Jessi'S Loves

Jessi'S Loves
Mendiamkan Jessi



Happy Reading ❤️❤️


"Kalau kau masih saja tertawa, aku akan mendiamkanmu satu hari!"


Jessi yang mendengar ultimatum Theo semakin menambah kekuatannya untuk tertawa. Air mata menetes di salah satu sudut matanya. Jessi menghentikan tawanya saat melihat Theo menatapnya datar. Theo benar-benar marah padanya.


"Kau marah? Aku kan hanya bercanda, Theo."


Jessi memandangi wajah Theo yang masih saja datar. Fokusnya ke jalanan dan sama sekali tidak memperdulikan Jessi yang bertanya padanya. Jessi menghela nafas kasar dan membuang wajah memilih menatap jendela mobil.


Theo yang merasa Jessi sekarang berganti ngambek padanya diam-diam tersenyum samar. Sungguh sangat menggemaskan sekali kekasihnya ini.


Mobil menepi di depan rumah Jessi. Sore yang cerah, terlihat beberapa anak kecil berlarian tertawa bersama tanpa beban. Jelas saja karena mereka belum tahu kerasnya hidup seperti apa.


Ditempat duduknya Jessi masih memikirkan apa Theo serius dengan perkataannya yang akan mendiamkannya selama sehari. Jessi tidak perduli terserah apa maunya Theo. Rasa kesalnya berlipat-lipat sekarang.


"Aku hanya bercanda tadi. Terserah kau! Silahkan kalau mau mendiamkanku! Aku tidak perduli! Tidak usah berkencan nanti malam! Tidak usah berpacaran juga! Tidak usah menikah sekalian!" Jessi emosi sendiri jadinya.


Kakinya melangkah keluar dari mobil dan memasuki rumah tanpa menoleh sedikitpun kepada Theo yang masih menatapnya dengan senyum mengembang di bibir. Theo akan menarik ulur Jessi, biar nanti Jessi sendiri yang mencarinya.


***


Ponselnya bergetar terus-menerus saat dirasanya ada sebuah panggilan yang masuk. Sebenarnya Jessi malas melihat ponselnya, bisa jadi Theo yang menghubunginya. Ternyata Rin yang menghubungi dirinya.


"Ada apa, Rin?" tanya Jessi saat telepon sudah tersambung.


"Jess, maaf aku baru memberitahumu sekarang. Aku dan Brian akan menikah pekan depan."


"Rin, kau serius? Kenapa kau tidak pernah cerita padaku kalau kau dan Brian berpacaran?" cerca Jessi.


"Kami tidak berpacaran, kami akan berpacaran setelah menikah," pipi Rin bersemu merah di seberang sana.


"Ohh manisnya. Aku iri padamu, Rin," ucap Jessi menimpali.


"Salah sendiri kenapa tidak mau secepatnya dinikahi Theo. Sudah dulu ya, aku mau menghubungi Elia."


Dibolak-balikan ponsel Jessi setelah sambungan telepon dari Rin terputus. Dia ingin menghubungi Theo, tapi rasa gengsi menyergapnya.


Hubungi atau tidak ya?


Jessi menekan nama Theo dilayar ponselnya, tak lama kemudian terdengar suara Theo diseberang sana.


"Ada apa, Jess?"


"Theo, aku ingin memberitahumu sesuatu."


"Katakan, apa maumu?"


"Aku ingin menikah denganmu."


"Kau serius? Kau sudah yakin, Jess?" nada suara Theo berubah dari datar menjadi antusias. Jessi tersenyum menang di sana.


Emosi Theo tidak dapat ditahan lagi, sungguh keterlaluan apa yang dilakukan Jessi kali ini.


"Tidak lucu! Aku membencimu!" Theo memutus sambungan telepon secara sepihak. Dia tidak menyangka Jessi akan mempermainkannya disaat dirinya sedang marah. Apa yang dilakukannya sekarang justru semakin membuat Theo marah padanya.


"Yah, kok dimatikan sih? Apa Theo marah sungguhan, ya? Haduh, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?"


***


Jessi bangun dari tempat tidurnya dan berteriak histeris memanggil Ibunya. Ia bingung dan takut Theo akan meninggalkannya. Apa kau sudah mulai mencintai Theo, Jess?


"Ibuuuu ... Ibuuuu," teriak Jessi dari dalam kamar. Jessi pusing sendiri sekarang karena ulahnya Theo membencinya.


"Ada apa, Jess? Kenapa berteriak? Apa ada tikus?"


Ibunya berlari tergopoh-gopoh mendatangi Jessi. Masih mengenakan perlengkapan memasaknya, nafas terengah-engah akibat berlari.


"Jauh lebih seram daripada tikus, Bu," Jessi menggigit bibir takut-takut.


"Apa ada kecoa?" tanya Ibu lagi.


"Bukan, Bu. Theo membenciku sekarang, Bu. Apa yang harus ku lakukan?" Jessi menatap Ibunya nanar.


Ibunya mendelik menatap Jessi. Sungguh keterlaluan anaknya ini. Berani sekali mempermainkan Ibunya. Ibu berlalu pergi meninggalkan kamar Jessi dan kembali ke dapur.


"Hah, Ibu kira ada apa."


Jessi cemberut saat Ibunya sama sekali tidak membantu dirinya yang sedang galau akut. Hari semakin petang dan benar saja Theo tidak datang menjemputnya untuk berkencan. Batal sudah kencannya malam ini.


***


Keesokan harinya, Jessi berangkat ke kantor sendirian. Theo sama sekali belum menghubunginya. Dia memilih menaiki angkutan umum tadi dan berjalan gontai menuju ruang kerjanya. Ekor matanya melihat Theo berjalan tergesa-gesa di kejauhan. Ingin rasanya menyapa, tapi Theo pasti mengabaikannya.


Jessi menaruh barang-barangnya dan bertekad menghampiri Theo. Meluruskan kesalapahaman diantara mereka. Ia menitip absensi pada Rin dan berlari secepat kilat menuju cintanya.


Jessi mengetuk pintu ruang kerja Theo, menunggu sampai si empunya mempersilahkan dia masuk. Theo mendengar suara Jessi, dia berinisiatif mengecek CCTV dan benar saja ada Jessi di depan pintunya.


Theo membuka pintu tanpa sepatah katapun. Dia duduk kembali ke kursinya, mengabaikan Jessi mati-matian. Jessi merasa sekali kalau Theo mengabaikannya. Ia menghampiri Theo di kursi dan menghadapkan Theo padanya.


Jessi mencium Theo tanpa aba-aba. Meski hanya menempelkan bibirnya tapi itu sudah cukup membuat Theo fokus padanya.


"Aku kan mau mengabaikannya, kenapa malah dia sekarang menggodaku begini. Aku jadi tidak kuat, bagaimana ini?"batin Theo meronta-ronta.


"Kau yang memulai, ya! Jangan salahkan aku kalau aku bertindak lebih," ucap Theo memperingati.


Diseretnya tubuh Jessi ke pangkuannya. Theo membelai rambut Jessi, beralih ke pipi, dan berlama-lama menjamah bibir Jessi yang terbuka sedikit. Theo mencium bibir Jessi dengan ganas, sarat akan nafsu. Lidah mereka saling bertarung di dalam sana. Jessi melepas ciumannya saat nafasnya tidak beraturan. Theo menatapnya lembut dan menyunggingkan senyum lebarnya.


"Kau menang! Aku kalah! Aku terlalu mencintaimu, Jess!"