
"Kak.."tiba-tiba Claudia muncul dari balik pintu.
Wanita itu melihat kakak nya sejenak dan mempersilahkan pegawai hotel yang membawa makanan mereka.
Adam segera mematikan ponsel nya dan menghampiri adiknya itu.
"Kenapa begitu cepat?"tanya nya
"Kebetulan bertemu didepan."jawab Claudia.
Setelah pegawai hotel itu pergi Claudia kembali memandang kakaknya dan bertanya:
"Siapa yang mau kakak hancur kan?"tanya nya curiga
Adam menghela nafas nya dengan berat,padahal dia sengaja meminta Claudia keluar dari kamar hotel itu agar wanita itu tidak mendengar nya.
Tapi seperti nya adik nya mendengar dengan jelas perkataan nya.
"Bukan siapa-siapa."elaknya
"Kak,berhentilah berbuat kejam.lebih baik kakak segera menikah."
"Ya..nanti."jawab Adam seadanya
"Nanti kapan?keburu tua deh."ledek adiknya
"Hei...apa kau tidak tahu.pria itu semakin berumur semakin menawan."kata Adam sambil terkekeh pelan
"Kakak terlalu Pd,cepatlah makan kalau tidak wajah kakak akan menjadi tirus dan jelek."goda nya
Adam mengelus ujung kepalanya sejenak,dia sangat senang adiknya tetap ceria seperti biasa nya.seperti nya Claudia tidak begitu sedih dengan perceraian nya,tapi dia tetap tidak akan melepaskan Briant begitu saja.
Membayangkan apa yang dialami adiknya saja sudah membuat emosi nya kembali meninggi,untung nya tadi dia tidak menyebut nama Briant sehingga adiknya tidak tahu apa yang akan dia lakukan pada pria itu.
Setelah selesai makan,Adam keluar kebalkon yang ada dikamar itu sejenak,dia menghisap rokok nya disana dan mengetik beberapa pesan diponsel nya
Claudia tidak boleh sampai tahu rencana nya,jika sampai adiknya itu tahu maka akan dipastikan Claudia akan marah pad
nya.
Tapi semua ini dia lakukan untuk membalas semua sakit hati yang diterima adiknya dan dia tidak akan mengampuni orang yang telah menghina adik semata wayang nya itu.
Adam segera mematikan rokoknya dan kembali masuk kedalam kamar nya,dilihat nya adiknya sedang duduk melamun diatas sofa yang terletak didekat jendela.
Mata wanita itu menerawang jauh,entah apa yang sedang dipikirkan nya.
Adam menghembuskan nafasnya dengan berat,dihampiri nya adik kesayangan nya itu,di sentuhnya ujung kepalanya dan diajak-acaknya rambut Claudia dengan lembut.
"Apa yang kau pikir kan?"tanya nya
Claudia tersadar dari lamunan dan menggeleng pelan.
Padahal dia sedang memikirkan Kevin,pria itu telah berjanji untuk memberinya penjelasan hari ini.
Tapi dia sedang bersama kakaknya,apa yang Kevin lakukan saat ini?
Apa sekarang Kevin sedang menunggu nya?apa dia harus segera kembali kerumah?pertanyaan itu berputar dikepalanya.
"Claudia."panggil kakaknya yang sedang berdiri didepan jendela yang tidak jauh darinya.
"Aku telah memikirkan nya,sebaiknya kamu ikut kakak ke inggris.disini tidak ada yang menjaga mu,lagi pula tidak ada yang perlu kamu pertahankan lagi."kata pria itu
Claudia menundukkan kepalanya dan *** jari-jari nya.dia kembali teringat dengan wanita cantik yang bersama Kevin ditoko perhiasan kemarin.
Benar kata kakaknya,tidak ada yang perlu dia pertahan kan lagi.semua telah selesai,hubungan nya dengan Briant telah lama berlalu.dan sekarang,sepertinya hubungan nya dengan Kevin pun telah selesai karena pria itu sudah mendapat ganti nya.
"Baik lah kak,aku akan ikut kakak ke inggris."katanya dengan nya berat hati
"Bagus.kakak berjanji akan menjaga mu dan tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti mu lagi"kata Adam.dia begitu senang kali ini adiknya mau ikut dengannya.
"Aku akan mengurus semua nya,malam ini menginap lah dihotel.besok kita pergi kemakam ayah dan ibu."kata pria itu lagi
Claudia mengangguk,mungkin keputusannya sudah tepat meninggalkan semua nya dan memulai lagi yang baru.
.
.
.
.
Sedangkan saat itu,setelah mengantarkan Anabels.Kevin kembali lagi kerumah Claudia,dia sudah menunggu wanita itu sampai malam tapi belum juga ada tanda-tanda keberadaan nya.
Rumahnya gelap bertanda memang wanita itu sedang tidak ada,Kevin juga sudah menghubungi Claudia berkali-kali tapi ponsel wanita itu sedang tidak aktif.
Dia sangat khawatir dengan wanita itu,sedangkan dia belum begitu tahu apa Claudia punya kerabat atau tidak ditempat itu.
Kevin menunggu didepan rumah Claudia dengan frustasi,padahal dia kembali kesana untuk menjelaskan kesalah pahaman mereka.
Dia pikir hubungan mereka akan lancar tanpa hambatan,walaupun ayahnya tidak setuju tapi dia sudah siap meninggalkan semua nya demi wanita itu dan membawa nya ke inggris.
Dia bukan tipe orang yang bergantung dengan orang tua,walaupun dia tidak mewarisi perusahaan ayahnya tapi dia dapat membangun perusahaan sendiri dengan mudah.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam tapi dia masih setia menunggu disana didalam mobil nya.
Kevin takut jika dia pergi dari sana tiba-tiba Claudia malah kembali sehingga mereka berselisih jalan.
Dia tidak perduli berapa lama lagi dia akan menunggu,yang pasti dia akan menunggu sampai esok pagi.
Besok dia harus pergi ke jepang selama seminggu karena ada rapat penting yang tidak bisa ditunda nya,jika dia tidak menjelaskan hari itu juga Kevin khawatir saat dia kembali nanti Claudia akan semakin membenci nya.
Besok dia juga tidak punya waktu untuk pergi ke kantor karena dia harus berangkat jam tujuh pagi,satu-satu nya pilihan untuk nya adalah menunggu wanita itu kembali.
Malam semakin larut dan Kevin mulai merasa mengantuk,pria itu menarik nafas nya dan memejam kan mata nya.
"Claudia,kemana kau pergi?"tanya nya dalam hati.
Kevin sangat lelah dan tanpa sadar dia tertidur didalam mobil nya.
Ke esokkan harinya dia terbangun mendengar bunyi alarm dari ponsel nya,Kevin segera membuka mata nya dan mematikan alarm diponsel nya itu.
Pria itu menghela nafas nya kecewa saat melihat rumah Claudia yang masih gelap.
Sudah tidak ada waktu lagi karena dia harus mengejar penerbangan nya,pria itu segera menyalakan mesin mobil nya.
Dengan berat hati dia meninggalkan tempat itu dan mungkin minggu depan dia harus extra berusaha untuk meyakinkan Claudia dan dia berharap wanita itu mau mendengarkan penjelasan nya.