Bram. Begitu nama yang tertempel di dadanya.


Ibu Theo mengangguk cepat. "Apa keadaan calon menantu saya dan bayinya baik-baik saja, Dokter?" tanyanya cepat.


Hening. Tidak ada satupun Dokter atau Perawat yang menjawab pertanyaannya. Rasa semakin cemas dan khawatir menggerogoti hati sang Ibu. "Dokter, jawab pertanyaan saya!" ulangnya dengan tegas, namun tidak mengurangi raut kesedihan dalam wajahnya.


"Kami minta maaf, Nyonya. Salah satu diantara mereka tidak bisa diselamatkan. Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan bayinya. Ibunya sedang berada di ruang pemulihan. Setelah dua jam dia akan dipindahkan ke ruang perawatan." Seperti teriris pisau belati, hatinya begitu hancur mendengar perkataan Dokter Bram.


"Kenapa begitu? Kalian 'kan dokter, harusnya bisa menyelamatkan keduanya. Kenapa hanya salah satu? Kalau seperti ini sama saja kinerja kalian tidak becus!" bentaknya penuh amarah bercampur airmata yang menetes.


"Tenanglah, Nyonya. Itu bukan kuasa kami jika Tuhan menginginkan mengambil salah satu dari mereka. Kami sudah melakukan yang terbaik sebisa kami. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya dan kami turut berdukacita. Permisi." Dokter dan Perawat tersebut pergi meninggalkan Ibu Theo yang terpuruk sendirian. Meskipun dia belum menyayangi Anin tapi dia sangat menyayangi calon cucunya. Sesuatu yang sudah sangat dia inginkan dari Theo dan isterinya kelak.


Menangis adalah satu-satunya cara saat bibirnya tidak lagi dapat mengungkapkan apa yang hati kecilnya rasakan saat ini. Rasa sedih dan kehilangan membuat airmatanya menetes tanpa henti. Sesekali ponselnya ia usap, berharap ada pesan, atau panggilan masuk dari anak yang sengaja mengabaikannya seharian ini.


***


Theo bangun dari tidur nyenyaknya saat jam menunjukan pukul satu siang. Perutnya keroncongan karena seharian ini dia belum makan apapun. Dia mengusap matanya yang sedikit berair.


"Aku lapar," gumamnya perlahan.


Kakinya bergerak menuju kamar mandi untuk menyegarkan wajahnya terlebih dahulu. Setelah dirasa sudah segar, dia segera berbalik menuju kantin meskipun jam makan siang pegawai telah habis dan sudah pasti makanan disana pasti tinggal sedikit, bahkan bisa-bisa sudah habis. Tidak ada salahnya mencoba, tidak mungkin juga orang kantin tidak mau memberinya makan, 'kan dia yang punya perusahaan ini.


Sekretaris pribadinya mengangguk singkat saat bos besar melewati dirinya. Meskipun Theo terlihat cuek dan kadang mengesalkan saat marah, tapi dia cukup baik karena menggaji dirinya dengan gaji empat kali lipat dari pegawai biasa. Itu saja sudah cukup baginya. Tidak masalah tentang sikap bosnya, dia siap menghadapi apapun itu.


Sesampainya Theo di kantin, dia memesan sepiring nasi goreng, dua potong ayam goreng, dan segelas air es. Dia bosan minum soda terus-menerus. Tak sampai lima belas menunggu, semua pesanan sudah siap dihidangkan.


"Terimakasih. Saya makan dulu." Bibirnya berterimakasih tanpa ekspresi sama sekali. Kepalanya mengangguk kepada seorang penjaga kantin yang mengantarkan makan siangnya.


Theo sibuk mengunyah makanannya sampai dia tidak tersadar ada orang lain yang juga belum makan siang, sama seperti dirinya. "Bu, saya pesan jus tape satu, ya. Cepat sedikit, ya, Bu." Jessi belum makan siang juga rupanya. Kepalanya menoleh memperhatikan seisi kantin yang sudah kosong. Ahh tidak, masih ada seseorang yang makan siang rupanya. Postur tubuhnya seperti milik Theo. Apa mungkin itu Theo?


"Ini jus tapenya, Non Jessi. Selamat menikmati, ya," ucap penjaga kantin dengan suara agak keras.


Jessi sedang harap-harap cemas, jangan sampai Theo mendengar ucapan penjaga kantin tersebut. Tapi sialnya saat matanya menoleh, Theo sudah berada tepat disampingnya. Jessi mundur beberapa langkah ke belakang, "Kau mengagetkanku! Maaf, aku harus pergi dulu." Jessi menunduk sambil berjalan melewati Theo.


"Sebentar Jess, temani aku makan. Sebentar saja, please!" Theo menarik lengan Jessi mengikutinya. Keduanya duduk berhadapan, namun tidak saling berbicara. Theo sibuk melanjutkan makan siangnya dan Jessi sibuk menyeruput jus tape pesanannya.


***


Setelah menyelesaikan makan siang, Theo mengusap bibirnya dengan tisu yang sudah tersedia dimeja. Matanya memandang dalam kearah depan, memperhatikan Jessi yang menunduk saja sedari tadi. "Tatap mataku. Tunggu aku sebentar lagi, Jess. Aku akan datang padamu. Aku akan menyelesaikan urusanku dengan Anin secepatnya."


Menyelesaikan urusan dengan Anin? Apa maksudnya dia akan menikah dengan Anin? Ahh, sudahlah. Terserah! Aku tidak perduli lagi.


Theo kembali ke ruangan dengan wajah putus asa. Dirogohnya ponsel, lalu menekan tombol dial. "Kau sudah mendapatkan apa yang aku mau?"


"Bukankah nanti malam deadline yang kau berikan padaku? Aku hampir menyelesaikannya." Seseorang berdecak kesal diluar sana.


"Beritahu apa yang sudah kau dapat, cepat! Jangan membuatku marah!" ucap Theo dengan kesal.


"Aku sudah menyelidiki semuanya. Dia menghabiskan malam dengan bergonta-ganti pasangan disebuah hotel dekat dengan Hottie Club. Apa kau tahu kalau Club itu milik salah satu pegawaimu? Tanyalah pada dia. Dan aku juga mengecek hotel dimana tempatmu dan Anin malam itu. Dia meninggalkan hotel hanya berselang sepuluh menit dari waktu kedatangannya. Tidak mungkin 'kan kau dan dia berhubungan dalam jangka waktu sependek itu? Mengingat tabiatmu yang nakal sekali dengan perempuan, ha-ha-ha." Theo mendengus saat lelaki itu bilang kalau dia nakal dengan perempuan.


"Kau yakin informasi ini valid? Bisa dipertanggungjawabkan?" tanya Theo.


"Memangnya aku pernah berbohong padamu? Jelas semua yang kau dengar tadi benar. Aku akan mengirimkan bukti padamu. Jangan lupa uang yang kau janjikan padaku. Dalam jangka waktu sepuluh menit uang itu harus sampai ke rekeningku." Lelaki itu mengingatkan akan janji yang Theo tawarkan padanya. Setelah Theo mengiyakan sambungan telepon mereka terputus begitu saja.


"Beraninya kau membohongiku Anin? Kau akan menerima akibat perbuatan lancangmu ini. Aku akan membalasmu!" dendam Theo mendarah daging.


***


Theo melangkah dengan langkah tergesa-gesa. Alisnya menajam menunjukkan betapa marahnya dia saat ini. Ruangan Brian menjadi tujuan kakinya melangkah. "Dimana Brian?" Theo celingukan mencari keberadaan Brian disana.


"Dia sedang mengunjungi isterinya, Tuan," ucap salah seorang pegawai dengan tegas.


Tanpa berucap apapun Theo meninggalkan ruangan Brian. Sesampainya di ruangan Rin, kakinya agak ragu untuk masuk kedalam sana. Karena apa? Karena Jessi juga berada diruangan yang sama dengan Rin. Kepalanya melongok kedalam, lalu bertanya, "Ada Brian? Suruh dia keluar menemuiku."


Brian menoleh, lalu keluar menemui Theo. "Ada apa Theo? Tumben kau mencariku disini, bukan mencari Jessi?" Theo menggeleng dan langsung menyampaikan maksudnya. "Kau pemilik Hottie Club? Kau mengenal Anin?"


Brian mengangguk singkat. "Dia sering datang dengan lelaki berbeda hampir setiap malam. Aku kenal beberapa lelaki yang pernah menghabiskan malam dengannya. Mereka membicarakan Anin bersama-sama. Kau tahu? Anin seperti sedang dipermainkan mereka secara bergilir. Aku sedikit kasihan padanya." Theo mengangguk-angguk paham. "Aku akan menghubungimu nanti." Lelaki itu bergegas pergi menuju rumah sakit tempat Anin dirawat.


***


Anin sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Dia menangis sejadi-jadinya mengingat bayinya yang telah tiada. Dia juga menangisi akan nasib yang tidak berpihak padanya. Pasti setelah ini semakin besar alasan Theo tidak mau menikahinya.


Braakk


Suara pintu yang dibuka dengan keras mengagetkan mereka yang berada didalam. Anin dan Ibu Theo menoleh pada sumber keributan di pintu. Theo datang dengan alis yang mengkerut tajam, dadanya kembang-kempis dengan cepat. "Beraninya kau membohongiku perempuan sialan? Kau mencoba menghancurkan hubunganku dan Jessi? Aku tidak akan pernah memaafkanmu." Tunjuk Theo dengan kemarahan yang membabi buta. Ditendangnya ranjang Anin dengan keras. Braakk!!


Ibu menarik Theo dan memarahinya habis-habisan, "Apa yang kau lakukan? Kenapa kau marah pada Anin? Anin kehilangan bayinya, bayimu!" Theo terkesiap dan sedetik kemudian senyumnya mengembang. "Bagus kalau begitu. Aku tidak perlu lagi Ibu suruh menikahi Anin dan bertanggungjawab untuk menjadi Ayah untuk bayi yang bukan darah dagingku."


"Asal Ibu tahu perempuan sialan itu menghabiskan malam dengan bergonta-ganti pasangan setiap malam. Temanku adalah pemilik Club tempat dimana perempuan itu bergantian pasangan. Dan asal Ibu tahu juga dia hamil anak lelaki lain, bukan anakku!" ucap Theo dengan berapi-api. Ibu melongo mendengarkan penjelasan Theo.


"Apa benar semua yang dikatakan Theo? Jawab pertanyaanku!"