I'm Not Barren

I'm Not Barren
Briant dan Jane



Disebuah restoran yang berada ditepi pantai,Briant dan Jane sedang makan malam berdua dengan romantis.


Sesuai dengan janjinya setelah kakinya sembuh,Briant mengajak Jane untuk makan malam direstoran itu,dia juga menyewa restoran itu sehingga tempat itu menjadi tempat spesial untuk mereka berdua.


"Briant,ada apa ini?"


Jane merasa heran saat melihat restoran yang sepi,hanya terlihat para pelayan yang menyambut mereka.


"Tidak ada apa-apa,restoran ini aku sewa agar kita dapat makan malam dengan nyaman."jelasnya.


Briant tidak ingin sampai Jane tahu niatnya.


Briant menggangdeng tangannya dan menuntunnya masuk kedalam restoran itu.


Semenjak kejadian dirumah sakit Jane merasa sangat tidak enak hati,dia ingin menghindari Briant tapi dia sudah sangat terpikat pada pesonanya.


Dia juga merasa lega karena Briant tidak bertanya apa-apa waktu itu,dia sangat lega karena Briant hanya bersikap biasa saja saat dia kembali untuk melihat keadaannya.


Jane juga membantu Briant untuk latihan berjalan kembali,pernah satu kali tubuh Briant oleng dan jatuh dalam pelukannya.


Pria itu tiba-tiba menciumi bibirnya dengan lembut,semula Jane sangat kaget tapi pada akhirnya dia memejamkan matanya dan menerima cuiman pria itu.


Dari sanalah hubungan mereka mulai dekat,sedikit demi sedikit perasaan cinta dalam hati mereka pun muncul.


Dengan semakin dekatnya hubungan mereka,sedikit demi sedikit pula mereka mulai mengetahui masa lalu mereka masing-masing.


Karena rumah mereka yang dekat Jane selalu datang untuk menemani Siska dan melihat keadaan kaki Briant.


Ibu nya tentu saja senang,akhirnya putranya bisa melupakan mantan istrinya dan menemukan wanita yang baik.


Siska sangat berharap hubungan mereka dapat berjalan dengan lancar,saat Briant mengatakan rencananya untuk melamar Jane pada ibunya,waktu paruh baya itu sangat gembira.


Dia berdoa agar keinginan dan lamaran Briant dapat diterima oleh Jane.


"Briant,kau tidak perlu melakukan ini."katanya


Briant menarik kursi dan mempersilahkan Jane untuk duduk.


Restoran itu menghadap kearah pantai,dari sana para pengunjung dapat melihat deburan ombak dan pasir putih yang terhampar dengan indah.


Briant telah menyiapkan segela sesuatu nya untuk memberikan kejutan manis pada Jane.


Sebenarnya di sangat takut,takut Jane menolak lamarannya.


Tapi dia harus mencoba,dia telah bertekad untuk membuka lembaran baru dalam hidupnya dan tidak akan mengingat masa lalunya lagi.


Makanan sudah tersedia diatas meja dan mereka mulai menyantapnya,hati Jane masih dipenuhi tanda tanya,sebenarnya apa rencana Briant?


Alunan musik romantis mulai mengalun dengan lembut memenuhi ruangan itu.


"Briant,bisa kau beritahu aku,apa yang kau rencanakan?"tanya Jane saat makanan mereka telah habis dimakan.


Briant tersenyum dan memegangi tangannya.


"Jane,aku hanya akan menanyakan ini sekali pada mu,tolong jawab baik-baik permintaan ku!"pinta nya


Jane mengangguk.


Briant segera menunjuk keluar jendela,Jane memalingkan wajahnya mengikuti arah jari Briant.


Di luar,dipasir pantai yang terhampar terdapat beberapa lilin yang menyala yang membentuk sebuah tulisan.


Jane membaca tulisan itu dengan seksama.


Jane menutup mulutnya tidak percaya dan menatap kearah Briant.


Briant segera bangkit berdiri dan mengambil sesuatu dari sakunya,pria itu berluntut didepan Jane dan menyodorkan sebuah cincin untuknya.


"Jane aku tahu aku bukan pria yang sempurna,aku tahu kekurangan ku.tapi maukah kau menjadi pelengkap hidupku dan mengisi kekurangan ku?"


"Jika kau tidak bersedia,kau boleh membuang cincin ini!"


"Tapi aku harap kau mau menjadi pendamping hidupku."katanya


Air mata Jane jatuh dikedua matanya,dia tidak menyangka Briant akan melamarnya malam itu.


Dia tidak bisa berkata apa-apa,perasaan bahagia dan haru bercampur aduk dalam hatinya.


Briant menatap nya dengan bimbang,dia kira Jane tidak mau menerima lamarannya.


"Jane,apa kau bersedia menikah dengan ku?"tanyanya


Jane mengangguk,dia tidak bisa berkata apa-apa lagi karena hatinya dipenuhi dengan kebahagiaan.


Briant bangkit berdiri dan menarik wanita itu dalam pelukannya,dia sangat bahagia karena Jane mau menerima lamarannya.


Briant langsung menciumi bibir Jane dengan lembut,dia memeluk tubuh Jane dengan erat dan sangat merasa bahagia.


Para pelayan restoran yang melihat mereka bertepuk tangan untuk mereka.


Jane sangat malu dan menyembunyikan wajahnya di dada Briant,Briant tersenyum dan membelai rambutnya dengan lembut.


"Terima kasih Jane,terima kasih."bisiknya ditelinga Jane.


"Terima kasih mau menerima kekurangan ku"


"Terima kasih sudah mau mengerti dan menerima masa lalu ku."bisiknya lagi


Jane menggeleng.


"Aku yang seharusnya berterima kasih."


"Terima kasih mau menerima wanita seperti ku ini,aku kira kau akan membenci dan menghinaku saat mendengar masa lalu ku."katanya


Briant menggeleng,dia teringat saat Jane menceritakan masa lalunya.tentu saja dia sangat kaget saat mengetahui jika Jane pernah dijual oleh pamannya pada hidung belang saat usianya tujuh belas tahun.


Jane dipaksa untuk melayani seorang om-om mesum dan pria itu merenggut mahkota miliknya.


Saat menceritakan itu tampak jelas jika Jane sangat trauma mengingat itu,tapi walaupun begitu Briant tidak pernah mengungkit masa lalunya dan mempermasalahkannya.


Bukan saja Jane yang memiliki masa lalu tapi dia juga,hari itu juga Briant menceritakan masa lalu nya dan tentang dirinya yang tidak bisa memiliki keturunan.


Semula dia enggan menceritakan itu,tapi karena Jane berani menceritakan masa lalunya,lalu kenapa dia tidak?


"Terima kasih sayang,terima kasih."


Briant dan Jane saling berpelukan dengan erat.


Briant berharap dalam hati jika Jane lah wanita terakhir untuknya.


Dia berharap wanita itu akan menemaninya selamanya,selama-lamanya menemaninya sampai mereka menjadi tua bersama-sama.


Walaupun takdir kehidupan,jodoh dan kematian tidak ada yang tahu!


Briant dan Claudia berharap pasangan yang bersama mereka saat ini tidak akan meninggalkan mereka dan akan menemani mereka sampai akhir hayat mereka.